4 Bingkisan Natal Yang Tak Pernah Sampai

Sabtu, 14 Desember 2019


Gambar dari sini 
 

Aku termangu saat aku menyadari Rara tak ada lagi. Bingkisan Natal  ini masih aku pegang . Hatiku berdebar kencang , nafasku memburu . Aku tak pandai untuk menutupi perasaanku. Perasaan kecewa. Mengapa Rara harus pergi? Aku hanya ingin bersahabat dengannya.
            “Maaf Tora, Rara memutuskan untuk tinggal di neneknya di Belanda,”tukas ibunya.
            “Oh, begitu ya. Aku pulang dulu.” Aku melangkahkan kakiku perlahan dengan sejuta rasa yang membuat hatiku perih. Sangat perih. Berapa tahun kita berteman? Kau pergi tanpa kata, tanpa pernah mengucapkan selamat tinggal padaku. Apa salahku Ra? Sampai-sampai kamu melarang ibumu untuk memberikan alamatmu di sana. Aku bingung Ra, salah aku apa? Tolong jawab sekali saja, agar aku tahu kesalahanku. Agar aku bisa memperbaiki diriku. Pasti akan aku ijinkan kau pergi? Tapi kini aku hanya menyimpan perih di hati. Luka yang menganga ,berdarah. Engkau pintar menorehkan luka Ra, padahal aku tahu dulu engkau tak begitu Ra. Tapi sekarang mengapa kau begitu padaku? Apa salahku Ra? Tak habis-habisnya aku menyesali kepergian Rara. Rara teman kecilku, teman yang selalu ada untukku.

            Aku  selalu ingat Rara. Dia teman kecilku. Teman bermainku. Kalau tak aku yang main ke rumah Rara, pasti Rara yang main ke rumahku. Sampai aku menginjak remaja. Pertemanan berlanjut terjalin . Aku selalu merasa nyaman dengannya. Rara itu apa adanya. Dia selalu jujur padaku.
            “Lihat Ra, bisa gak kamu ngalahin aku nangkap belut,”tukasku sambil menunjuk belut-belut yang banyak di sawah milik pak RT.
            “Bisa, apa susahnya.” Dan setelah hitungan ketiga, aku dan Rara mulai berlomba menangkap belut. Tak peduli tubuh kami kotor semua , hanya tawa yang terdengar di sawah. Berhenti setelah yang empunya marah karena kami merusak sebagian tanaman padinya. Kami berlari dengan sekantung belut di tangan. Kami tertawa bersama. Itu hanya salah satu kenangan aku bersama Rara. Setiap lebaran datang Rara akan datang ke rumahku. Dan saat natal tiba aku yang datang mengunjunginya. Itulah aku dan Rara. Persahabatan kami begitu akrab dan lintas perbedaan yang selalu menyatukan dalam kasih sayang. 
            “Pokoknya kita gak boleh berpisah,”begitu katanya padaku. Aku hanya mengangguk setuju. Ah,  selalu bahagia bersamanya.

            Desember selalu megingatkan aku dengan Rara. Ini sudah Desember ketiga Rara pergi tak pernah kembali. Aku selalu menunggunya datang tiap bulan Desember. Ingin sekali Rara datang untuk merayakan natal bersama keluarganya. Tapi ini sudah tahun ketiga dia tak datang. Aku menyingkap jendela. Aku pandangi jendela kamar Rara pagi ini. Aku ingin Rara ada di sana untuk datang padaku. Ah, Rara mengapa kamu putuskan persahabatan kita, mengapa Ra? Tiba-tiba aku melihat bayang-bayang Rara di jendela kamarnya. Aku tertegun. Rara? Aku bergegas turun dan mendatangi rumahnya.
            “Ada apa Tora?” Aku memandang ibunya
            “Rara datang natal ini?” Ibunya menggeleng sedih.
            “Entahlah Tora, ibu juga gak mengerti Rara kenapa. Dia tak pernah mau kembali ke rumah , ”keluhnya. Aku membalikan tubuhku dan kembali dengan bingkisan natal yang tak pernah sampai pada Rara. Bingkisan yang terus aku simpan sampai Rara yang akan menerimanya. Desember bagiku adalah harapan untuk bisa bertemu dengan Rara. Deseember bagiku bulan yang selalu aku rindukan seperti aku merindukan Rara akan datang untuk menjadi sahabat kecilku lagi. Aku akan selalu menunggumu Ra. Desember, nantikan aku lagi di tahun depan. Aku akan menunggumu!

0 Cintailah Aku

Sabtu, 07 Desember 2019

Gambar dari sini

Menapaki usiaku yang semakin tua, aku butuh rasa sayang darimu
Kian sumbang terdengar kalau aku hanya dijadikan sapi perahan
Tapi apa dayaku?
Aku tak mampu berbuat apa-apa

Bopeng ditubuhku kian membuatku menangis
Menitik deras tangisanku
Mengais harapan untukku
Apa aku masih mampu bertahan dan berdiri tegak?

Mesin-mesin itu merusakku, apa masih ada cinta untukku
Tolong cintailah aku
Engkau akan limbung akibat kerusakan alam
Engkau akan membawa dukamu kelak

Sedikit saja kau cintaiku
Jamahlah aku dengan cinta yang tulus
Sampai kau mau memeliharaku sampai aku tua
Aku pastikan kau pasti akan selamat, asal cintailah aku selamanya.....

Cirebon, 8 Desember 2019


0 Akhir Dari Sebuah Cerita

Sabtu, 30 November 2019


Gambar dari sini 
 

Tak aku sangka hari ini aku bertemu kembali dengan temanku Garin setelah sekian tahun tak pernah berjumpa . Setelah lulus kuliah tak pernah lagi bersua. Aku merantau ke kota Jakarta. Ah aku memandangnya sedikit iri. Garin tampak berbusana jas yang aku tahu berapa haga yang harus Garin keluarkan untuk jas itu.
            “Hai, sapaku,” sambil menjabat keras tangannya. Tangan Garin begitu kuat meremas tanganku. Rasa percaya dirinya tampak dari genggaman tangannya. Dari tampilannya aku tahu mungkin dia pasti jabatan tinggi di perusahaannya atau bisa jadi pemilik perusahaan.
            “Halo, Rangga ya,” tegurnya . Aku mengangguk kecil.
            “Sudah lama ya tak berjumpa. Kerja dimana?”
            “Itu di PT Agung Purnama,” tukasku cepat sambil menunjuk ke arah kantorku. Garin mengangguk .
            “Ok, kapan-kapan kita ketemuan ya. Hari ini aku sibuk. Bisa minta nomer teleponmu? “ Aku menganguk dan memberikan nomer ponselku. Aku berlalu dari hadapannya. Ririn mengejarku dan berjalan di sisiku.
            “Kamu kenal dengan pak Garin?”
            “Iya  dia teman kuliahku.” Aku memandang Ririn dengan pandangan heran . Mengapa dia menanyakan tentang Garin padaku.
            “Ganteng ya. Sudah ganteng , dia pemilik PT Global Angkasa.”  Aku hanya manggut-manggut saja. Ternyata dugaanku benar. Dari pakaian saja sudah bisa dilihat posisi seseorang di perusahaan. 

            Ponselku bergetar , tampak nomer yang tak aku kenal tampak di layar. Agak ragu untuk menerimanya.
            “Halo.”
            “Aku , Garin. Makan siang yuk. Aku tarktir ya. Di kafe depan kantor saja .” Aku mengiyakan saja. Toh tak ada salahnya bertemu dengan teman yang sudah lama tak ketemu. Sekalian silaturahmi. Aku ingat dulu sekali Garin adalah teman yang sangat sederhana. Dia dari kampung di gunung kidul. Hidupnya susah. Untuk kuliahpun dia bekerja serabutan. Pokoknya dia sosok pekerja keras. Walau Garin mendapat beasiswa tapi itu tak mencukupi, karena Garin perlu makan, bayar kosan. Apalagi hidup di kota Bandung yang memerlukan biaya yang tak sedikit. Ternyata sekarang dia bisa menjadi orang yang sukses. Pemilik perusahaan. Sungguh beruntung!!!! Aku??? Dari sejak kuliah hanya bisa menjadi karyawan. Karyawan kontrak. Setiap tahun harus berdebar-debar kalau-kalau saja tak diperpanjang kontraknya , masih harus berjuang mencari pekerjaan lainnnya.  Rumah BTN sederhana yang masih harus nyicil setiap bulannya. Hidupnya masih susah. Hampir setiap hari Rina, istrinya  mengeluh dengan harga-harag di pasar yang terus merangkak naik sedangkan gajinya tetap saja tak merangkak naik. Begitu juga dengan jabatannya. Kalau saja Rina tak membantunya mencari uang, mungkin uang gajinya tak cukup untuk hidup. Ah, mungkin sudah nasib hidupku seperti ini. Mengapa harus aku keluhkan,semua sudah punya takdirnya masing-masing.

            “Sudah lama? Maaf terlambat, masih banyak yang harus aku tandatangani.” Garin duduk di hadapanku.
            “Gak apa-apa. Jelaslah kamu direktur tugasnya pastilah banyak,”tukasku. Garin menyuruhku untuk memesan makanan. Aku melihat menu makan siang di kafe ini. Biasa makan di warteg belakang kantor, membuat aku bingung memlilih menu yang semuanya asing bagiku. Garin memberikan pesanan pada pelayan di sana. 
            “Betah kamu kerja di sana?” Ah, bagiku mau betah atau tidak tak aku pedulikan, yang penting aku bisa mendapatkan uang.  Garin menyuruhku untuk melamar saja di kantornya. Masih butuh tenaga komputer di sana. Aku hanya mengagguk saja. Tak lama Garin menceritakan semua hal tentang dirinya. Termasuk mengapa dia bisa menjadi pemilik PT Global Angkasa. Ternyata Garin menikah dengan anak pemilik PT Global Angkasa. Dan kini bisa menjadi miliknya seutuhnya.
            “Sungguh beruntung ya . Dapat anaknya juga dapat perusahaannya,” tukasku. Tapi aku melihat raut Garin berubah.
            “Kamu salah , Rangga. Apa yang dilihat , kadang tak sama apa yang dirasakan.” Garin terdiam lama.Aku menunggunya berbicara lagi. Lama Garin diam, sebelum dia melanjutkan ceritanya. Ternyata Garin mendekati Dina istrinya sekarang, juga punya maksud tertentu, agar dia bisa menajdi bagian dari perusahaan besar ayahnya. Aku sedikit terkejut , karena tak menyangka sikap Garin seperti itu.
            “Kamu terkejut ya?” aku tersenyum. Garin tak mau hidup susah lagi. Sudah cukup selama hidupnya dia harus mengais rejeki dengan pkerejaan kasar. Dia ingin mengubah hiudpnya tapi lewat jalan pintas.
            “Tapi tak semulus seperti yang aku harapakan,”selanya. Ternyata memang hidupnya berubah . Semua yang dulu ia tak miliki, sekarang bisa dia genggam . Tapi untuk itu ternyata diperlukan pengorbaan yang cukup besar. Pengorbana perasaan. Mertuanya tak mau kalau orang lain tahu dia punya besan orang miskin dari gunung kidul. Akibatnya sejak menikah Garin memutuskan silahturahmi dengan keluarga besarnya.
            “Jadi ,kamu tak pernah menengok atau apalah pada keluargamu?” tanyaku heran. Garin menggeleng lemah. Tampak air mata mengenangi bola matanya. Garin memalingkan wajahnya untuk menutpi air matanya. Aku terdiam lama.  Setelah lama terdiam, Garin melanjutkan lagi ceritanya. Bukan itu saja Garin harus menuruti semau perintah dari ayah mertuanya untuk menjalankan perusahaannya. Termasuk tak pernah membayar pajak seratus persen. Garin disuruh untuk kongkalikong dengan pegawai pajak  agar perusahaannya bisa bebas tak mebayar pajak seluruhnya. Aku terhenyak. Ini bukan sifat Garin. Dulu dia amat jujur dan santun. Semua bisa berubah .
            “Kenapa?”tanyaku heran.
            “Entahlah. Mungkin aku ingin cepat merubah nasibku. Tapi mungkin ini jalan yang salah. Tapi ini sudah telat aku berbalik arah.” Garin kembali terdiam lama.
            “Dan kamu tahu Rang. Sekarang aku lagi punya masalah besar. Karena aku sudah ketahuan tak bayar pajak dan ketahuan menyuap pegawai pajak.  Dan  aku sudah suap lagi ternyata kasus tetap dilanjutkan. Aku takut sekali,” tukasnya lemah.
            “Tinggal tunggu waktu. Aku bakal di penjara.”
            “Oh, aku tak tahu Garin. Aku baru tahu.” Bagaimana aku tahu. Mana sempat aku membaca koran. Aku sudah sibuk untuk mencari uang agar dapurku ngebul. Garin memegangi kepalanya. Aku tak tahu apa yang harus aku katakan.
            “Aku turut prihatin.” Hanya itu yang bisa aku ucapkan padanya. Cerita siang ini banyak mengubah cara pandang aku pada hidup ini. Semua yang terlihat indah di mata kita belum tentu sama seperti yang kita bayangkan. Intinya kita harus bersyukur dengan apa yang sudah kita punya.

            Sudah seminggu setelah pertemuan dengan Garin, aku mendengar cerita dari Ririn kalau Garin ditangkap KPK tadi malam. Aku terduduk lemas. Akhirnya Garin harus  berakhir di jeruji besi. Aku menceritakan tentang Garin pada Rina. Rina terdiam lama .
            “Kita memang tak hidup mewah. Tapi kita patut bersyukur. Kita gak pernah kekurangan. Belum tentu apa yang kita lihat bagus, bagus untuk hidup kita,”tukasku. Rina mengangguk menyeujui perkataanku. Cerita Garin membuat aku tersadar, untuk selalu hidup sesuai dengan tuntunan Allah Bukan hanya mengejar duniawi tapi kehidupan kelak juga harus kita kejar. Aku bersyukur dengan hidupku, jauh lebih bersyukur daripada sebelumnya.

0 Badai Pasti Berlalu

Sabtu, 23 November 2019



Gambar dari sini



Merindu bersama selalu ada dalam hatiku

Badai pasti berlalu

Jangan takut untuk menghadapi hari esok

Jangan terlena dengan dukamu

Bukalah hatimu

Aku rindu bersama lagi, berkumpul untuk bercanda



Tak akan sirna indahnya esok

Jika kita mau melangkah ke depan

Bekunya dinding hati akan mencair melihat mentari

Yang akan menyapa setiap pagi dengan asa baru

Jangan takut untuk bersama lagi

Asa terakhir hanya ada di keluarga



Mari tuntaskan rindu ini

Dengan bersama menikmati senja di pantai

Melihat warna langit yang berubah

Sampai kita yakin masih ada esok untuk harapan yang pasti

Nanti tak akan terasa lagi pahitnya hidup

Hanya suka saat bersama keluargamu



Cirebon, 24 November 2019