8 Tumbuhlah Tumbuh

Sabtu, 22 Agustus 2020

Gambar dari sini

Di Penghujung sore, kutatap dirimu
Masih hijau dalam kemilau sore hari
Sedikit redup karena senja mulai datang
Tapi aku mearsa dirimu mulai bertumbuh

Di balik kesendirian dalam senja
Aku menatap hijaumu
Kini mereka mulai bertumbuh
Perlahan tapi pasti

Tumbuhlah tumbuh sahabatku
Aku ingin kau tumbuh
Membuat hatiku bahagia
Tak sia-sia aku menanammu

Tenang akan kusiram dirimu
Di sore hari menjelang senja
Dan aku akan melihat dirimu
Akan terasa melembutkah hati

Jika kau tumbuh, berbunga bahkan menghasilkan
Aku akan merasakan surga dunia
Terbayang buahmu, terbayang bungamu
Dan bisa aku petik dengan suka cita

Cirebon, 23 agustus 2020

3 Menjadi Bahagia

Sabtu, 15 Agustus 2020

Gambar dari sini

Lia tersenyum miris saat semua orang begitu mengidolakan dirinya. Ya, Lia tahu di dunia bisnis namanya sudah terkenal. Kegiatan sosialnya juga membuat namanya terangkat . setingi-tingginya, tapi itu membuat hati Lia tak menentu. Bagaimana kalau masalah pribadinya ada yang tahu? Semua melihat dirinya adalah wanita yang sukses dan bahagia, tapi kenyataannya itu tidak. Popularitas kadang bisa membuat seseorang  menjadi terkukung. Tak boleh melakukan kesalahan sekecil apapun. Bila itu terjadi bakal jadi buah bibir dimana-mana. Menjadi guncingan orang banyak bukan hal yang mudah. Sudah banyak contoh. Bahkan masarakat bakal menguliti kita habis-habisan. Mereka gak mau tahu latar belakang yang kita hadapi, apa kita yang salah dan ingat kitapun tak menginginkan keburukan terjadi. Tapi kalau itu menjadi kehendak yang di atas, apalah manusia. Lia mematut-matut dirinya. Sekarang dia harus menghadiri seminar di balai kota.

Dulu Lia begitu menaggumi mas Rizal. Tampan, mapan, pengusaha sukses. Lia merasa mas Rizal pria yang mandiri dan punya kekuatan dalam dirinya, makanya Lia sangat suka. Apalagi saat benar-benar mas Rizal menyukainya. Dan akhirnya tanpa menunggu lama lagi pernikahan dilakukan. Dua pengusaha sukses . Serasa sempurna tampaknya dari luar. Ternyata Lia keliru. Mas Rizal adalah anak mami. Semua keputusan ada di tangan ibunya. Bahkan keputusan dalam rumah tangganya sekalipun menjadi kuasa ibunya. Dan mas Rizal sudah nyaman dengan nikmatnya di bawah ketiak ibunya. Sedangkan dirinya selalu berusaha melakukan dengan segala kemampuan dirinya. Kini semua keputusan ada di tangan ibu mertuanya. Bahkan apa yang terjadi dalam perusahaannya ibu mertuanya terlalu ikut campur. Dunia seperti terbalik. Lia muak dengan segala aturan yang lebih ke pencitraan bahwa mereka keluarga sukses . Lia tak mau menjadi orang lain. Lia cukup untuk menjadi diri sendiri. Dan akhirnya Lia meutuskan berpisah . Cukup 2 tahun Lia merasakan hidup penuh dengan tekanan . Dirinya tak bisa menjadi dirinya sendiri.  Walau Lia akhirnya menjadi pihak yang disalahkan. Istri yang tak bisa patuh terhadap suaminya.

Begitulah berita yang tersebar di media online. Segala buruk rupa tentang Lisa sudah menjadi rahasia umum. Mereka memperbincangkan tanpa mau tahu apa yang menjadi masalahnya. Dan Lia hanya bisa bersabar.
            “Nduk, yang sabar. Semua sudah ada yang ngatur . Hidupmu adalah hidupmu. Kamu perlu bahagia,” tukas mama
            “Terimakasih, mama. Kau selalu mengerti akan diriku.” Lia menaruh kepalanya di pundak mamanya. Mamanya yang selalu memberikan kekuatan sejak dia anak-anak sampai bisa mencapai impiannya. Mamalah yang selalu menganjurkan dirinya untuk bahagia dengan menjadi diri sendiri.
            “Untuk apa kau mendengarkan orang lain. Toh mereka bukan yang menjalani hidupmu. Ini hidupmu. Tak perlu dengar ocehan orang lain.”
            “Baiklah mama.” Lia juga tak peduli di luaran sana banyak yang memperbincangkannya. Status janda yang melekat pada dirinya tak menjadikan dirinya malu. Toh hidup ini dia yang menjalani. Mengapa harus mendengarkan orang lain . Menjadi dirinya sendiri selalu membuatnya bahagia. Apa toh hidup menjadi bahagia adalah impian setiap manusia.

5 Bolehkah Aku Menangis

Sabtu, 08 Agustus 2020

Gambar dari sini

Kadang sedih melanda hati
Belum tentu terlihat orang lain
Tapi air mata mentees perlahan tanpa disadari
Mata terpejam sambli meresapi kesedihan
Masa aku tak boleh menangis?

Air mata bukan tanda kelemahan jiwa
Tapi pemenuhan rasa ssak di dada
Biar keluar menenggelamkan rasa
Sehingga rasa ini bisa hilang
Terbawa air mata yang turun

Jadi bolehkah aku menangis
Saat hati tak bisa lagi menahan riak-riak yang ada
Sampai tertahan dalam sanubari
Tetap saja air mata turun
Lalu harus berusaha tegar?

Nangislah kalau itu menjadi pelampias jiwamu
Keluarkan rasa sedihmu dengan tangisanmu
Sebentar saja
Agar hatimu lega
Biarkanlah air mata membasahi pipimu sampai hati terasa lega

Cirebon,9 Agustus 2020

1 12 Tsuki-Chu Ni Bara (Mawar Di Bulan Desember )

Sabtu, 01 Agustus 2020


Gambar dari sini 
 

I’m soglad you made time see me
How’s life?tell me, how’s your family?
I havne’t seen them in a while
You’ve been good , busier than ever
We small talk, work and the weather
Your guard is up and I know why
Because the last time you saw me
Is still burned in the back of yaour mind
You gave me roses , and I left them there to die

            Lagu back to December mengalun merdu. Menyentuh hatiku paling dalam . Capucino hangat yang menemaniku masih terasa hangat di kerongkongan. Masih terdengar suara Taylor Swit mengalun di sela-sela hatiku. Kini semakin aku merasa bersalah. Aku pandangi kafe di tengah kota Osaka ini. Masih seperti dua tahun yang lalu saat aku meninggalkan kota ini. Lagunya Taylor Swift masih mengalun, tak terasa butir air mata mulai membasahi pipiku. Cepat kulirik kiri dan kanan takut ada yang memperhatikan. Setelah tahu tak ada yang memperhatikanku, aku mulai menyusut air mataku.  Sedikit isak kembali. Dan aku mulai menunduk saat beberapa mata mulai menoleh padaku. Apakah Arata akan datang menemuiku? Apakah dia akan memaafkanku? Aku sudah menyakiti perasaanmya, mungkinkah dia akan datang malam ini? Entahlah. Sudah satu jam aku menunggunya di kafe ini, Arata belum tampak batang hidungnya. Beberapa kali aku memandangi ponselku, tapi belum ada kabar sedikitpun darinya.  Aku mencoba menenangkan hati resah ini. Kalaupun Arata tak mau datang , aku bisa memakluminya. Aku telah menyakiti perasaanya...
            “Mau tambah lagi?” tanya seorang pelayan padaku. Aku mengangguk. Dan tak lama kemudian capucino hangat sudah berada  di atas mejaku.
            “Arigato,” tukasku sambil terus menundukan kepalaku. Pintu kafe terbuka. Aku menatap pria yang begitu aku kenal. Ah, Arata datang juga. Jantungku berdebar cepat , aku mulai tak bisa menguasai diriku lagi. Arata melangkah mendekati kursiku.
            “Ogenkidesuka?”  tanyanya sambil duduk di hadapanku.
            “Chodo bakkin,” tukasku gugup. Arata memesan segelas susu hangat. Dirapatkannya lagi jaket yang menutup tubuhnya. Matanya tajam menatapku.
            “Sore de, anata wa nani o shitaidesu.” Aku menunduk. Diam . tak satupun kata yang mampu aku ucapkan padanya. Gemuruh rasa takut dan penyesalan ada di lubuk hatiku. Maukah dia memaafkanku.
            “Watashi o yurushite.” Arata memandangku tajam. Aku melihat matanya sendu. Aku tahu hatinya terluka.  Aku kembali menunduk, aku tak sangggup melihat matanya. .... Masih mengalun lagu yang membawa kenanganku dua tahun yang lalu.....

            Aku mengenal Arata , pria Jepang dengan kulit yang lebih gelap dibanding pria Jepang lainnya. Arata seorang atlet bastket yang juga berkuliah di Osaka University. Tak sengaja bertemu di perpustakaan saat meminjam buku. Perkenalan yang sederhana . Arata sering mengunjungiku di asrama  Mungkin saat musim semi tiba saat bunga sakura mulai bermekaran, begitu juga cintaku bermekaran. Tawa Arata yang selalu menggema di hati. Saat pertama kalinya Arata menyatakan cintanya di depan pohon sakura yang bermekaran. Begitu indah bagiku.
            “Aishiteimasu,” lengannya memeluk bahuku. Aku mulai menyandarkan kepalaku pada dadanya. Kudengar detak jantungnya bergemuruh keras. Aku menikmati saat-saat itu.
            “Utsukushi sakura,” tukasku sambil menikmatui debaran jantung Akara. Kupejamkan mataku. Indah sekali saat itu. Cinta dua hati. Cinta yang begitu indah boleh mampir . Di sini, di hatiku.  Masa-masa indah yang tak pernah aku lupakan bersama Arata.

            Foto-foto kebersamaanku dengan Arata banyak aku upload di facebook. Sampai suatu saat aku mendapat telepon dari mama.
            “Gimana kuliahmu, Nara?”
            “Baik-baik saja mam.” Mama menanyakan seberapa dekat aku dan Arata. Ah, ternyata mama sudah bisa melihat kedekatanku dari foto-foto yang aku upload.  Saat itu aku hanya terdiam.
            “Nara, dia berbeda denganmu dalam segala hal. Mama ingin kau tahu itu, sulit bagimu untuk bisa bersatu dengannya. “ aku tak banyak bicara, hanya terdengar suara mama yang semakin membuatku pening. Aku terduduk lemas.
            “Nara, kau masih di sana?” tanya mama.
            “Iya mam.” Semua perkataan mama tak lagi aku gubris , aku sudah tahu . Mama tak setuju. Air mataku perlahan turun. Entah tiba-tiba aku merasakan akan kehilangan Arata. Aku takut!

            Setiap aku dekat dengan Arata ada rasa sakit di dada. Aku tak pernah memberitahu Arata tentang ketidaksetujuan mama padanya. Aku tak ingin kebersamaan dengannya hilang karena mama. Aku masih ingin selalu bersamanya. Perlahan  mama selalu mendesakku untuk menjauh darinya. Bahkan mama menyuruhku untuk kembali dan meneruskan kuliah di Indonesia saja. Pesan mama yang aku tak mungkin menolaknya. Aku tak mau jadi anak durhaka.Aku pasrah!. Maafkan aku , Arata. Aku harus meninggalkanmu......
            “Aishiteimasu,” begitu kembali Arata ucapkan padaku dengan buket mawar merah diberikan padaku . Di kafe Ohin kembali Arata nyatakan cintanya. Aku tak mampu lagi bertahan. Semua pertahananku hilang. Aku menangis. Arata memandangku heran. Arata menatapku tajam. Masih bersimbah air mata, aku bawa mawar itu dan berlari dari sana. Terus aku langkahkan kakiku , terus berlari menjauh darinya. Selamat tinggal Arata, aku akan selalu mencintaimu. Selalu......

            Ternyata sekembalinya aku ke indonesia, aku tak mampu menghilangkan bayang-bayang Arata. Dia selalu datang dalam mimpi-mimpiku. Aku tahu mungkin saat itu Arata marah padaku yang meninggalkanku tanpa sepatah katapun aku keluarkan. Perasaan bersalah selalu menghinggapi diriku. Selalu perasaan bersalah itu menghantuiku setiap malam. Malam-malam penuh kerinduan dan malam-malam penuh penyesalan. Membayangkan Arata dengan kemarahannya. Itu membuatku sakit. Aku tak mampu lagi bertahan sampai aku jatuh sakit. Mama menatap sedih. Aku hanya memalingkan wajahku. Aku memang  kehilangan cintaku demi mama. Aku tak mau membangkang. Sampai batas kekuatanku bertahan , aku masih saja merindu padamu Arata. Masih.. Sampai akhirnya mama menyerah. Aku tersenyum. Aku akan datang kembali ke Osaka, untukmu Arata.......

     Aku tersentak kaget saat Arata berdeham keras. Aku menatapnya dengan mata penuh air mata.               Arata masih diam. Masih marahkan dia padaku? Hatiku terguncang, Arata memilih tetap diam. Aku tahu Arata marah tapi semarah itukah dia padaku. Apakah cintanya sudah hilang?   
 “Anata ga inakute sabishidesu.” Diam lagi. Masih saja lagu itu mengalun lembut. Kenangan Desember yang tak pernah aku lupakan. Diam-diam aku menangis kembali, aku tahu aku salah. Mungkin Arata tak mau memaafkan aku. Aku tahu. Aku harus pergi untuk yang kedua kalinya.
 “Watashioyurushite. Watashi ga ikanakereba naranai,” tukasku sambil berdiri 
 “Oyasumi.” Aku berlalu dari hadapannya. Aku mengharap Arata memanggilku. Sampai pintu aku tak mendengar suara Arata lagi. Aku tak akan membalikan tubuhku lagi. Selamat jalan cinta. Akan aku kuburkan dalam-dalam cerita cinta. Aku tak mau menangis lagi. Aku salah. Aku telah menyakitinya. Aku tahu. Aku melangkahkan kakiku cepat-cepat. Udara malam begitu dingin, kurapatkan jaket di tubuku. Sepi 
 “Nara,” teriak Arata dari arah belakang. Aku membalikan tubuhku. Senyum Arata mengembang. Aku tahu Arata sudah memaafkanku. Senyumku mengembang.
 
 
12 Tsuki-Chu Ni Bara = bunga mawar di bulan desember
Arigato = terimakasih
Ogenkidesuka = apa kaabrmu
Chodo bakku =baik-baik saja
Sore de, anata wa nani o shitaideru = jadinya mau apa.
Watashi o yurushite = maafkan aku
Aishiteimasu = aku mencintaimu
Utsukushi sakura = indahnya sakura
Anata ga inakute sabishidesu =aku rindu padamu
Oyasumi = selamat malam