0 Misteri Kelokan Gronggong

Jumat, 01 Mei 2020


Gambar dari sini

Masih terduduk lemas tak berdaya. Riska termenung sekejap sebelum air matanya jatuh perlahan. Dinda telah tiada. Baru saja Riska mendapat kabar kalau Dinda mendapat kecelakaan di daerah Gronggong . Riska masih terduduk lemas dan tak sadar kalau Beni sudah berdiri di belakangnya. Tangan Beni terulur dan lembut mengelus bahunya.
            “Ini sudah takdir Allah, Riska. Semua kembali padaNya. Tak ada yang akan tahu kalau kita akan mendapat kecelakaan, “tukas Beni. Riska menyusut air matanya perlahan dan sedikit berbisik samar-samar masuk ke telinga Beni.
            “Harusnya dia mendengarkan aku, Ben. Jalan itu sudah banyak memakan korban . Dinda nekad pergi malam itu, hanya untuk laki-laki bejat yang gak tahu diuntung.”  Beni mengernyitkan dahinya, tak mengerti apa yang dimaksud Riska..
            “Maksudmu apa?” Riska menoleh pada Beni dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Beni tahu Riska masih syok, dia tak mau mengganggu terlalu lama. Beni pamitan dan menyuruh Riska untuk beristirahat.  Riska masih saja belum bisa memicingkan matanya. Masih teringat dirinya melarang Dinda untuk pergi malam itu. Apalagi saat itu hujan lebat. Tapi Dinda tetap memaksanya, karena ingin meminta penjelasan Raka tentang perempuan yang sedang dekat dengannya. Andai saja Dinda  tak nekad malam itu mungkin saja Dinda masih hidup. Dinda terlalu  mencintai Raka walau sudah berapa kali Riska mengatakan untuk pergi meninggalkan laki-laki yang tak menyayanginya. Dinda tak penah percaya kalau Raka adalah pria yang gemar bemain -main dengan cinta.  Riska kembali harus menyursut ai matanya. Ah, sahabatnya ini selalu malang nasibnya....

            Kelokan 16 di Gronggong jalan menuju Kuningan memang sudah terkenal angker. Sudah banyak terjadi kecelakaan di sana yang selalu memakan korban .Terutama pada malam hari. Baru sebulan lalu tersiar kabar kecelakaan misterius di kelokan 16 yang memakan korban. Anehnya tubuh kroban terlihat terbakar . Hitam. Padahal mobilnya tak mengalami kebakaran , hanya penyok di bagian depan saja. Dan itu selalu menjadi misteri yang tak pernah terpecahkan. Kejadian yang sama , di tempat yang sama dan berlangsung malam hari. Entah mengapa, semua tak pernah terbuktikan karena hampir semua kecelakaan di sana , selalu berujung maut. Tak satupun bisa diselamatkan sehingg tak  pernah ada saksi  satupun. Semua hanya sebatas misteri yang kadang jadi bahan pembicaraan dan menghilang dan akan kembali diperbincangkan saat terjadi lagi kecelakaan di sana. Ada rasa penasaran pada diri Riska. Ada apa di kelokan 16  Gronggong. Padahal di daerah Grongong tersebut daerah  yang mempunyai ketinggian yang cukup tinggi sehingga dari sana bisa melihat kota Cirebon di bawahnya. Dan akan terlihat cahaya lampu kerlap kerlip saat malam hari tiba. Pemandangan yang indah. Banyak orang yang berjualan di sana . Sangat ramai apalagi kalau malam minggu atau hari libur. Tapi mengapa di sana di temapt yang tinggi yang bisa melihat keindahan kota Cirebon ada misteri yang tetap menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada suatu yang menggelitik di hati Riska. Entah apa itu...

            Pemakaman Dinda pagi itu begitu sendu. Suara tangisan terdengar. Ratapan keluarga Dinda begitu menyayat hati Riska. Tak sadar berkali-kali Riska harus menyusut air matanya yang turut  perlahan. Beni mengelus pundak Riska.
            “Jangan menangis. Dinda sudah bahagia di sana.” Beni merangkul pundak Riska untuk menguatkannya. Justru itu membuat Riska kembali terisak. Tiba-tiba suatu yang mengelitik hatinya kembali mengusik. Ada sesuatu yang mendorong dirinya untuk menyelidiki kelokan 16 itu. Kelokan itu seperti memanggil-manggil dirinya untuk datang ke sana. Seperti saat itu, ada cahaya yang menusuk bola mata Riska dan seraya menyuruhnya untuk datang menghampiri cahaya itu. Tapi saat itu Riska masih belum bergeming. Situasi yang belum bisa membuat Riska untuk bergerak. Tapi malam hari Riska terbangun dengan keringat yang mengalir deras di sekujur tubuhnya. Sinar itu membangunkan dirinya , menyuruhnya untuk mengikutinya. Dengan berdebar Riska mengikuti cahaya itu . Masih dengan pakaian tidurnya. Sinar itu bergerak perlahan dan keluar rumah. Riska melihat cahaya itu bergerak cepat dan Riska masuk ke dalam mobilnya dan segera mengikuti cahaya itu. Riska tak menyangka cahaya itu bergerak menuju daerah Gronggong. Hati Riska berdebar kencang karena cahaya itu menuntun dirinya ke kelokan 16. Tiba-tiba saja cahaya itu bertambah terang . Riska mengerem mobilnya begitu mendadak. Tapi Riska masih sadar sehingga dia masih bisa mengendalikan mobilnya. Riska terantuk keras dan kepalanya terasa pening. Riska memegang kepalanya yang mulai berdenyut. Tapi perlahan di luar sana terlihat pemandangan yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Riska melihat mobil Dinda berada di depannya. Dan Riska melihat ada pria  mendorong tubuh Dinda keluar dan mencekik lehernya dan merebahkan tubuhnya di depan kemudi. Mobil ditabrakan ke pohon yang berada di sisi kiri sampai ringsek. Mata Riska membesar dan ketakutan mulai menjamah dirinya. Tangan Riska gemetar , Riska berusaha mencari ponselnya . Riska meraba-raba . Untungnya ponselnya ada di saku celananya. Riska menelpun Beni.

            Riska masih terbaring di tempat tidurnya. Pagi itu sarapan bubur hangat membuat tubuhnya kembali menghangat setelah semalam dirinya begitu ketakutan.
            “Kamu gila Riska. Apa-apan kamu ke sana malam-malam sendiri,”tegur Beni. Beni tampak gusar. Riska bingung apa yang harus diceritakan pada semuanya. Mereka tak mungkin percaya terhadap apa yang telah dilihatnya. Dinda bukan mati karena kecelakaan tapi Raka yang telah membunuhnya. Raka. Tapi apa mereka akan percaya padanya?. Mama menatapnya dengan pandangan ingin tahu. Riska menceritakan semuanya yang dia alami tadi malam. Tak ada satupun yang terlewati. Mama dan Beni menatap Riska tak percaya. Riska tersenyum kecut. Dugaannya benar , tak ada yang mempercayainya
            “Percayalah. Aku sendiri tadinya tak mau percaya. Cahaya itu menuntunku agar aku tahu kebenarannya, kalau Dinda bukan mengalami kecelakaan tapi dibunuh Raka.” Riska terdiam lama. Sebelum ada sinyal yang menyala di pikirannya. Riska berdiri dan cepat berganti pakaian dan berlari ke arah mobilnya.
            “Riska, mau kemana kamu. Riska,!”teriak mama dan Beni bersamaan. Riska tak mendengarkan mereka. Dia terus berlari dan masuk ke dalam mobilnya. . Sebelum pintu tertutup tangan Beni sudah menghalanginya.
            “Aku ikut.” Riska menyuruh Beni untuk masuk dan ditancap gasnya menuju ke tempat yang Riska tahu harus cepat ia datangi. Beni melihat dengan pendangan ngeri melihat Riska mengemudikan mobilnya dengan tergesa-gesa Riska tak mempedulikan Beni, dia tetap fokus dengan mobilnya. Riska berhenti tetap di depan rumah Raka.
            “Ini rumah Raka kan? mau apa kamu? Kamu gak bisa menuduhnya begitu saja hanya karena kamu melihatnya dalam bayang-bayang semumu. Ini bisa dianggap menuduh tanpa bukti,”tegur Beni marah. Riska memandang Beni sekilas
            “Beni, biar aku yang menyelesaikannya. Ini urusan aku dengan Raka.”tukas Riska
            “Gak begitu Riska.” Tapi Riska sudah membuka pintu mobil dan menuju rumah Raka. Raka  tampak terkejut melihat kedatangan  Riska dan Beni. Dipersilakan mereka duduk. Riska tampak gusar dan memandang tajam pada Raka. Sementara Raka sedikit gelisah melihat tatapan Riska.
            “Ada apa ya?”tanya Raka.
            “Waktu Dinda kecelakaan , kamu ada dimana?” tanya Dinda. Raka terkejut dengan pertanyaan Riska. Ada kegugupan dalam nada suaranya. Cahaya itu tiba-tiba saja muncul dan cahaya itu memperlihatkan gambaran yang terjadi saat malam itu Dinda meninggal.  Raka berubah pucat mukanya. Beni takjub melihat cahaya yang berpendar dan memperlihatkan adegan yang terjadi. Saat itu Beni dengan sigap menarik lengan Raka saat melihat Raka hendak melarikan diri. Raka tak mampu berkutik lagi. Dia mengakui semua yang dia lakukan pada Dinda.

            Sore itu wajah Riska bisa tersenyum kembali. Dirinya merasa puas. Mudah-mudahan Dinda tenang di alamnya. Riska telah membantu sahabatnya menemukan pembunuh Dinda. Berkat cahaya yang menuntunnya pada kebenaran . Raka mendapatkan balasan setimpal atas perbuaatnnya. Hukuman penjara akan menantinya.  Ah, Dinda terlalu baik hati. Tak pernah percaya kalau kekasihnya hanya mempermainkan dirinya. Sampai akhirnya kekasihnya  mampu menghabisi  nyawanya.. Riska menaburkan bunga di pusara Dinda. Riska melihat Dinda tersenyum padanya.
            “Semoga kau tenang di sana , Dinda.” Riska mengelus nama Dinda di papan yang ditancapkan di atas tanah . Ada tetesan air mata yang jatuh.
            “Pulang, sudah sore,”tegur Beni. Beni menuntun Riska pulang. Riska membalikan tubuhnya. Tampak Dinda melambaikan tangan padanya. Senyum Riska merekah.....

4 Rintihan Masker

Jumat, 24 April 2020


Gambar dari sini

Ijinkan aku mengeluh

Saat ini aku begitu sering digunakan

Tapi entah mengapa mulut-mulut itu tak berhenti bicara

Apa saja dibicarakan

Sampai bau busuk dari mulutmu

Mengenai permukaan kainku

Itu menjijikan



Aku harus bertahta di mulut orang itu

Tak tahan dengan nafas busuknya

Tapi orang-orang itu gak peduli dengan diriku

Mereka hanya tahu masker harus dipakai

Tapi aku yang tersiksa

Entah sampai kapan aku bisa bertahan

Dengan bau mulutnya



Kapan wabah ini bisa berakhir

Aku ingin terlepas dari mulut-mulut itu

Aku ingin sekali merasakan udara segar

Tapi tetap saja aku dipakai terus menerus

Sampai aku lelah dengan bau ini

Sampai aku mulai merasakan busuknya nafasnya

Sampai aku terbelalak saat orang itu pingsan



Cirebon, 25 April, 2020



2 Bocah Kecil

Jumat, 17 April 2020


Gambar dari sini 
 

Sepanjang hari itu, aku masih termenung panjang mengingat peristiwa yang masih jelas terpampang di depan mata seperti layar lebar yang  menggambarkan peristiwa scan demi scan. Bocah kecil dengan  bola mata hitam memeluk gitar kecilnya di antara kendaraan yang lalu lalang bersliweran tak henti-hentinya. Tubuh mungilnya hanya tampak setitik notkah di antara puluhan kendaraan yang tak peduli dengan sekitarnya. Masih terbayang waktu aku menolongnya saat motor menyenggolnya. Kuberlari dan kugotong tubuh mungilnya ke tepi jalan dan kuperiksa tubuhnya, hanya lecet-lecet kecil saja, beruntung nasibmu kawan. Kutanyakan padanya dimana rumahnya. Dia hanya menatap mataku dengan tatapan sayu , rasa hati tertusuk menatap bola matanya yang penuh kerinduan terhadap sesuatu yang aku sendiri tak tahu itu apa. Bocah kecil itu benama Dul. Kulihat Dul menatap ke ujung jalan dan kulihat disana ada beberapa preman yang melihat kearahku dan Dul. Dul bangun dengan tergesa dan berlari , aku terhenyak sehingga tak sempat aku mengejarnya.

            Aku masih di depan laptopku dan masih terbayang lukisan peristiwa kemarin,Gitar di tanganku dan pikiran yang masih mengembara. Ingin kutuliskan bait-bait  lagu yang menceminkan kesedihan yang terpancar di mata bulatmu., tapi dari tadi tak satupun kata-kata yang bisa kutulis di lembaran kosong kertas putih yang tergeletak di samping kopi susu hangat yang menemaniku sejak tadi pagi. Kepulan asap panasnya sudah hilang dari tadi,  Aku masih ingin bertemu lagi denganya. Kuganti bajuku dan kugunakan topi hitamku dan kacamata hitam yang bertengker di telingaku dan ku kendarai motor bututku  dengan gitarku  mengarungi jalan jahanam dengan segala polusi yang ada di sana. Kembali ke tempat di perempatan jalan Dago, ku parkir motorku di tepi jalan , ku pandangi jalan yang berdebu , masih belum terlihat bocah kecil. Saat kutengadahkan kepalaku untuk melihat ke seberang jalan. Benar saja Dul ada di sana. Kuseberangi jalan dan kudekati Dul. Hampir saja Dul lari kalau tanganku tidak cepat memegang lengannya.
            “Dul, tenang aku gak akan ngapain-ngapain kamu, aku hanya ingin berteman”, kataku sambil mengulurkan tanganku. Dul ragu-ragu dan melihat ke ujung jalan lagi dan baru Dul menyodorkan tangannya padaku. Kugenggam tangannya .
            “Aku boleh ikutan ngamen gak?, tanyaku,”nanti uangnya buat kamu”. Dul melihatku dengan tatapan aneh tapi kemudian dia menganggukan kepalanya. Aku mengambil gitarku di motorku dan mulai mengamen di lampu merah Dago.. Rasa panas di kepala dan peluh yang mengucur di tubuhku tak kugubris, niatku ingin membantu Dul. Hanya uang recehan yang kudapat dan pandangan sinis dari pengendara-pengendara itu. Tak terbayang Dul harus menjalani semua ini sendiri tanpa teman dan keluarganya.

            Waktu tengah hari kuajak Dul untuk beristirahat. Kulihat ada resto kecil di sudut jalan Dago. Kuajak Dul makan di sana. Kulihat Dul makan dengan lahap. Kasihan, mungkin Dul tidak pernah makan seenak ini sehingga begitu lahapnya dia makan.
            “Dul, kamu tinggal dimana?”, tanyaku.
            “Di belakang kebun binatang”, katanya sambil sibuk memasukan makanannya ke dalam mulut penuhnya.
            ‘Hati-hati, jangan banyak –banyak kau masukan makanan itu, nanti keselek”, kataku lagi. Dul tidak menggubrisnya, dia tetap makan dengan tergesa-gesa.
            “Kamu tinggal dengan siapa”, kataku lagi sambil mendesak agar Dul mau banyak cerita. Dul memandangku sekali lagi. Aku menatapnya dan meyakinkan dia bahwa aku orang yang pantas dipercaya. Dul lama terdiam dan akhirnya keluarlah cerita dari mulutnya. Dul tinggal bersama-sama dengan bocah lainnya di gang sempit dan rumah kecil . Mereka ditampung oleh preman dan mereka disuruh bekerja dan mereka wajib menyetorkan sebagian uang kepada preman-preman itu. Menurut Dul, kalau setoran kurang , mereka mendapatkan bogem mentah di perut mereka. Aku terhenyak mendengar penuturannya. Tiba-tiba Dul berdiri dan hendak meninggalkan aku.
            “Eh, jangan buru-buru, nanti aku belum selesai makan”, kataku.
            “Gak, nanti bang Kohir melihat aku tak ada di sana , pasti aku dimarahinya”, katanya lagi sambil bergegas ke luar. Aku hanya bisa menghela nafas. Kupandangi punggung kecilnya sampai menghilang dari pandangan mataku.

            Hampir setiap hari aku melewati jalan Dago dan masih saja kulihat Dul di sana. Sampai suatu saat aku tak melihatnya sampai sudah seminggu tak kulihat Dul di sana. Aku semakin penasaran. Aku mulai mencarinya siang itu, tapi sampai lelah kakiku berdiri , Dul tak terlihat. Aku menghampiri bocah yang sedang mengamen, waktu kutanyakan tentang Dul, yang kudapat hanya gelengan kepalanya dan dengan cepat berlalu dari hadapanku. Ternyata bocah yang lainpun tutup mulut saat kutanyakan keberadaan Dul. Kutunggu sampai senja tiba , malam berganti, bocah-bocah itu masih mengamen. Kakiku mulai terasa pegal dan perutku mulai terasa lapar tapi aku tak mau berhenti . Aku ingin tahu keberadaan Dul bocah cilik bermata  bulat yang menarik perhatianku. Saat malam sudah larut kulihat bocah-bocah itu mulai pulang . Aku mengikuti dengan jalan perlahan di belakang mereka. Benar , mereka masuk jalan yang menuju belakang kebun binatang. Dan mereka berhenti di rumah kecil yang sudah kusam. Tampak mereka menyetorkan kepada dua preman yang sudah berdiri di depan pintu. Salah satu preman tiba-tiba menatapku tajam , aku kaget dan berbalik arah dan berjalan perlahan-lahan agar tidak mencurigakan.

            Masih kulihat di perempatan Dago siang itu, tak ada Dul. Aku berbalik dan menuju gang sempit tempat rumah Dul. Kulihat dari jendela ada sesosok tubuh mungil tergeletak di tikar. Kucoba membuka pintu, ternyata tidak dikunci. Agak gelap hanya seberkas sinar matahari masuk lewat jendela. Udara lembab menyapaku saat aku masuk ke ruangan yang sangat kotor.
            “Dul, Dul....”,panggilku. Dul membalikan tubuh lemahnya. Aku kaget badannya panas , peluh menetes di dahinya dan astaga, badannya penuh memar. Aku tak mungkin menanyakan pada Dul, kuangkat tubuh lemahnya . Kupanggil taksi dan kubawa ke rumah sakit. Dul , berbaring lemah di tempat tidur dengan infus di tangannya dan luka-luka dan memarnya sudah diobati.
            “Dul, kakak pulang dulu, nanti kakak kemari lagi “, kataku.
            “Anda keluarganya?”, tanya perawat yang masuk ke ruangan.
            “Iya”, kataku.
            “Oh, kalau gitu, ini obat yang harus  ditebus”, katanya lagi. Aku menerima resep itu dan beranjak pergi.
            “Kak, jangan pergi, Dul takut”, katanya. Aku memandang bola matanya , ada rasa takut dan sedih.
            “Kakak pergi beli obat dulu , nanti kemari lagi”, “jangan takut , kamu aman di sini”, kataku sambil bergegas keluar.

            Waktu aku kembali Dul sudah tak ada di ruangannya. Waktu kutanyakan pada perawat di sana, mereka bilang ada saudaranya yang mengambilnya kembali dengan alasan tidak punya uang untuk biaya rumah sakit. Aku tidak sempat marah dan bergegas  mencari Dul ke rumahnya. Kuketuk rumah dan kubuka tidak ada siapa-siapa di rumah  itu.
            “Mas cari siapa?,”tanya perempuan yang sedari tadi memperhatikanku.
            “Cari Dul, ibu tahu?”, tanyaku.
            “Oh, mereka semua pergi tadi sore , katanya sih mau pindah”, kata perempuan itu .
lagi.
Sial!!. .Besok akan kucari teman-temannya saat mereka ngamen.

            Minum kopi di saat pagi menjelang , membuat hangat dada , ditemani dengan dentingan lagu dari mini compoku di kamar kecilku. Kuraih koran yang baru saja diantarkan loper koran. Kubuka lembaran koran, berita korupsi saja yang terpampang di halaman muka. Tiba-tiba kulihat gambar wajah yang sangat kukenal, bola matanya yang bulat dengan pandangan sayunya. Kubaca perlahan berita di koran. Diketemukan sosok mayat bocah cilik tanpa identitas hanyut di sungai Cikapundung. Aku bergegas pergi menuju rumah sakit Hasan Sadikin untuk melihat jenasahnya. Aku tak bisa mengeluarkan sepatah kata apapun melihat bocah cilik itu , mengenaskan dengan tubuh penuh luka dan lebam .
            “Anda keluarganya?, tanya petugas di kamar mayat.
            ‘Iya”, kataku. Petugas itu memberitahukan aku untuk menyelesaikan prosedur untuk mengambil jenasah.

            Disinilah aku berdiri di onggokan tanah yang menutupi tubuh bocah cilik dengan bola mata hitamnya, Dul. Kulangkahkan kakiku meninggalkan sebongkah duka yang dialami bocah kecil itu. Dan saat ini aku masih duduk terpekur , belum saja ku dapat menyelesaikan bait-bait lagu yang sempat tertunda. Kutuliskan sekali lagi bait-bait kesedihan yang ada di dalam bola matanya itu, kunyanyikan dalam alunan lagu yang mendayu dan menyentuh relung hatiku. Masih sepi di sini sesepi Dul di sana tak ada yang menemani. Hanya sepotong lagu untuknya kupersembahkan buatmu bocah kecil dengan bola mata hitammu. DUL