0 Di Balik Awan

Jumat, 16 Oktober 2020

 


Sebagai pembuka  cerita, cerita tentang awan

Saat langit cerah awan putih hanya tipis saja

Ada yang tahu apa yang ada di balik awan

Entahlah apa yang ada di sana, tak ada yang tahu

 

Tapi dalam  gambaran alam yang kulihati siang itu

Ada gunung di balik awan putih tipis

Ada cerita tentang gunung itu

Tahu gunung Ciremai, banyak cerita mistis di sana

 

 

Saat kupandang dari jauh saat hantarkan diriku pada suatu rasa

Rasa ingin meraih puncak gunung

Tapi apa mungkin dari kejauhan

Hanya bisa kupeluk lewat senyum untukmu yang jauh di sana

 

Hanya bayang-bayang tingginya dalam birunya langit

Dalam gejolak rasa yang tak pernah hilang

Kekaguman akan ciptaanNya

Di sini di situ Sedong aku melihat kebesaranNya.

 

Cirebon, 17 Oktober 2020

 

3 Bedong

Jumat, 09 Oktober 2020

 

gambar dari sini

Aku masih memegang bendong ini dalam genggaman tanganku. Warnanya sudah buram , kusut dan aduh baunya . Tapi bedong itu selalu membuatku merasa nyaman. Sudah lama bedong itu menemaniku di saat-saat suka maupun duka. Tapi, kini aku dipaksa untuk membuang bedong ini. Sebulan lagi aku akan menikah dengan pujaan hatiku, Kata bunda aku harus membuang bedong kesayanganku karena aku sudah tak pantas menggunakan bedong itu lagi. Apa kata orang kalau aku masih memakai bedong , itu kata bunda. Tapi aku merasa tak adil, karena bedong itu sudah menemaniku sampai saat ini, aku tak bisa lepas dari bedong ini.

 

            Waktu aku masih bayi, aku merasakan kehangatan saat bedong mulai menutupi semua tubuhku, yang tampak hanya wajah mungilku. Aku terlelap , hangat dalam balutan bedongmu. Waktu kurasakan basah bedongku, bunda selalu membukanya perlahan sambil menyanyikan lagu-lagu yang tak kumengerti, tapi hanya sesaat aku kedinginan , karena sesaat kemudian aku sudah terbungkus hangat dalam bedongku. Bedongku selalu memaniku saat-saat ku masih bayi, sampai aku sudah remaja tetap saja aku masih nyaman dengan bedongku.Banyak ceritaku bersama dengan bedongku.

            “Lia, siapa yang naruh makanan busuk di kamar,” teriak bunda.

            ‘Iya , aku lupa bunda,” kataku. Aku melihat bunda marah denganku, aku tarik bedongku . Aku mulai mengelus-negelus bedongku. Ada rasa nyaman dan mulai kupeluk bedongku dan kudekap dalam dadaku dan aku merasakan aku tak marah lagi. Aku mulai turun dari tempat tidur dan mulai membersihkan makanan basi yang ada di kamarku. Terimakasih bedongku.

 

            Malam itu hujan turun lebat dengan petir yang bersahut-sahut, aku mulai ketakutan tapi bedongku masih kuelus-elus terus dan mataku mulai terpejam .

            “Lia, sudah tidur belum?” tanya bunda. Kulihat bunda ada di pintu kamar menengokku.

            “Sudah mau tidur bunda,” kataku sambil kuelus terus bedong . Ku selimutkan bedong di dadaku seperti saat kumasih bayi bedong itu membuatku merasa  nyaman.sampai suatu saat aku harus pergi ke luar kota bersama teman-teman.

            “Lia, kamu gak usah bawa bedongmu, malu-maluin saja,’ kata bunda.

            “Gak apa-apa bun, pokoknya aku bawa, titik,” kataku tegas. Aku tidak mungkin meninggalkan bedongku di rumah , sedangkan aku berada di tempat lain, bagaimana aku bsia tidur nanti, kalau ada apa-apa aku tak bisa mengelus bedongku.

            “Ya, terserah kamu saja,” kata bunda sambil mengangkat bahunya dan tidak lupa mencibirkan bibirnya. Aku mendelik pada bunda, pasti bunda mau mengejekku lagi. Tapi aku tidak peduli, bedongku harus kubawa.

 

            Di saat perjalanan ke Jogja , aku selalu memegang bedongku saat aku mau tidur , teman-teman banyak sih yang mengejekku tapi aku tidak peduli. Bedongku tetap dalam dekapanku. Sampai malam itu aku histeris saat bedongku tidak ada.

            “Tadi kamu taruh mana Lia,?” tanya Anggi.

            “Pasti ada yang menyembunyikan bedongku , pasti,”kataku. Aku menatap semua teman-temanku tapi tidak ada satupun yang mengaku . Akhirnya malam itu aku benar-benar tidak bisa tidur malah aku mulai  menangis karena tidak nyaman.

            “Dah , jangan nangis Lia, “ kata Anggi. Di luar kamar aku tahu teman-temanku mencari bedongku.. Tapi sampai pagi bedongku belum diketemukan . Pagi itu aku bangun dengan mata sembab . Waktu aku keluar dari kamar , aku melihat seorang OB memegang bedongku.

            “Eh, mas, apa yang kamu bawa,” teriakku. Pegawai itu memperlihatkan bedongku. Aku rebut bedongku .

            “Mas, ambil dimana ini?” tanyaku.

            “Tuh, di sembunyikan dekat kamar nomer 25,” katanya  .  Aku benar-benar marah , ternyata Andre menyembunyikan bedongku. Tapi saat kusentuh bedongku aku mulai tak marah lagi dan mulai kembali ceria.

 

            Waktu aku bertemu dengan Alan, Alan juga akhirnya tahu kalau aku tergantung dengang bedongku. Aku juga tidak peduli , aku sudah sebesar ini masih saja kupegang bedongku saat aku tidur atau saat aku gelisah.  Bedong itu sudah jiwaku dan aku tidak mau membuangnya , walau bedong itu tak pernah aku cuci.

            “Lia, malam nanti , keluargaku akan datang untuk melamarmu,” kata Alan memegang lenganku. Aku merasakan kebahagiaan karena akhirnya Alan akan melamarku.

            “Oh, ya, aku agak cemburu ,” kata Alan. Aku heran dengan perkataannya.

            “Cemburu?” tanyaku, “ sama siapa?”

            “Bedongmu, masa nanti aku harus bersaing dipeluk dengan bedongmu sih,” katanya lagi. Aku terpana, aku tak menyangkan Alan akan berkata demikian. Aku masih terdiam lama , masih belum dapat aku bicara.

            “Kenapa, gak bisa lepas dengan bedongmu,?” tanya Alan sambil menatapku tajam.

            “Aku gak tahu,” kataku lemas.

 

            Kini sudah dua orang yang menyuruhku untuk membuang bedongku. Aku masih memegang bedongku .Apa mereka tak bisa merasakan kalau aku merasa nyaman dengan bedongku. Kata bunda aku akan ada yang menemani saat tidur nanti, tidak mungkin kalau tidak bisa tidur. Aku juga masih heran , mengapa Alan harus cemburu dengan bedong yang hanya benda mati. Sampai saat ini aku masih bingung , padahal hari pernikahanku sudah hampir tiba, ada tidak yang bisa aku mintai tolong?

Buang atau tidak bedongku?

 

 

 

 

 

 

 

 

2 Hutan Kota

Sabtu, 03 Oktober 2020

 


Rintik hujan menepis dari dedaunan pohon-pohon yang berjejer beriringan

Sekencang angin yang meniupkan deru dalam desauan suaranya

Tapi daunmu tetap melambai memberikan kesejukan

Indahnya hutan kota

 

Segar merona

Dalam balutan mentari

Hanya lisan yang sedikit terucap dalam lidah keluku

Mengucapkan kata-kata yang mengungkapan keindahan alam

 

Sambil memuji kebesaranNya dalam titian aksara yang terungkap dalam kalbu.

Seiring langkahku menyusuri hutan kota dalam kerimbunan dedaunan pagi hari

Hanya ada semburat mentari yang masuk dari sela daun

Jejak langkahku masih terlihat

 

Dalam ilusi

Yang tampak

Dalam ruang tak berpenghuni

Di kepingan hatiku setiap saat memuji

Kisi-kisi keindahan bak nirwana yang memancarkan dalam pelukan mentari.

 

Cirebon, 4 Oktober 2020

 

 

 

 

6 Bunga Lily Untuk Mei Chan

Jumat, 25 September 2020

 

Gambar dari sini

Pagi itu kembali aku menyambangi pemakaman elit di bukit .sentul.... masih tampak sepi dan belum satupun orang yang menampakan diri di pemakaman yang begitu luas. Di sela-sela sinar mentari pagi dan sedikit awan tipis yang menaungiku aku bergegas menuju makam seorang yang amat kucintai , makam kekasih hati yang tak mampu kumiliki, Mei Chan. Aku masih berdiri di pusaranya dan kubaca tulisan yang ada di nisannya, Mei Chan lahir 6 Mei 1975 , Wafat 5 Juli 1998. Aku menaruh bunga Lily putih kesukaan Mei Chan, dalam setiap acara apapun dia selalu menghias dengan bunga lily putih, Menurutnya bunga lily putih mencerminkan kebersihan dan ketulusan hati.  Aku seperti masih mimpi ,masih bersama Mei  tapi semua itu sudah lama berlalu 16 tahun yang lalu. Lama sekali tapi aku tak bisa melupakanmu, aku masih betah dengan kesendirianku. Masih banyak sudut hatiku yang telah kau isi dan tak dapat begitu saja kuhilangkan, bayang-bayangmu masih saja menghampiriku di setiap saat kesempatan, masihkah aku punya kesempatan untuk memikirkan yang lain???? Semua hatiku telah kau isi, tak ada celah lagi untuk cinta yang lain.

            “Panji, ibu tak mengerti ,apa tak bisa cinta lain masuk dalam hatimu,” suatu hari ibu mengeluh padaku karena aku belum saja mengisi cintaku dengan cinta yang lain. Ibu juga mengatakan kalau dia sudah tua dan ingin melihatku menikah . Dua adikku sudah menikah semua tapi aku masih belum bergeming dengan kesendirianku.

            “Tolonglah ibumu yang sudah menua, kapan lagi ibu bisa melihatmu menikah, keburu ibumu di panggil sang kuasa,” keluh ibuku setiap aku bertemu dengannya. Mira dan Asty kedua adikku selalu membawa teman atau kenalan yang selalu mereka jodohkan denganku tapi aku masih suka dengan keadaanku sekarang. Mereka tak mengerti akan lemahnya hati ini saat semuanya harus kualami, mereka hanya mampu menghiburku tanpa mampu menyelami lagi dasar hatiku yang membuatku seperti ini. Apa mungkin aku meninggalkan cintaku yang aku perjuangkan dengan sekuat hatiku agar cintaku bisa berjalan harus berhenti saat maut memisahkan? Tidak, gak adil buat Mei , aku tidak ingin menyakiti hatinya, aku terlalu mencintainya. Tak terasa air mataku menetes perlahan dan jatuh di tanah, membuat bekas gambaran abstrak. Aku berlutut di pusaranya dan kutaruh lily putih kesukaanmu di atas pusaramu. Air mataku mengalir mengaburkan semua penglihatanku. Aku rindu padamu, Mei , aku ingin bertemu denganmu, ingin kupeluk dirimu, aku pria tolol yang tak mampu menjagamu, engkau diperkosa dihadapanku , aduh aku tak sanggup lagi membayangkan peristiwa 16 tahun yang lalu yang selalu menjadi bayang-bayang yang menakutkan bagiku, aku tak bisa. Air mataku terus mengalir, terus, aku hanya bisa terisak di hadapan jasadmu.

            “Mei , aku ingin bersamamu,” aku menelungkupkan tubuhku di pusaramu, ingin kupeluk tubuhmu lagi. Aku rindu padamu, Mei Chan.

 

            Pertemuanku dengan Mei Chan saat aku dan dia sama-sama aktif di rumah belajar di kawasan  kampusku. Kebetulan aku dan Mei Chan juga sama-sama kuliah di Pertiwi. Aku dan Mei  membantu anak-anak putus sekolah untuk belajar dan bisa mngikuti paket A ,B agar mereka dapat lulus SD dan SMP.  Banyak relawan di rumah belajar dan aku tertarik dengan gadis imut bermata sipit, Mei Chan. Pertama kali dia datang, aku melihat ada pesona oriental tersendiri di wajah putihnya yang membuat aku tersipu-sipu saat dia mulai menyalamiku.

            “Mei Chan,” serunya ramah dan mulai menyalami teman-teamn yang lain. Tidak begitu lama, anak-anak suka sekali dengan Mei Chan, dia juga sering membawakan buku bacaan milik dia yang sudah tak terpakai untuk dibaca di rumah belajar. Serunya lagu Mei Chan sering membuat permainan di sela-sela mengajarnya dan memberikan sedikit hadiah buat anak-anak. Aku sendiri tak pernah terpikirkan bisa berbuat sepertinya.  Mei Chan sangat diterima anak-anak karena begitu ramahnya dan tak membuat jarak dengan anak-anak, walau dia masih punya darah keturunan tionghoa

 

            “Hai, aku antar pulang ya, sudah gelap sebentar lagi hujan,” aku menawarinya pulang dengan motor bututku yang kubeli dari bengkel sebelah rumah . Dia tersenyum dan naik di sadel motorku, terasa hangat merayapi tubuhku kala kedekatanku begitu dekat dengan Mei , kadang tubuhnya terasa menyentuh punggungku dan membuat aliran darahku semakin kencang dan membuat degup jantungku semakin keras.

            “Oh, ya aku harus mengantarkan kemana?” tanyaku setelah jalan beberapa saat.

            “Perumahan Delta .” Aku membayangkan pasti rumahnya adalah rumah mewah seperti yang dimiliki banyak keturunan tionghoa. Saat aku berhenti di depan rumahnya, aku melihat rumah yang tak terlalu mewah dibanding dengan rumah di sebelah dan depannya dengan pagar yang terbuat dari tanaman yang tidak menutupi rumah.

            “Makasih ya, mau mampir?’” tanyanya, aku menggeleng .

 

            Semakin hari kebersamaanku dengan Mei  menjadi bulir-bulir asmara yang merambah hatiku, aku tak memungkiri ada cinta di hatiku untuknya.

            “Elu kayaknya lagi naksir berat sama Mei kan?” tuduh Andre saat aku sedang melamun di rumah belajar yang sore itu masih sepi, hanya ada beberapa anak yang masih sibuk membaca di ruang baca. Aku mendelik padanya tapi aku juga tak sempat protes karena aku sendiri tahu , ada terselip cinta untuknya.  

            “Apa elu sudah mikirin tuh , perbedaan elu ama Mei,” selanya sambil duduk di sampingku dan mengambil gorengan yang baru kubeli tadi.

            “Entahlah, namanya cinta semua ada yang harus diperjuangakan ,” kataku , sebetulnya juga aku merasakan akan ada hambatan kalau aku benar-benar jadian dengannya, tapi belum tentu Mei juga suka padaku, kenapa aku sudah merasa dia suka padaku??? Aku memanggil anak-anak untuk mulai belajar sore itu. Sampai sore aku belum melihat Mei  kemari, ada perasaan cemas.

            “Sudah, kalau kau cemas tinggal datangi saja rumahnya,” tukas Andre. Aku mengiyakan saja sehingga sore itu sepulang mengajar aku menyempatkan diri untuk datang ke rumahnya. Saat pintu terbuka ,Mei  berdiri di depanku tampak cantik seperti bidadari yang datang padaku dengan baju putihnya yang membuatnya tampak  cantik seperti peri.

            “Mei, siapa itu, kalau orang yang mengajakmu mengajar di sana, suruh pergi saja,”terdengar suara perempuan dari dalam. Mei  tampak gugup dan menarikku ke halaman rumahnya.

            “Lebih baik kamu pulang duluan ya, nanti aku jelaskan di rumah belajar,” aku didorongnya keluar untuk segera meninggalkan rumahnya.

 

            Aku baru mengerti kalau orangtuanya Mei  tidak setuju kalau dia mengajar di rumah belajar ini. Menurutnya sangat berbahaya karena belum tentu orang suka dengan orang keturunan tionghoa.

            “Mama takut aku diapa-apakan oleh orang-orang di sekitar ini apalagi aku keturunan tionghoa,” jelasnya padaku. Aku menatap mata , aku merasa ada setitik cahaya yang begitu tajam menusuk kalbu , ada kehangatan yang dia berikan padaku, kembali kutatap kedalaman matanya sampai akhirnya Mei  menundukkan kepalanya.

            “Gak apa-apa, kamu aman di sini Mei, ada aku,” jelasku, aku janji akan menjagamu.” Aku membuat huruf V dengan kedua jariku. Mei tampak tersenyum . Senyumnya melumerkan segala rasa di dada ini dan kubantu dirinya untuk terus mau mengajar di sini. Aku tak kesulitan mengenalkan Mei pada keluargaku mereka menyambut Mei dengan tangan terbuka, dan  kadang aku heran sekali ibu begitu menyayangi Mei seperti layak anaknya sendiri, bahkan Asti sempat protes karena merasa Mei lebih disayang ibu. Sedang aku harus berjuang keras untuk meyakinkan keluarga Mei agar bisa menerimaku, untungnya mereka akhirnya mengijinkanku untuk berteman dekat dengannya.

 

            Sampai saat yang tak pernah kulupakan, saat aku baru mau mulai mengajar, tiba-tiba Seno masuk ruangan dan mulai berteriak dengan panik.

            “Bubarkan saja, cepat kalian pulang ada kerusuhan di mana-mana!”teriaknya dan menyuruhku untuk segera pulang. Aku menyuruh anak-anak pulang dan aku bergegas mengantarkan Mei pulang.

            “Hati-hati Pan, Mei, orang-orang keturunan banyak yang dibantai, “ tukasnya sambil membawakanku kerudung, aku tak mengerti.

            “Pakaikan saja pada Mei, biar dia tak diapa-apakan di jalan,” ujarnya sambil berlari lagi keluar, aku sungguh berterimakasih pada Seno yang mau membantuku. Aku segera membawa Mei dan menyuruhnya memakai kerudung, wajahnya mulai memucat.

            “Panji, cepat, keluargaku apa baik-baik saja,” katanya cemas. Didalam boncenganku , Mei memegang pinggangku erat sekali-kali kudengar isakannya, tapi belum lama berjalan, aku sudah di hadang dengan beberapa orang yang menyuruh aku turun. Aku mencoba menghindar tapi dia segera menghalangiku lagi sehingga aku terkepung .

            “Turun!” bentaknya.

            “Kami warga sipil biasa bang,” ujarku meyakinkan, tapi dari arah belakang  ada yang berteriak keras sekali.

            “Itu  yang berkerudung cina!” teriaknya, belum sempat aku memegang tangan Mei, Mei sudah diseret oleh salah satu pria yang bertubuh besar. Aku mengamuk dan melawan mereka, tapi karena jumlah mereka yang terlalu banyak aku ditangkap dengan keadaan berdarah-darah di sekujur tubuhku dan aku dibiarkan di jalanan , aku berdiri ,aku ingin menolong Mei , tapi pandanganku kabur dan samar-samar aku melihat pria –pria itu membuka baju Mei dan mulai memperkosanya .  Aku berlari-lari tapi baru saja aku melangkahkan kakiku , sudah ada pria lainnya yang mendorongku kembali sehingga aku tersungkur. Beberapa saat kemudian pria-pria itu menghilang dalam kegelapan. Aku mulai merangkak mencari Mei, tubuhku sudah penuh dengan darah, terdengar suara rintihan.

            “Tolong aku,” rintihnya, aku menghampirinya. Aku tak sanggup melihat Mei, sungguh Mei dalam keadaan telanjang bulat dan rapuh , hanya air mata yang mengalir di pipinya, pria macam apa aku tak mampu menyelamatkan cintaku?

            “Mei, bertahanlah,” seruku lemah, dan pada saat itu ada pria yang menolong aku dan Mei ke rumah sakit terdekat, seperti malaikat yang membantuku karena sampai sekarang aku tak tahu siapa yang menolongku.

 

 

            Setelah kejadian itu Mei seperti ada dalam dunianya sendiri, diam dalam bisu, tanpa kata. Matanya tak memancarkan sinarnya lagi. Setiap aku mengunjunginya hanya kebisuan yang selalu menyapaku, aku selalu memeluknya erat sekali, untuk memberitahukan kalau aku tetap mencintainya.

            “Mei, aku mencintaimu, bicaralah padaku,jangan kau diam saja,” aku mulai membujuknya untuk berbicara, tapi Mei tetap  diam seribu bahasa. Matanya kosong, trauma yang begitu kuat membuatnya hancur .

            “Tante juga tak tahu harus bagaimana, sudah berobat ke psikiater tapi katanya Meinya sendiri tak ada kemauan untuk sembuh,” jelas ibunya Mei dengan pandangan menerawang. Kupegang tangan ibunya.

            “Maafkan aku, tak mampu menjaga Mei,” aku mencium tangannya dengan s epenuh hatiku. Ibunya mengelus kepalaku dan dia bilang ke aku rasa terimakasih telah mencintai anaknya begitu sungguh-sungguh. Ternyata kekuatan trauma yang dialami Mei begitu merusak jiwa sehingga kemampuan mentalnya tak sanggup dia terima, sehingga dua bulan kemudian Mei meninggal di rumahnya . Aku merasakan kesedihan yang begitu mendalam , ada sebagian dari jiwaku di bawa pergi Mei. Dia pergi membawa jiwaku, sampai aku tak mampu menggantikan cintamu dengan cinta yang lain. Aku masih terjerat dengan cintamu,Mei, aku sungguh mencintaimu!

 

            Ada elusan hangat di bahuku, aku terdongak dan aku masih ada di makam Mei, barusan bayang-bayang peristiwa 16 tahun yang lalu berkelebat jelas di mataku, ini hanya ilusi. Aku melihat mama Mei sudah  berdiri di hadapanku.

            “Panji, terimakasih , kamu mencintai Mei tulus, tapi tante harap sekali lagi,carilah cinta lain,”pintanya. Kutatap wajah tuanya, yang menyorotkan rasa kasih padaku seperti dia mengasihi Mei anaknya sendiri.

            “Mei, masih tersimpan dalam hatiku selamanya, dia abadi bagiku, tante gak usah kawatir, suatu saat aku akan bertenu dengannya,” aku memeluk wanita tua yang selalu iba melihat aku yang masih sendiri karena cintanya pada anaknya.  Tiba-tiba ada desiran angin yang agak kencang dan meniupkan beberapa bunga kamboja yang berterbangan di sekiatr pusara, menari-nari di udara. Aku menatap pusaran angin yang menyebabkan bunga-bunga bertebaran dengan perasaan yang sulit kutebak, aku merasakan Mei hadir saat ini di sini, di saat ulang tahunnya yang ke 37 tahun. Saat aku selalu datang menemuinya di makamnya. Selamat ulang tahun Mei,kamu selalu ada di hatiku!