Gambar dari sini
Pagi
itu kembali aku menyambangi pemakaman elit di bukit .sentul.... masih tampak
sepi dan belum satupun orang yang menampakan diri di pemakaman yang begitu
luas. Di sela-sela sinar mentari pagi dan sedikit awan tipis yang menaungiku
aku bergegas menuju makam seorang yang amat kucintai , makam kekasih hati yang
tak mampu kumiliki, Mei Chan. Aku masih berdiri di pusaranya dan kubaca tulisan
yang ada di nisannya, Mei Chan lahir 6 Mei 1975 , Wafat 5 Juli 1998. Aku
menaruh bunga Lily putih kesukaan Mei Chan, dalam setiap acara apapun dia selalu
menghias dengan bunga lily putih, Menurutnya bunga lily putih mencerminkan
kebersihan dan ketulusan hati. Aku
seperti masih mimpi ,masih bersama Mei tapi semua itu sudah lama berlalu 16 tahun
yang lalu. Lama sekali tapi aku tak bisa melupakanmu, aku masih betah dengan
kesendirianku. Masih banyak sudut hatiku yang telah kau isi dan tak dapat
begitu saja kuhilangkan, bayang-bayangmu masih saja menghampiriku di setiap
saat kesempatan, masihkah aku punya kesempatan untuk memikirkan yang lain????
Semua hatiku telah kau isi, tak ada celah lagi untuk cinta yang lain.
“Panji, ibu tak mengerti ,apa tak
bisa cinta lain masuk dalam hatimu,” suatu hari ibu mengeluh padaku karena aku
belum saja mengisi cintaku dengan cinta yang lain. Ibu juga mengatakan kalau
dia sudah tua dan ingin melihatku menikah . Dua adikku sudah menikah semua tapi
aku masih belum bergeming dengan kesendirianku.
“Tolonglah ibumu yang sudah menua,
kapan lagi ibu bisa melihatmu menikah, keburu ibumu di panggil sang kuasa,”
keluh ibuku setiap aku bertemu dengannya. Mira dan Asty kedua adikku selalu
membawa teman atau kenalan yang selalu mereka jodohkan denganku tapi aku masih
suka dengan keadaanku sekarang. Mereka tak mengerti akan lemahnya hati ini saat
semuanya harus kualami, mereka hanya mampu menghiburku tanpa mampu menyelami
lagi dasar hatiku yang membuatku seperti ini. Apa mungkin aku meninggalkan
cintaku yang aku perjuangkan dengan sekuat hatiku agar cintaku bisa berjalan
harus berhenti saat maut memisahkan? Tidak, gak adil buat Mei , aku tidak ingin
menyakiti hatinya, aku terlalu mencintainya. Tak terasa air mataku menetes
perlahan dan jatuh di tanah, membuat bekas gambaran abstrak. Aku berlutut di
pusaranya dan kutaruh lily putih kesukaanmu di atas pusaramu. Air mataku
mengalir mengaburkan semua penglihatanku. Aku rindu padamu, Mei , aku ingin
bertemu denganmu, ingin kupeluk dirimu, aku pria tolol yang tak mampu
menjagamu, engkau diperkosa dihadapanku , aduh aku tak sanggup lagi
membayangkan peristiwa 16 tahun yang lalu yang selalu menjadi bayang-bayang
yang menakutkan bagiku, aku tak bisa. Air mataku terus mengalir, terus, aku
hanya bisa terisak di hadapan jasadmu.
“Mei , aku ingin bersamamu,” aku
menelungkupkan tubuhku di pusaramu, ingin kupeluk tubuhmu lagi. Aku rindu
padamu, Mei Chan.
Pertemuanku dengan Mei Chan saat aku
dan dia sama-sama aktif di rumah belajar di kawasan kampusku. Kebetulan aku dan Mei Chan juga
sama-sama kuliah di Pertiwi. Aku dan Mei membantu anak-anak putus sekolah untuk belajar
dan bisa mngikuti paket A ,B agar mereka dapat lulus SD dan SMP. Banyak relawan di rumah belajar dan aku
tertarik dengan gadis imut bermata sipit, Mei Chan. Pertama kali dia datang,
aku melihat ada pesona oriental tersendiri di wajah putihnya yang membuat aku
tersipu-sipu saat dia mulai menyalamiku.
“Mei Chan,” serunya ramah dan mulai
menyalami teman-teamn yang lain. Tidak begitu lama, anak-anak suka sekali
dengan Mei Chan, dia juga sering membawakan buku bacaan milik dia yang sudah
tak terpakai untuk dibaca di rumah belajar. Serunya lagu Mei Chan sering membuat
permainan di sela-sela mengajarnya dan memberikan sedikit hadiah buat
anak-anak. Aku sendiri tak pernah terpikirkan bisa berbuat sepertinya. Mei Chan sangat diterima anak-anak karena
begitu ramahnya dan tak membuat jarak dengan anak-anak, walau dia masih punya
darah keturunan tionghoa
“Hai, aku antar pulang ya, sudah
gelap sebentar lagi hujan,” aku menawarinya pulang dengan motor bututku yang
kubeli dari bengkel sebelah rumah . Dia tersenyum dan naik di sadel motorku,
terasa hangat merayapi tubuhku kala kedekatanku begitu dekat dengan Mei ,
kadang tubuhnya terasa menyentuh punggungku dan membuat aliran darahku semakin
kencang dan membuat degup jantungku semakin keras.
“Oh, ya aku harus mengantarkan
kemana?” tanyaku setelah jalan beberapa saat.
“Perumahan Delta .” Aku membayangkan
pasti rumahnya adalah rumah mewah seperti yang dimiliki banyak keturunan
tionghoa. Saat aku berhenti di depan rumahnya, aku melihat rumah yang tak
terlalu mewah dibanding dengan rumah di sebelah dan depannya dengan pagar yang
terbuat dari tanaman yang tidak menutupi rumah.
“Makasih ya, mau mampir?’” tanyanya,
aku menggeleng .
Semakin hari kebersamaanku dengan
Mei menjadi bulir-bulir asmara yang
merambah hatiku, aku tak memungkiri ada cinta di hatiku untuknya.
“Elu kayaknya lagi naksir berat sama
Mei kan?” tuduh Andre saat aku sedang melamun di rumah belajar yang sore itu
masih sepi, hanya ada beberapa anak yang masih sibuk membaca di ruang baca. Aku
mendelik padanya tapi aku juga tak sempat protes karena aku sendiri tahu , ada
terselip cinta untuknya.
“Apa elu sudah mikirin tuh ,
perbedaan elu ama Mei,” selanya sambil duduk di sampingku dan mengambil
gorengan yang baru kubeli tadi.
“Entahlah, namanya cinta semua ada yang
harus diperjuangakan ,” kataku , sebetulnya juga aku merasakan akan ada
hambatan kalau aku benar-benar jadian dengannya, tapi belum tentu Mei juga suka
padaku, kenapa aku sudah merasa dia suka padaku??? Aku memanggil anak-anak
untuk mulai belajar sore itu. Sampai sore aku belum melihat Mei kemari, ada perasaan cemas.
“Sudah, kalau kau cemas tinggal
datangi saja rumahnya,” tukas Andre. Aku mengiyakan saja sehingga sore itu sepulang
mengajar aku menyempatkan diri untuk datang ke rumahnya. Saat pintu terbuka
,Mei berdiri di depanku tampak cantik
seperti bidadari yang datang padaku dengan baju putihnya yang membuatnya tampak cantik seperti peri.
“Mei, siapa itu, kalau orang yang
mengajakmu mengajar di sana, suruh pergi saja,”terdengar suara perempuan dari
dalam. Mei tampak gugup dan menarikku ke
halaman rumahnya.
“Lebih baik kamu pulang duluan ya,
nanti aku jelaskan di rumah belajar,” aku didorongnya keluar untuk segera
meninggalkan rumahnya.
Aku baru mengerti kalau orangtuanya
Mei tidak setuju kalau dia mengajar di
rumah belajar ini. Menurutnya sangat berbahaya karena belum tentu orang suka
dengan orang keturunan tionghoa.
“Mama takut aku diapa-apakan oleh
orang-orang di sekitar ini apalagi aku keturunan tionghoa,” jelasnya padaku.
Aku menatap mata , aku merasa ada setitik cahaya yang begitu tajam menusuk
kalbu , ada kehangatan yang dia berikan padaku, kembali kutatap kedalaman matanya
sampai akhirnya Mei menundukkan
kepalanya.
“Gak apa-apa, kamu aman di sini Mei,
ada aku,” jelasku, aku janji akan menjagamu.” Aku membuat huruf V dengan kedua
jariku. Mei tampak tersenyum . Senyumnya melumerkan segala rasa di dada ini dan
kubantu dirinya untuk terus mau mengajar di sini. Aku tak kesulitan mengenalkan
Mei pada keluargaku mereka menyambut Mei dengan tangan terbuka, dan kadang aku heran sekali ibu begitu menyayangi
Mei seperti layak anaknya sendiri, bahkan Asti sempat protes karena merasa Mei
lebih disayang ibu. Sedang aku harus berjuang keras untuk meyakinkan keluarga
Mei agar bisa menerimaku, untungnya mereka akhirnya mengijinkanku untuk
berteman dekat dengannya.
Sampai saat yang tak pernah
kulupakan, saat aku baru mau mulai mengajar, tiba-tiba Seno masuk ruangan dan
mulai berteriak dengan panik.
“Bubarkan saja, cepat kalian pulang
ada kerusuhan di mana-mana!”teriaknya dan menyuruhku untuk segera pulang. Aku
menyuruh anak-anak pulang dan aku bergegas mengantarkan Mei pulang.
“Hati-hati Pan, Mei, orang-orang keturunan
banyak yang dibantai, “ tukasnya sambil membawakanku kerudung, aku tak mengerti.
“Pakaikan saja pada Mei, biar dia
tak diapa-apakan di jalan,” ujarnya sambil berlari lagi keluar, aku sungguh
berterimakasih pada Seno yang mau membantuku. Aku segera membawa Mei dan
menyuruhnya memakai kerudung, wajahnya mulai memucat.
“Panji, cepat, keluargaku apa
baik-baik saja,” katanya cemas. Didalam boncenganku , Mei memegang pinggangku
erat sekali-kali kudengar isakannya, tapi belum lama berjalan, aku sudah di
hadang dengan beberapa orang yang menyuruh aku turun. Aku mencoba menghindar tapi
dia segera menghalangiku lagi sehingga aku terkepung .
“Turun!” bentaknya.
“Kami warga sipil biasa bang,”
ujarku meyakinkan, tapi dari arah belakang ada yang berteriak keras sekali.
“Itu
yang berkerudung cina!” teriaknya, belum sempat aku memegang tangan Mei,
Mei sudah diseret oleh salah satu pria yang bertubuh besar. Aku mengamuk dan
melawan mereka, tapi karena jumlah mereka yang terlalu banyak aku ditangkap
dengan keadaan berdarah-darah di sekujur tubuhku dan aku dibiarkan di jalanan ,
aku berdiri ,aku ingin menolong Mei , tapi pandanganku kabur dan samar-samar
aku melihat pria –pria itu membuka baju Mei dan mulai memperkosanya . Aku berlari-lari tapi baru saja aku
melangkahkan kakiku , sudah ada pria lainnya yang mendorongku kembali sehingga
aku tersungkur. Beberapa saat kemudian pria-pria itu menghilang dalam
kegelapan. Aku mulai merangkak mencari Mei, tubuhku sudah penuh dengan darah,
terdengar suara rintihan.
“Tolong aku,” rintihnya, aku
menghampirinya. Aku tak sanggup melihat Mei, sungguh Mei dalam keadaan telanjang
bulat dan rapuh , hanya air mata yang mengalir di pipinya, pria macam apa aku
tak mampu menyelamatkan cintaku?
“Mei, bertahanlah,” seruku lemah,
dan pada saat itu ada pria yang menolong aku dan Mei ke rumah sakit terdekat,
seperti malaikat yang membantuku karena sampai sekarang aku tak tahu siapa yang
menolongku.
Setelah kejadian itu Mei seperti ada
dalam dunianya sendiri, diam dalam bisu, tanpa kata. Matanya tak memancarkan
sinarnya lagi. Setiap aku mengunjunginya hanya kebisuan yang selalu menyapaku,
aku selalu memeluknya erat sekali, untuk memberitahukan kalau aku tetap
mencintainya.
“Mei, aku mencintaimu, bicaralah
padaku,jangan kau diam saja,” aku mulai membujuknya untuk berbicara, tapi Mei
tetap diam seribu bahasa. Matanya
kosong, trauma yang begitu kuat membuatnya hancur .
“Tante juga tak tahu harus
bagaimana, sudah berobat ke psikiater tapi katanya Meinya sendiri tak ada
kemauan untuk sembuh,” jelas ibunya Mei dengan pandangan menerawang. Kupegang
tangan ibunya.
“Maafkan aku, tak mampu menjaga
Mei,” aku mencium tangannya dengan s epenuh hatiku. Ibunya mengelus kepalaku
dan dia bilang ke aku rasa terimakasih telah mencintai anaknya begitu
sungguh-sungguh. Ternyata kekuatan trauma yang dialami Mei begitu merusak jiwa
sehingga kemampuan mentalnya tak sanggup dia terima, sehingga dua bulan
kemudian Mei meninggal di rumahnya . Aku merasakan kesedihan yang begitu mendalam
, ada sebagian dari jiwaku di bawa pergi Mei. Dia pergi membawa jiwaku, sampai
aku tak mampu menggantikan cintamu dengan cinta yang lain. Aku masih terjerat
dengan cintamu,Mei, aku sungguh mencintaimu!
Ada elusan hangat di bahuku, aku
terdongak dan aku masih ada di makam Mei, barusan bayang-bayang peristiwa 16
tahun yang lalu berkelebat jelas di mataku, ini hanya ilusi. Aku melihat mama
Mei sudah berdiri di hadapanku.
“Panji, terimakasih , kamu mencintai
Mei tulus, tapi tante harap sekali lagi,carilah cinta lain,”pintanya. Kutatap
wajah tuanya, yang menyorotkan rasa kasih padaku seperti dia mengasihi Mei
anaknya sendiri.
“Mei, masih tersimpan dalam hatiku
selamanya, dia abadi bagiku, tante gak usah kawatir, suatu saat aku akan
bertenu dengannya,” aku memeluk wanita tua yang selalu iba melihat aku yang
masih sendiri karena cintanya pada anaknya.
Tiba-tiba ada desiran angin yang agak kencang dan meniupkan beberapa
bunga kamboja yang berterbangan di sekiatr pusara, menari-nari di udara. Aku
menatap pusaran angin yang menyebabkan bunga-bunga bertebaran dengan perasaan
yang sulit kutebak, aku merasakan Mei hadir saat ini di sini, di saat ulang
tahunnya yang ke 37 tahun. Saat aku selalu datang menemuinya di makamnya. Selamat
ulang tahun Mei,kamu selalu ada di hatiku!