4 Bapak,Bukan Bapakmu Nak

Sabtu, 08 Februari 2020


Gambar dari sini 
 

Hari itu aku kembali mengajar ketrampilan di sebuah pondok belajar bagi anak-anak tak mampu. Dan kembali aku melihat Yudi sudah duduk di bangku paling belakang. Yudi tak pernah bisa duduk diam , selalu bejalan-jalan di kelas, berapa kalipun disuruh untuk duduk , dia akan kembali berjalan-jalan di kelas. Hampir semua anak sulit untuk mau menerimanya. Selain jahil, Yudi juga selalu mencari perhatianku dengan selalu banyak bertanya dengan pertanyaan konyol yang sebetulnya tak perlu dia lakukan, tapi aku tak pernah terpancing, aku biarkan saja. Yudi kadang kembali tenang, kadang kalau energinya masih banyak dia akan tetap bertanya terus sampai aku kewalahaan menjawabnya.
            “Bunda, mengapa ini harus di lem?” aku sebetulnya sudah mulai kesal, mengapa dia harus bertanya, pastilah namanya sambungan kertas itu ya harus dilem.
            “Iya, Yudi, dilem yang rapih agar bisa tersambung,”aku memberikan senyum termanisku untuknya. Aku mulai membantu Nisa melipat kertasnya , terdengar suara berdebum di belakangku. Bruk!!!! Kursi Cika jatuh, ternyata Yudi sengaja menjatuhkan kursi Cika.
            “Yudi, angkatapakmu na kembali kursiku,” teriak Cika.
            “Kalau aku gak mau gimana,” tantang Yudi.
            “Harus mau,” tukasku sambil menatap tajam ke dalam bola matanya ,ada sesuatu yang hilang dari bola matanya, celuknya tak bersinar. Yudi malas-malasan menganugkat kursinya. Aku mendekatinya dan menyuruhnya mengerjakan tugasnya dan aku membantunya ada sedikit senyum Yudi untukku.
            “Makasih bunda, aku harus duluan ya ditolong bunda.” Yudi mulai mengerjakan tugasnya.
            “Boleh , duluan yang bunda bantu tapi kamu harus bisa duduk tenang tidak mengganggu teman-temanmu,”ujarku, Kulihat Yudi tertawa lebar, giginya yang menguning tampak kontras dengan wajahnya yang hitam. Baru satu anak saja yang superaktif  membuatku kadang kurang sabar untuk melayani mereka. Tapi saat pekerjaan ketrampilan selesai dan melihat tawa dan senyum yang mereka pancarkan , aku akan meraskan kebahagiaan dan aku melihat Yudi dengan hasil karyanya memperlihatkan hasilnya dengan memegangnya di tangannya dan diangkat keatas sehingga semua bisa melihat dan tawanya akan terlihat. Yudi dengan gigi kuningnya.

            Pagi itu aku sengaja mampir ke rumah Yudi, ternyata Yudi sudah berada di sungai. Aku pikir mungkin sedang mandi. Waktu di sana aku melihat Yudi sedang memecah batu besar untuk dijadikan kerikil.
            “Pagi Yud,” sapaku.Yudi menoleh padaku dan wajahnya tampak terkejut karena kedatanganku, sepertinya ia tak suka aku datang kemari.
            “Kamu gak suka bunda datang, ya sudah bunda pulang saja,” aku hendak berbalik arah sampai terdengra suara Yudi.
            “Siapa bilang aku tak suka,’ jawabnya cepat.
            “Habis kamu tak menjawab pertanyaan bunda.” Aku duduk di sisinya, aku mulai memperhatikan cara kerja Yudi untuk memecah batu.
            “Coba, bunda boleh coba?” tanyaku, aku mengambil batu yang agak besar dan mulai memukulnya agar hancur tapi aduh sangat sulit dan tanganku terasa sakit.
            “Wah, dalam sehari kamu dapat berapa?”
            “Cuma satu keranjang ini ,” ujarnya sambil menunjuk keranjang yang ada di sisinya dan aku terbelalak kaget kalau satu keranjang besar itu hanya dihargai sepuluh ribu rupiah. Astaga, pekerjaan yang begitu berat dengan upah minim.
            “Kamu gak capai Yud?”
            “Kalau Yudi capai mau makan apa keluarga Yudi.” Aku merasakan ada sedikit rasa iba padanya, mungkin kelakuannya di pondok belajar hanya untuk pelampiasannya karena dia harus bekerja keras. Aku mulai mengerti akan dirinya dan aku mencoba memahami hatinya, ternyata Yudi adalah anak yang halus perasaannya dibalik sifat jahilnya.

            Sudah beberapa hari ini aku tak melihat Yudi di pondok belajar, aku merasa kawatir apakah dia sakit atau memang lebih memilih bekerja dibanding belajar di pondok. Aku mencoba mendatangi rumahnya sepulang dari pondok . Sebetulnya sudah hampir malam tapi aku menyempatkan untuk mampir sebentar.
            “Bu, Yudi ada?” tanyanyaku pada ibunya.
            “Yudi gak mau pulang, dia tidur di rumah temannya,” ibunya bercerita kalau Yudi diberitahu tetangganya kalau bapaknya ada di penjara di kota Bandung. Selama ini ibunya selalu bilang sama Yudi kalau bapaknya sudah meninggal.
            “Ibu gak tahu lagi , memang ibu yang salah, ibu takut Yudi malu dengan teman-temnnya kalau dia tahu bapaknya dipenjara.” Ibunya mengusap air matanya, aku melihat anak kecil  menempel terus di tubuh ibu Yudi dan menatapku dengan bola matanya yang bulat.
            “Rumah temannya dimana, biar besok aku akan mengunjunginya” Ibunya menyebutkan rumah temannya yang dekat dengan rumahnya hanya beda gang saja.

            Yudi menangis saat aku mengajaknya pulang, dia ingin sekali bertemu dengan bapaknya.
            “Aku rindu bapak, aku ingin bertemu dengan bapak,”tangisnya , aku terdiam sebentar sebelum aku memutuskan untuk mengajaknya menengok bapaknya di Bandung.
            “Benar bunda?” tanyanya, tak lama kemudian Yudi sudah memelukku erat sekali dan tangisnya meledak. Belum pernah aku melihat Yudi menangis sehebat ini. Aku raih kepalanya dan kubawa dalam pelukan eratku, Yudi merindukan bapaknya. Selama hidupnya dia belum pernah mengenal bapaknya. Menurut ibunya bapaknya dipenjara saat Yudi baru berusia satu tahun, kini di usianya yang sepuluh tahun , ada rindu yang mendesaknya ingin bertemu setekah dia tahu bapaknya masih hidup.
            “Kalau anak kecil di rumah itu adikmu? “ Yudi menggelengkan kepalanya.
            “Ibu menemukannya di tong sampah, entah bayi itu dibuang oleh siapa, lalu ibu memeliharanya, katanya buat aku agar punya teman bermain.”

            Esoknya aku menyempatkan diri mengantar Yudi untuk bertemu bapaknya di lembaga pemasyarakatan Suka Miskin Bandung. Berangkat dari kota Cirebon pagi-pagi sekali agar Yudi bisa bertemu dengan bapaknya agak lama. Aku melihat Yudi duduk sangat gelisah sebentar-bentar mengganti posisi duduknya
            “Mengapa kau gelisah, mau ketemu bapak ya?’ tanyaku, aku melihat ada rasa cemas di wajahnya.
            “Tenang bapakmu pasti senang bisa bertemu denganmu.” Aku mengusap rambutnya.
            “Oh ya ,lihat bunda  aku membuat pigura dari dus bekas,” Yudi menyodorkannya padaku, aku melihat foto Yudi bersanding dengan ibunya ada dalam bingkai dari dus bekas.
            “Bira bapak gampang mengingat wajahku. Oh, ya Bunda, nanti aku di foto dengan bapak ya pakai hp bunda,” ujarnya bersemangat, aku tersenyum melihat kegembiraan yang mulai terpancar menggantikan rasa gelisah yang tadi tampak di wajahnya. Saat sudah ada di depan lembaga tampak rasa gelisah Yudi makin menjadi, aku pegang tangannya erat. Setelah mengisi buku tamu dan menanyakan kalau ada napi yang benama pak Samiun dari kota Cirebon. Aku menggandeng Yudi masuk ruang tunggu tempat keluarga bisa bertemu dengan para napi. Tampak seorang pria didampingi pegawai lapas mendekat ke arahku, aku melihat wajah Yudi menegang.
            “Pak Samiun, aku mengantarkan Yudi putra bapak, “ aku menyuruh Yudi mendekat. Pak Samium diam saja tak bergeming.
            “Bapak, aku Yudi anak bapak,”tangis Yudi meledak keras, tapi pak Samiun hanya diam saja tanpa ekspresi. Jangan-jangan pak Samiun hilang ingatan atau depresi di penjara. Yudi menangis dan merangkul ayahnya walau bapaknya diam saja tak bergeming.
            “Bapak, Yudi rindu,” begitu ratapan Yudi yang membuatku menangis, aku melihat pegawai lapas memalingkan wajahnya melihat adegan yang memilukan ini.
            “Aku bukan bapakmu, pulanglah,” ujarnya tanpa tedeng aling-aling, wajahnya kaku , tapi sekilas aku melihat ada air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Aku menarik tangan Yudi untuk aku ajak pulang kembali. Aku menganggukan kepalaku. Saat itu aku menyuruh Yudi untuk menuju ke depan lagi, aku mengejar pak Samiun.
            “Bapak benar bapaknya Yudi?’ kalau benar , mengapa bapak tak mengakuinya? Aku menyodorkan foto Yudi padanya.
            “Biarlah dia tidak tahu bapaknya, aku bukan bapak yang baik buatnya, biar dia tak malu punya bapak yang dipenjara,” pak Samiun melihat foto itu dan saat itu dia mengeluarkan air matanya dan mualai segugukan keras sekali.
            “Tolong jaga anak bapak,” ujarnya dan membalikan tubuhnya mengikuti pegawai lapas  yang akan membawanya kembali ke selnya. Aku melihat Yudi dari kejauhan. Aku rangkul dirinya.
            “Yud, masih ada ibumu yang menyayangimu, “ aku menggandeng tangan Yudi, aku berjalan dengannya dalam diam yang panjang, masing-masing dengan pikirannya sendiri.
            “Aku rindu bapak,” suara Yudi samar-samar terdengar.

0 Selamat Datang Bulan Cinta

Sabtu, 01 Februari 2020

Gambar dari sini

Mendapati bulan cinta akan datang
Mengingat banyak cinta yang dikenang
Walau kadang cinta menyiksa pikiran
Saat cinta melemah dalam kurun waktu
Tapi kekuatan cintalah yang mengalahkannya

Saat membendung rasa cemburu
Tapi yang didapat hanya tawa kecil
Andai saja cemburu itu tak ada
Mungkin cinta ini tak semakin erat
Mungkin sudah menyiksa batin

Mendekap banyak kenangan
Saat bersanding denganmu
Hanya membuat getar-getar sendiri di dada
Semua perjuangan itu ujungnya selalu indah
Kata cinta tak perlu lagi

Yang ada hanya memiliki rasa satu sama lain
Menautkan cinta sepanjang waktu
Sampai lelah
Tapi cinta selalu tahu jalannya
Jalan menuju bahagia.....

Selamat datang cinta
Selamat datang bulan Februari

Cirebon, 2 Februari 2020

0 Cinta Kopi Susu

Sabtu, 25 Januari 2020


Sumber gambar  dari sini 
 

Pagi itu seperti biasa warung bi Dedeh selalu penuh dengan warga desa Sukaraja Sukabumi. Entah memang kopinya yang katanya enak atau karena anak perempuan bi Dedeh yang terkenal  cantik, tapi yang jelas warung kopi bi Dedeh tak pernah sepi selalu saja ada orang yang berkunjung. Walau aku bukan penggemar kopi tapi setiap pagi aku datang ke warung bi Dedeh dengan alasan mengantarkan Harun . Padahal aku penasaran dengan pria yang selalu duduk di pojok warung. Wajahnya tampan berbeda dengan pria-pria desa lainnya, aku melihatnya lebih intelektual dibanding yang lain. Aku dan tiga temanku sedang praktek kerja di desa ini.
            “Bi, kopi susunya satu, biasa,”tukasku sambil duduk di sebelah Harun. Aku melirik pria itu sudah duduk di sudut warung sendirian.
            “Nih, neng kopinya.” Bi Dedeh menyodorkan secangkir kopi susu hangat padaku. Aku membawanya ke dekat pria itu.
            “Mau kemana ,”tukas Harun heran. Aku tak menggubris pertanyaannya tapi aku berjalan mendekati pria itu. Aku mencoba duduk di sampingnya.
            “Boleh aku duduk di sini?” Pria itu tersenyum. Aku mengulurkan tanganku memperkenalkan diri.
            “Ara.” Pria itu menoleh sekilas dan menatapku beberapa saat dan tangannya terulur padaku.
            “Yayat.” Nama desa benar pria ini , padahal tampangnya gak kalah dengan pria-pria kota, pikirku saat itu.  Tapi pagi itu pembicaraan aku dan kang Yayat berjalan mulus dan tak terasa aku sudah lama duduk di warung. Aku melirik jam tanganku, aku harus cepat beranjak dari sini untuk ke KUD jangan sampai Dodi menegurku karena terlambat datang.
            “Kang aku pamit dulu,” tukasku dan bergegas membayar secangkir kopi dan berlalu dari sana.

            Aku mulai mencari info tentang kang Yayat dan aku semakin mengagumi dirinya. Kang Yayat mempunyai banyak balong  yang berisi  ikan tawar yang dikelolanya dengan sistim longyam. Balong dan ayam. Kandang ayam petelurnya diletakan di atas balong-balong yang dia miliki sehingga kotoran ayam bisa diguankan sebagi pakan ikannya. Dan hari itu  saat aku menikmati secangkir kopi susu bersamanya lagi, kang Yayat mengajakku ke tempat peternakan longyamnya. Aku mengagumi usaha kerasnya sampai dia berhasil.Berjalan disisinya ternyata membuat perasaanku bergetar dan ada rasa hangat yang menjalar di tubuhku. Aku mulai tertarik pada dirinya. Biar kang Yayat pria desa tapi wawasannya sangat luas. Hari demi hari aku serirngkali datang mengunjungi peternakan  hanya sekedar untuk  ngobrol , tapi sebetulnya ada rindu untuk beremu dengannya lagi.
            “Wah , kayaknya ada yang lagi jatuh cinta nih,” tukas Lala. Aku mendelik pada Lala tak suka. Bukan aku tak mau mengakui tapi aku sendiri belum tahu perasaaan kang Yayat padaku, kalau berita ini menyebar tentu aku yang malu. Aku mengancam mereka untuk tak keceplosan ngomong tentang perasaanku.
            “Tenang saja Ra, pasti gak bakal bocor deh rahasianya tapi harus ada uang tutup mulutnya dong,” tukas Harun menyeringai padaku. Aku timpuk dengan buku yang kubawa, untungnya tepat sasaran kena di wajah Harun. Harun meringis kesakitan.

            Sudah hampir lima hari aku tak melihat batang hidung kang Yayat di warung bi Dedeh, ada rasa rindu ingin bertemu dengannya dan menikmati kopi hangat bersamnya. Aku kehilangan moment bersamanya setiap pagi. Sampai satu minggu lebih aku masih belum melihat kang Yayat di warung kopi bi Dedeh dan itu membuatku sedikit gelisah.
            “Sudah , kamu main saja ke rumahnya kang Yayat, daripada kamu uring-uringan terus ,”tukas Lala. Aku menggeleng keras , bagaimanapun aku tak mau datang ke rumah pria kalau tak diundang. Rasa dadaku sesak menahan rindu. Sampai pagi itu aku tak menemukan lagi wajah kang Yayat, aku mencoba bertanya pada bi Dedeh.
            “Bi, kenapa kang Yayat teh gak pernah ngopi lagi di sini? “tanyaku sambil menyeruput kopi susu hangat.
            “ Kang Yayat teh gak datang kemari lagi karena istrinya sudah datang , sekarang di ruamhnya sudah ada yang menyediakan lagi kopi buat dirinya,” tukas Bi Dedeh sambil melayani pembeli. Aku mencoba bersikap biasa walau detak jantungku ingin berhenti seketika mendengarnya.
            “Istri  Yayat teh lagi sekolah  lagi , sekolah  S2 atau  apa ya, gak tau dah,”tukas mang Karta  yang duduk di sebelahku. Aku mengangguk-angguk , ada rasa kecewa di hatiku, ternyata kang Yayat adalah pria beristri. Harun mengajakku pulang dan merangkul pundakku.
            “Dah Ara jangan sedih ya,  masih banyak  pria yang singel kok. Aku juga bisa kok ,” tukasnya sambil tertawa tergelak. Mau tak mau aku ikut tertawa, aku berterimakasih pada Harun yang bisa mencairkan suasana hatiku yang sedih.

            “Mama, kok melamun,” tegur mas Soni menatapku yang masih melamun sambil memegang secangkir kopi susu hangat.. Aku tersentak kaget  dan hampir saja aku menumpahkan kopi susu hangatku.
            “Hati-hati dong sayang,” tegur mas Soni.
            “Aku gak apa-apa kok pah, “ tukasku berbohong , padahal aku sedang membayangkan kejadian masa silam saat berkenalan dengan kang Yayat melalui kopi susu hangat yang diminum berdua setiap pagi. Kopi susu hangat selalu mengingatkanku akan cinta pertamaku yang membekas di hatiku.