0 Suara Panggilan

Kamis, 17 Agustus 2017



Gambar dari sini 
 

Suara itu menggoyah pagi ini
Membelai pagi ini sebelum terbit mentari
Untuk sujud sejenak dalam doa
Dalam solat yang membelai raga

Suara itu tertanam dalam jiwa
Memanggil setiap saat menagih setiamu
Untuk selalu sujud di hadapanMu
Untuk berbicara singkat mengagungkan namaMu

Suara itu
Terus memanggil
Mendenging di telinga
Lembut
Menusuk hati
Merajam nurani
Sampai kalbu meriapkan suatu asa

Tetap suara itu memanggil
Menutup untaian doa panjang
Menata kembali hidup baru
Pancarkan serpihan keagunganMu

Kini ku tahu suara itu tak akan berhenti
Selalu berbisik singkat
Untuk kembali sujud
Dalam pelukan Ilahi berselimut kedamaian.

Cirebon, 18 Agustus 2017

3 Pembalasan

Kamis, 10 Agustus 2017



Gambar dari sini 
 

         Aku tundukan kepala lama . Aku pandangi nisan milik Nisa sahabatku Sambil membersihkan rumput-rumput yang tumbuh aku mulai bicara.
            “Nisa, tenanglah di sana. Aku sudah membalaskan kekejian mas Reza untukmu. Dia sudah hancur.” Masih sepi.
            “Tenanglah di sana Nisa, akan aku urus putri kecilmu seperti anakku sendiri. Aku janji padamu.”  Masih sepi menggelayuti pagi itu.

            Aku ingat suatu hari Nisa datang padaku dengan mata bengkak. Dia menceritakan tentang suaminya.
            “Dia sudah berubah, Tanti. Dia sudah berubah.” Tangisnya meledak. Aku merangkulnya erat. Tak butuh banyak bicara di saat Nisa perlu menenangkan dirinya terlebih dulu. Dulu aku begitu bahagia melihat kebahagiaan  Nisa dan Reza, mereka berdua sahabat baikku. Mereka mulai hidup baru dengan semangat cinta mereka. Sungguh aku merasakan aroma cinta mereka berdua begitu kuat.  Ternyata tabiat manusia bisa  berubah . Salah satunya karena ambisi. Hidup Reza semakin makmur setelah dia menjadi anggota DPR . Bukan menjadi anggota dewan yang terhormat saja , Rezapun bisa menjadi makelar proyek. Kehidupan mereka berubah. Rumah mewah dan kehidupan yang layak bisa dipersembahkan Reza untuk Nisa.  Tapi itu semua bagi Reza belum cukup. Nafsu untuk meraup uang begitu menggebu . Dan Nisa mulai kehilangan suaminya.

            Kehilangan kehangatan , kehilangan waktu bersamanya. Dan setiap Nisa protes Reza selalu memukulnya. Terakhir yang aku dengar dia menikah siri dengan artis yang baru naik daun. Aku eratkan pelukanku .
            “Aku sudah gak kuat lagi,Tanti. Aku akan gugat cerai mas Reza. ” Aku hanya terdiam, aku merasakan pedih hatinya. Betapa uang bisa menguasai hati orang.  Kedatangan Nisa kali itu adalah pertemuan terakhir dengannya karena dua hari kemudian Nisa meninggal .Menurut Reza Nisa meninggal karena jatuh dari kamar mandi. Entah mengapa aku tak percaya

            Aku dengan mudah bisa mendekati  Reza. Walau aku tahu sekarang  Reza sudah bersama istri barunya . Pertama alasan aku menengok Dinda. Anak imut itu selalu suka saat aku datang karena dia lebih dekat dengan pengasuhnya daripada ibu tirinya. Lama kelamaan aku bisa mengambil hati Reza. Dia sudah jatuh dalam perangkapku. Saat-saat berdua bersamanya, aku bisa merasakan betapa memang Reza pria yang bisa menyenangkan hati wanita. Ah, andai saja Reza pria yang bebas, mungkin aku sudah jatuh cinta . Dan tak menunggu lama ketika akhirnya Reza mengakui kalau dia yang membunuh istrinya secara tak sengaja. Reza tak tahu kalau aku menjebaknya.Semua aku rekam dan bukti itu aku berikan pada polisi.  Tak lama kemudian Reza  ditangkap. Tertangkapnya Reza juga membuka kebobrokan dia sebagai anggota DPR, karena banyak pengaduan yang datang ke KPK. Penjara rumahnya sekarang. Kekayaaannya disita oleh negara. Reza sudah hancur!

            Aku pandangi lagi nisan itu. Tak terasa sudah enam bulan kau meninggalkanku. Aku tersenyum. Baik-baik saja Nisa. Reza sudah mendapatkan pembalasan yang setimpal.
            “Tante , pulang yuk,” ajak Dinda. Aku tersenyum padanya. Aku gandeng Dinda menjauh dari makam. Aku tertawa melihat kegembiraan Dinda. Nisa , semoga kau tenang di sana.


0 Hantu Kembar

Kamis, 03 Agustus 2017




 Gambar dari sini


Teriknya mentari tak menyurutkan aku untuk berlari terus-terus, aku tak ingin berpaling lagi ke belakang begitu menyakitkan. Tiba-tiba aku merasakan tubuhku terlempar dan terjatuh di jalan. Kulihat  mobil yang menabrakku lari.
            “Hoy, balik hoy ada orang tertabrak,” aku mulai kesal, ingin kukejar mobil tapi aku harus menolong korban dulu. Waktu aku lihat aku terkejut, korban tabrak lari itu , aku! Jadi aku ini siapa? Aku memperhatikan tubuhku dan tanganku, beberapa orang mulai datang menolong aku, aku mulai bicara pada mereka tapi sedikitpun mereka tak menanggapinya, apa aku tak terlihat? Artinya , aku sekarang jadi hantu!.

            Aku mulai melayang dan menuju rumahku , aku melihat mama menangis saat tahu aku sudah tidak ada. Tumben mama menangisiku, biasanya mama sukanya marah padaku tapi tidak bagi Lila kembaranku. Aku sering menganggap aku anak tiri mama, karena mama terlihat lebih menyayangi Lila daripada aku. Aku selalu iri terhadap Lila dia selalu mendapatkan apa yang dia mau bahkan cowok yang aku suka, Lila juga yang mendapatkan Reza cowok ganteng di sekolahku. Saat itu aku marah besar saat aku tahu Lila jadian dengan Reza dan aku lari kencang sampai mobil itu menabrakku. Sekarang aku di sini melihat mereka menangisiku. Aku geram sekali saat aku melihat Lila menangis di bahu Reza.  Lila aku kan membalas rasa sakit hatiku, awas saja!

            Saat pemakaman aku, aku mulai mendekati Reza  dan aku mulai membisikan kata-kata padanya. Reza menengok mencari asal suaranya tapi aku tetap membisikan sesuatu pada telinganya. Kukatakan padanya kalau aku mati karena perbuatan Lila  . Lila ingin aku menutup rahasianya agar tidak ketahuan orang lain terutama Reza. Reza terlihat masih mendengarkan aku bicara dan kukatakan lagi kalau Lila hanya pura-pura suka padanya, karena hanya ingin memanas-manasi Lala. Lila tidak suka kalau Lala mendapatkan Reza. Lila sebetulnya sudah jadian dengan Rangga. Aku melihat keterkejutan di wajah Reza.

            “Apa yang harus aku lakukan?” Reza berbisik.
            “Bunuh Lila,”  Reza menggelengkan kepalanya, tapi kuyakini kalau Lila tak dibunuh, nanti akan ada korban lagi. Dan aku katakan bahwa korban selanjutlah adalah Reza.

            Malam itu saat semua sudah tertidur lelap, aku melihat Reza mengendap-endap mendekati kamar Lila. Aku menyuruhnya membuka jendela yang sudah  kubuka. Reza masuk dengan pisau di tangannya. Tanpa ragu aku menyuruhnya menusuk bagian dadanya berulang kali dan darah mengalir deras membasahi tempat tidur Lila. Waktu aku lihat Lila sudah tak bergerak, aku menyuruh Reza memotong-motong tubuh Lila dan darah muncrat ke mana-mana. Reza ketakutan dan melempar pisaunya dan lari keluar secepat mungkin. Aku tersenyum puas, mati kamu Lila, kamu tak bisa mendapatkan Reza lagi. Satu sama. Tiba-tiba ada yang menyentuhku, saat aku menoleh kulihat Lila sudah ada di sampingku.
            “Puas kamu sudah bunuh aku,” teriak Lila. Aku hanya mengangkat bahuku.
            “Yang penting kamu gak mendapatkan Reza,” kataku mendelik padanya.
            “Bisa saja,” katanya tersenyum. Aku tak mengerti tapi aku hanya diam saja. Waktu aku ingin melihat keadaan Reza, aku melihat Reza di kamarnya bersimbah darah.Aku melihat Lila dan Reza sedang bersama , Lila melambaikan tangannya padaku. Ternyata Lila tetap  mendapatkan apa yang dia mau walau dia sudah menjadi hantu!.