4 Aku Ini Ibumu

Sabtu, 09 November 2019

Gambar dari sini

Dalam diam, luka ini berasa seperti sembilu
Tahu tidak? Aku ibumu
Aku merasakan pedihnya hatimu
Ingin kuuraikan air mataku
Tapi aku harus kuat di hadapanmu
Sungguh aku tak rela kau diperlakukan seperti itu
Aku ibumu, aku tak rela

Putus langkahku saat kau beritahu aku apa yang terjadi
Pilu di hati sampai air matapun sulit untuk keluar
Mengapa ini harus terjadi pada anakku
Lalu sakitnya aku melahirkan dia, aku sayang-sayang
Ternyata ada yang menyakitimu
Aku tak rela, sungguh
Hilang seperti debu rasa ini untuk orang yang menyakiti anakku

Tapi berharap kau baik-baik saja anakku
Kau masih punya aku ,ibumu
Kau akan selalu ada dalam dekapanku
Selalu, apalagi dalam kesulitan seperti ini
Biarlah semua harus berlalu
Aku akan menemanimu  dalam dukamu
Sampai kau hilang dengan lukamu

Esok masih akan ada

Bayangan silam itu akan berlalu pasti
Jangan kau bersedih
Di depanmu pasti akan ada yang tawarkan kebahagiaan
Hanya untukmu
Kau tahu, aku masih selalu ada di sisimu
Mendampingimu di kalau kau sedih
Itu yang perlu kau tahu

Walau mengunyah rasa duka
Kau harus tetap optimis
Pasti akan ada indah di sana
Yang akan menjemputmu di waktu yang tepat
Bersama aku kau akan aman
Akan kupeluk selalu dalam kasih sayang
Jangan pernah takut sayang


Pastikan jejak langkahmu pasti
Tataplah masa depanmu masih panjang
Memeluk harapan di ujung senja
Pastilah ada untuk dirimu
Asa yang akan memberimu kebahagiaan sejati
Yang memberimu ketenangan dalam hidupmu
Aku akan selalu mendoakanmu

Cirebon, 10 November 2019

2 Bulir-Bulir Air Mata

Sabtu, 02 November 2019

Gambar dari sini

Saat ini aku masih berdiri di depan kelas, masih mengajar dengan hati. Masih kutatap sobat-sobat remajaku.Entah mengapa kali ini aku memadang mereka dengan tatapan sedih. Ya, ini terakhir aku berdiri di hadapan mereka, sebetulnya aku tak sanggup , tapi aku menguatkan hatiku untuk berdiri di hadapan mereka. Aku sibuk untuk menahan agar air mata ini tidak tergulir jatuh, aku tak mau memperlihatkan kesedihanku di depan mereka. Mereka tak perlu tahu, betapa rasa sesak di relung hatiku harus meninggalkan mereka , sungguh aku belum ikhlas!

            Memang aku harus meninggalkan apa yang sudah aku cintai bertahun-tahun.Mengajar adalah kecintaanku yang luar biasa karena aku selalu menggunakan hati dan ketulusan untuk mencintai mereka .Mereka kurengkuh dalam kasihku agar bisa bersama-sama meraih mimpi-mimpi mereka. Mungkin kecintaanku ada yang membuat orang lain cemburu. Cemburu kadang membuat rasa dengki yang berlebihan dan mampu menyakiti perasaan orang lain. Sungguh aku tak mau itu terjadi tapi itu semua sudah ada di hadapanku terpampang jelas. Aku tak mungkin menghindar lagi , semua jelas nyata. Tapi , apakah mereka tahu hati yang di luar tampak tegar tapi semua itu salah.Hatiku ringkih, sakit hati yang menyelusup dalam relung hati karena sebaran fitnah untukku , nyatanya sulit kuhapuskan. Aku mulai bertahan semampuku, tapi semua itu tak membuat orang-orang yang cemburu mengendorkan rasanya sehingga hatiku selalu tergores rasa yang membekas membentuk luka yang selalu menganga.

            Renungan panjang dan solat isthikaroh terus kulakukan sampai titik dimana  aku yakin harus pergi. Bukan aku menyerah atau kalah, bukan.Tapi mungkin dengan kepergianku, mereka menyadari bahwa aku di sini bukan mencari materi atau ingin dikenal hebat atau ingin dikenal dekat dengan murid-murid tapi aku hanya ingin berbagi dengan sobat remajaku dengan rasa cinta tulusku.Hijrah itu jalan yang terbaik bagiku, karena aku yakin di luar sana masih banyak anak-anak yang bisa aku bagi kasih tulusku untuk mereka. Kini hanya keiklhasan yang kudengungkan dalam sanubariku. Berat melepaskan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari hidupku tapi sungguh aku harus ikhlas!

            Kini saat aku berdiri di hadapan mereka pada saat-saat terakhir , hanya senyum tulus yang bisa kuberikan pada mereka. Pergolakan batin yang amat mendera hampir dua bulan terakhir ini kini tuntas sudah.Kini  aku bisa tersenyum tulus buat mereka dan banyak kata yang bisa kuberikan pada mereka, selamat tinggal sobat remajaku. Aku bahagia bisa bersama dengan kalian. Selamat tinggal dan akan kusambut jendela cintaku untuk banyak anak-anak lain yang membutuhkanku!

2 Angin Yang Menghempas

Jumat, 25 Oktober 2019

Gambar dari sini

Beselimut bayang-bayang sore itu angin semilir mulai terasa
Sejuk menghantap dinding-dinding kulit
Tapi itu tak lama
Angin mulai bertiup keras
Dan suaranya mulai menderu

Dan dari kejauhan tanah mulai berputar ke atas mengikuti arah angin
Suara hentakan angin mulai seperti teriakan
Pusaran angin mulai membawa apa yang ada di tanah
Ikut berputar seperti gasing
Dan sekelilingnya mulai menggelap

Semakin malam semakin keras
Menghantam apa saja yang dilewati
Angin mulai tak ramah
Saat semua terhantam tanpa sisa
Hanya tinggal puing-puing yang berserakan

Ah , angin berhenti dengan meninggalkan luka
Luka bagi sebagian orang yang kehilangan harta bendanya
Membuat lidah kelu tanpa mampu bicara
Hanya pandangan kosong
Akan kemanakah hidupnya kelak?

Cirebon, 26 Oktobr 2019



0 Darah Di Tengah Hujan Lebat

Jumat, 18 Oktober 2019


Gambar dari sini 
 

Malam itu saat hujan turun lebat dan segala petir meneriakan suaranya yang keras. Angin berdesau membuat telingaku tak mampu lagi untuk mendengar tangisan hujan . tanganku masih bersimbah darah, kulepaskan pisau dapur , keringat mengalir terus dari dahiku. Keberanian macam apa yang telah aku perbuat? Kekuatan yang aku sendiri tak tahu dari mana. Apa mungkin ini merupakan cetusan rasa sakit yang selama ini kupendam sendiri dalam duka yang panjang?. Malam-malam sepi yang harus kulalui sendiri tanpa kasih yang seharusnya aku temukan dari suamiku. Aku telah membunuhnya.  Aku membunuhnya. Kulihat tubuh suamiku terbujur kaku di lantai, dengan luka tusukan yang bertubi-tubi dan tusukan di dadanyalah yang mungkin telah menghabiskan nyawanya.  Aku masih diam dalam bisu, diam tanpa kata dan aku terduduk dalam duka yang kutahu akan semakin panjang kulewati....

            Aku masih ingat perkenalanku dengan mas Arif di suatu seminar kebangsaan di Islamic Center di kota Tangerang. Mas Arif  adalah salah satu pembicara di seminar itu. Aku dikenalkan Boy teman kuliahku pada mas Arif. Perawakan sedang dan yang aku suka dia smart, bukan tipe lelaki yang playboy atau pecicilan dan tampaknya sopan .  Perkenalan singkat itu tak membawa rasa di hati , karena aku kembali sibuk dengan urusan aku kuliah.
            “Indah, dapat salam tuh dari mas Arif”, kata Boy. Aku cuma tersenyum.
            “Oh, ya salam lagi deh,” kataku . Selang beberapa bulan kemudian , aku dikejutkan saat mas Arif datang ke rumahku. Tidak hanya sekali itu saja mas Arif datang tapi selanjutnya dia selalu rutin mengunjungi aku. Herannya ayahku bisa dekat dengan mas Arif , padahal biasanya ayahku paling gak suka dengan teman-teman cowokku yang lainnya. Yang aku tahu, aku mengagumi mas Arif sebagai cowok yang smart, aku memang suka dengan cowok yang smart dibanding dengan cowok yang cuma bisanya bergaya tapi otaknya nol besar. Cinta?, aku tak tahu, apa aku cinta dengan mas Arif tapi perasaanku masih belum ada getar-getar yang membuatku jatuh cinta dengannya. Aku hanya menghormati karena dia pandai dan semua oang juga akan mengatakan hal yang sama denganku.
            Di bulan ketiga setelah banyak kunjungan mas Arif , dia melamarku. Ku belum bisa menjawabnya karena aku masih harus menyelesaikan kuliahku.
            “Indah, kenapa kamu masih ragu-ragu, ayah lihat dia pria yang baik untukmu,” kata ayah,”masalah kuliah kan masih bisa diteruskan setelah menikah”.
            ‘Biar Indah selesaikan kuliah dulu ayah, tanggung tinggal satu semester lagi”, kataku.
            “Gimana kalau kalian tunangan dulu, seenggaknya masing-masing jadi terikat satu sama lainnya,” usul ayah.  Aku hanya menggelengkan kepalaku, karena aku pikir aku mau konsentrasi belajar dulu , sebelum direpotkan urusan rumah tangga. Ayah cuna bisa menghela nafas , tampak rasa kecewanya.

            Akhirnya dua tahun kemudian aku sudah menyandang gelar nyonya Arif. Mas Arief tak mengijinkan aku bekerja. Aku sebetulnya mau protes, karena aku ingin seperti teman yang lain punya penghasilan sendiri dan bisa mengatualisasi diri, tapi kulihat sorot matanya yang menandakan ketidak setujuan akhirnya membuatku urung untuk protes. Akhirnya aku hanya mengurus rumah tangga dan keperluan mas Arif. Seiring waktu , aku mulai melihat perangai mas Arief yang aku tak suka, mas Arif terlalu menuruti apa kata ibunya, bukan aku tak suka tapi bagaimanapun istrilah yang harus diajak bicara dalam memutuskan suatu hal. Satu hal lagi, mas Arif selalu memberikan uang hanya untuk sehari saja, tidak pernah uang gajinya seluruhnya diberikan padaku,untuk aku kelola . Pernah aku tanyakan tapi jawabannya tak masuk akal dan terlalu mengada-ngada. Aku hanya bisa diam saja, mau mengadu pada ibu dan ayah ,mereka sudah menilai mas Arif adalah pria yang terbaik buatku.

            Hampir setahun aku menikah tapi aku belum dikaruniai anak, banyak pertanyaan yang sampai di telingaku. Itu tak seberapa, tapi yang membuat kupingku panas adalah sindiran mertuaku kalau aku wanita mandul. Aku mengeluh pada mas Arif tapi apa jawaban yang kuterima , mas Arif malah menuduhku hal yang sama. Hari-hariku terasa menyakitkan, di saat aku sendiri , aku merasa kesepian tidak ada teman untuk berbagi suka dan duka. Tidak ada yang bisa menenangkan hatiku yang gundah. Aku ingin memeriksakan ke dokter tapi aku tak punya uang.
            “Mas, gimana kalau kita ke dokter untuk memeriksakan kenapa aku belum hamil?,” tanyaku . Mas Arif menatapku tajam .
            “Kamu pikir , ongkos ke dokter itu murah, kalau ada sesuatu di rahimmu tentunya biayanya akan mahal,” kata mas Arif sambil tetap membaca buku. Aku terpana mendengarkannya, uangnya tak mau dikeluarkan untuk kepentingan bersama , bagaimana kalau aku sakit keras!. Aku hanya bisa gigit jari

            Pagi itu aku dikagetkan dengan kedatangan mertuaku. Aku heran , biasanya selalu datang kalau ada mas Arif. Aku mencium tangannya, tapi wajahnya kulihat tampak kesal.
            “Arif sudah pergi kerja?,” tanyanya. Aku hanya mengangguk.
            “Kasihan Arif , dia kesepian tidak ada celotehan anak kecil di rumahnya,” katanya,” coba orang lain pulang kantor sudah disambut dengan celotehan anak kecil.” Aku hanya berdiam diri , aku tak mau mengomentari omongannya. Tanpa basa basi lagi, mertuaku menuturkan rencananya kalau mas Arif akan dikawinkan lagi dengan anak temannya yang katanya bakal bisa memberikan cucu buatnya. Aku diam membisu , hanya air mata terus mengalir . Kuhanya bisa memandang kepergian mertuaku dengan perasaan hancur.tidak ada satupun yang membelaku, tak ada.....
            “Mas, ceraikan aku,” pintaku pada mas Arif.
            “Cerai, untuk apa?,” tannyanya.
            “Kan mas mau kawin lagi dengan anak teman ibu,” kataku.
            “Kenapa, kan laki-laki boleh beristri lebih dari satu,” katanya enteng
            “Pokoknya aku gak mau, ceraikan aku,” teriakku. Tapi mas Arif tak bergeming sama sekali. Duka panjang yang akan kulalui sudah terbentang di hadapanku. Masa-masa sulit harus kuhadapi. Sepi yang menyelimuti diriku selalu kulewati di malam-malam sepiku saat mas Arif ada di rumah istrinya yang lain. Aku semakin menderita dalam lara, banyak dendam dan sakit hati yang menyelimuti hatiku. Aku mulai membenci semua keadaan ini , kuhanya mengurung diriku di kamar terus dan kuabaikan diriku dalam kekelaman .

            Sampai suatu saat kudengar istrinya Nina telah melahirkan anak laki-laki, dan aku semakin tersudut dalam sepi yang panjang.  Mas Arif lebih banyak berada di rumah Nina dan  aku dibiarkan sendiri tanpa kasih sayang , tanpa uang. Ingin kulari dari kenyataan ini, aku menyesal mengapa dulu aku tak bekerja. Kini uangpun aku tak punya, aku tak bisa pergi dari rumah yang membuatku sakit hati. Kumulai merasakan tubuhku melemah, kusering muntah-muntah. Aku terbaring lemah , tak ada satupun yang peduli.

            Sampai suatu saat, malam itu, mas Arif datang , dan dia hanya menceritakan tentang kelucuan anaknya. Sungguh mudah baginya untuk bercerita  tanpa memahami rasa sakit yang harus kurasakan. Malam semakin larut, hujan masih turun dengan petir yang memekakan telinga , kutatap wajah mas Arif yang tertidur dalam lelapnya. Aku benci dia, aku benci, tak pernah dia memberikan aku ketenangan , hanya sakit yang kamu derakan untukku. Aku tak mau melihatmu lagi, tak mau. Kamu tak mengijinkan  aku untuk bercerai, apalagi yang akan kamu tusukan dalam hatiku?.  Aku memegang pisau dapur, kupejamkan mataku dan diluar masih turun hujan, kutusukan sekuat tenagaku di dadanya dan terus kutusukan pisau ke bagian tubuhnya sampai kutahu dia sudah tak bernyawa lagi. Tubuhnya terkapar di lantai. Aku masih memegang pisau yang berlumuran darah, sementara di luar masih turun hujan lebat dan petir menari-nari sambil meneriakan suara yang mengelegar dan membuatku terkejut. Aku sudah membunuh suamiku sendiri!. Aku seorang pembunuh!