4 Siluet

Senin, 15 Oktober 2018

Gambar dari sini

Siluet itu hanya bayang-bayang
Tapi kadang bayang-bayang itu mengikuti
Tak pernah mau hilang
Bersama dalam suka dan duka
Kadang siluet itu membuat rasa takut yang mendalam
Rasa seperti ada yang menghantui
Perasaan yang begitu mendalam seperti ada seseorang yang mengikuti

Akankah siluet itu membuat rasa ini ragu
Akankah siluet itu merampas bahagia ini
Akankah siluet itu jadi bayang-bayang menakutkan
Itu sangat menggangu
Membuat hati resah
Pergilah bayang-bayang itu
Kalau kamu membuat rasa ini takut

Tapi bayang-bayang itu selalu ada
Dan selalu membayangi sisi lain hidup
Terbiar sendiri tanpa bayang apakah bisa?
Kenapa bayang-bayang selalu mengikuti
Lenyaplah dalam hidup
Jangan jadi pengikut
Itu hanya akan membuyarkan banyak asa

Hanya bayang-bayang masa lalulah yang menakutkan
Masa yang membawa luka
Tapi bayang-bayang itu selalu muncul
Entah kenapa
Ingin kau pergi , jangan ganggu hati ini
Biarlah aman dengan bayang-bayang baru
Yang membuat diriku tak resah lagi

Cirebon, 16 Oktober 2018

0 Akhir Dari Perjuangan

Senin, 08 Oktober 2018


Sumber gambar dari sini 
 

            Aku masih tertatih-tatih melangkah. Sendiku sedang kumat, namun tadi pagi aku paksakan untuk  berlatih. Aku ingin merebut kembali juara dunia bulutangkis. Walau banyak yang mencemooh karena kondisi lututku yang tidak bagus setelah kecelakaan yang menimpaku  tiga tahun lalu. Tapi aku bertekad sebelum aku menggantung raketku aku harus merebut kembali juara dunia kembali ke pangkuanku. Aku melangkahkan kaki perlahan , lututku semakin nyeri apalagi kalau dipakai berlatih.
            “Niar, kamu tak apa-apa?” tanya pak Didin penjaga stadion.
            “Gak, pak, hanya sakit sedikit.” Aku duduk di kursi untuk meluruskan kakiku.Perlahan aku selonjorkan kakiku. Sedikit sakit tapi aku paksakan agar aliran darah kembali lancar. Pak Didin menghampiriku , tangannya mulai memijit kakiku. Pelan tapi terasa enak. Aku terdiam lama menikmati pijitannya.
            “Masih bertahan untuk ikut pertandingan dengan kaki seperti ini?”
            “Iya.” Aku mengangguk . Pak Didin tersenyum .
            “Memang kamu keras kepala seperti bapakmu.” Aku menatap bola mata pak Didin yang tampak memberikan api semangat bagiku. Ada getaran yang membuatku kembali punya semangat tinggi .Walau berat untuk bisa meraih juara dengan kondisi kakiku seperti ini. Apalagi PBSI tak mau memberangkatkan aku karena kemungkinan aku menang tipis. Tapi dengan biaya aku sendiri aku bertekad untuk ikut berjuang membela negaraku. Apapun itu. Aku ingin menorehkan sejarah sebelum aku benar-benar ikhlas menggantungkan raket.

            Aku meneteskan air mata saat aku ingat ayah. Ayahlah yang memperkenalkan aku dengan dunia bulutangkis. Dari kecil aku dilatih . Keras memang hasil didikannya . Kadang marah dan pukulan ayah kalau aku malas berlatih membuatku ingin berhenti berlatih. Tapi berkat kedisiplinan ayah melatihku, sedikit demi sedikit aku mulai meraih juara. Mulai dari juara kabupaten, kotamadya dan propinsi .Akhirnya aku ditarik oleh klub bulutangkis Pesona Kasih untuk bergabung. Mulai saat itu latihan yang semakin berkembang dengan pelatih yang handal membuatku terus meningkat. Juara dunia aku raih!!!! Juara dunia berkali-kali aku raih sampai tiga tahun yang lalu aku mengalami cidera kuat saat melawan atlit Korea Selatan. Lututku robek dan tulangnya patah dengan radang yang menjalar luas. Aku harus mengaku kalah . Dan aku juga harus kehilangan kesempatan untuk bertanding karena kakiku mengalami kendala besar. Sembuh tapi tak bisa seperti sedia kala. Kakiku agak pincang . Kaki adalah modal utama akhirnya aku harus menerima keadaan aku . Aku tak terpilih lagi masuk di pelatnas. Hampir setahun aku hanya luntang lantung tak tahu apa yang aku kerjakan. Bekerja aku tak punya keahlian tapi ada rasa di dada ini untuk bisa meraih kembali kejayaan aku dulu. Semangat itu terus bergelora. Akhirnya aku memutuskan untuk berlatih kembali. Tapi ternyata tak mudah dengan kaki yang pincang. Belum lagi cemoohan yang datang padaku termasuk keluargaku.
            “Apa lagi yang kamu cari Niar? Lihat kakimu untuk berjalan saja sudah susah apalagi mau bertanding,”keluh ibu yang sudah kesal dengan kenekadanku untuk ikut bertanding. Ibu mulai marah saat aku akan mengeluarkan tabunganku utnuk ikut bertanding di kejuaraan dunia di Korea Selatan .
            “Apa-apaan Niar. Itu sama saja buang-buang uang. Uangmu habis kamu gak dapat apa-apa. Lebih baik uang itu untuk modal usaha.” Ibu begitu marah saat aku mengutarakan maksudku.
            “Percayalah padaku bu. Aku tak akan mengecewakan ibu,”tukasku. Coba kalau ayah masih ada mungkin ayah akan berdiri paling depan membelaku. Akhirnya ibu tak bisa berbuat apa-apa . Tekadku terlalu kuat mengalahkan segalanya. Aku hanya minta doa restu ibu.
            “Doakan aku bu.” Ibu mengangguk pasrah. Aku yakin dalam hatinya ibu akan mendoakan aku selalu.

            Begitulah aku sudah sampai semifinal kejuaran dunia. Tak ada yang menyangka aku bisa sampai semifinal, tapi aku menguatkan diri sendiri aku akan terus maju sampai final. Walau aku tahu lawan-lawanku semakin berat. Cina, Korea Selatan dua negara itu yang aku takutkan. Tapi kali ini aku tak mau kalah lagi dari Korea Selaatn. Akan aku balas kekalahanku tiga tahun yang lalu. Walau lututku mulai terasa perih dan sakit tapi malam hari aku selalu kompres dengan air es. Tak lupa aku minum obat yang diberikan oleh dokter Pri. Aku juga harus berterimakasih pada dokter Pri yang membantuku memberikan obat-obatan kalau aku mengalami rasa sakit berlebihan saat bertanding.  Dan tak menyangka akhirnya aku masuk final melawan Park Chuan Ho dari Korea Selatan. Musuh aku tiga tahun yang lalu, kembali  berhadapan dengannya kembali.  Tekadku untuk membalas kekalahanku sudah bulat walau sekarang kakiku mulai sering terasa sakit. Mungkin hampir setiap hari aku forsir bertanding. Dalam waktu tiga hari menuju final, aku hanya akan berlatih fisik sambil mempelajari vidio-vidio pertandingan Park Chuan Ho. Aku harus mencari titik kelemahan dari lawanku.
            “Niar, sedang apa ?” tanya pak Sapto pelatih pelatnas saat aku masih duduk melihat vidio.
            “Mencari kekurangan Park Chuan Ho.” Pak Sapto ikut melihat sambil memberikan beberapa komentar dan sedikit taktik untuk melawan Park Chuan Ho. Aku menatapnya dengan rasa terimakasih.
            “Makasih pak.” Pak Sapto tersenyum dan menepuk pundakku untuk memberi semangat.

            Ini sudah set ketiga set perpanjangan. Lututku terasa sakit sekali. Skor di papan tampak unggul Park Chuan Ho 18-16. Serve dari Park aku tangkis dan aku arahkan di pojok kiri tempat yang sulit dijangkau. Dan masuk. Terus melaju saling menambah nilai dan nilai 19-19. Dua nilai lagi. Terasa basah kakiku. Aku lirik lututku robek, darah mengalir. Tapi tekadku semakin kuat, rasa sakit tak membuatku luruh. Aku tahu Park Chuan Ho melihat aku luka, tapi aku tak akan mengendurkan seranganku padanya. 19-20. Satu poin lagi untukku.  Serve dimulai dari Park Chuan Ho. Bola masih bisa diambil oleh Park. Smashku masih bisa diangkat . Darah semakin  mengalir, kepalaku mulai terasa pusing tapi aku tak boleh kalah. Tinggal selangkah l;agi. Bola kembali ke arahku dan dengan sekuat tenaga aku arahkan ke pojok kiri. Aku berlutut karena aku sudah tak kuat lagi menahan tubuhku. Dan bola dinayatakn masuk oleh wasit. Gemuruh suara penonton bertepuk tangan . Tubuhku gemetar dan aku tak sadarkan diri. Aku seperti terbang tinggi di atas awang-awang. Ayah datang menghampiriku.
            “Kau hebat anakku. Kau memang juara sejati. Ayah bangga padamu.” Aku diajak ayah ke suatu tempat yang damai . Entah apa namanya. 

8 Bisik Berbisik

Senin, 01 Oktober 2018

Gambar dari sini 
 

Mendengar celoteh satu wanita belum usai
Berita sudah tersebar dari mulut ke mulut
Seperti roket yang menerjang di udara
Tak ada lagi penghalang
Terus berentet
Panjang sepeti ular
Dari satu kata bisa jadi seribu kata
Dari satu makna menjadi lain makna
Oh gosip terus menyebar......
Tak pernah berhenti

Sejauh apapun  pasti celotehan wanita selalu terdengar
Seperti teriakan yang begitu keras
Dan memekikan telinga
Tapi berita terus berputar
Dan sudah tak sesuai dengan aslinya
Jadi fitnah
Entah siapa yang salah karena terus tersebar
Dari mulut yang suka berbisik
Tapi menyakitkan
Tak pernah diam, terus bergosip

Separah apa duka yang terjadi
Akibat fitnah yang terjadi
Dari gosip murahan yang tersebar
Tapi semua tetap berbisik dari satu mulut ke mulut lainnya
Seperti air yang tak pernah surut
Terus
Tak terkirakan akibat mulut
Nyinyir tak terbatas
Sampai korban berjatuhanpun tak bergeming
Inilah buah dari mulut yang tak pernah diam

Cirebon, 2 Oktober 2018

0 Cewek Tomboy

Senin, 24 September 2018


Gambar dari sini 
 

Rasanya aku seperti terlahir kembali menjadi orang baru setelah banyak peristiwa yang membuatku sadar bahwa apa yang kulakukan selama ini adalah salah. Mama begitu bangga melihatku bisa mengalami perubahan yang membuat mama menangis terharu. Mama sangat berterimakasih padaku atas banyak pengertian selama ini yang membuatku merasa tidak pernah diperhatikan. Saat ini aku hanya bisa tersenyum , bahwa apa yang kulakukan sekarang ikhlas  untuk mbak Arum.

            Aku identik dengan bandel, bawel , tukang bikin onar dan entah apa lagi sebutan untukku , baik oleh teman-temanku, guruku bahkan oleh mamaku sendiri.Aku lebih suka bermain dengan cowok dibanding cewek, menurutku cewek  itu cengeng , cuma bisanya kecentilan apa lagi kalau ada cowok cakep, mulai deh lebay cari perhatian. Dan sudah berapa kali mama dipanggil sekolah karena kenakalanku .
            “Rani, mama gak tahu lagi harus bagaimana dengan kelakuanmu, tidak...,” kata mama
            “Tidak seperti mbak Arum kan, begitu kan mama mau ngomong, selalu saja mbak Arum , mbak Arum lagi, pokoknya Rani sebel!!!!” teriak Rani sambil membanting pintu kamarnya. Kenapa mama selalu memperhatikan mbak Arum tapi aku tidak, aku sering berpikir kalau aku ini anak pungut. Pernah aku mengendap-endap ke kamar mama dan mencari di lemarinya berkas –berkas surat , kali-kali ada surat adopsiku, tapi belum kutemukan , tapi aku masih percaya kalau aku anak pungut..

            Akhir pekan ini mama harus meninggalkan aku dan mbak Arun di rumah sendiri karena mama dan papa harus menghadiri acara pernikahan anak om Pardi di luar kota. .Hari itu aku belatih band dengan sahabat-sahabatku di studio 101, dan karena keasikan berlatih main band, aku tak melihat jam tanganku , kalau malam sudah larut. Saat kulihat jam tanganku , aku terkejut karena sudah jam 10 malam.
            “Sudah dulu Rud latihannya, antarkan aku pulang dong,” kataku.
            “Katanya orangtuamu gak ada di rumah, kamu kan bisa bebas,’ kata Rudi.
            ‘Iya, tapi kan ada mbak Arum , pasti dia bakal lapor sama mama,” kataku.
Akhirnya Rudi mengantarku pulang saat malam sudah menjemput.  Lampu ruang tamu sudah dipadamkan , berarti mbak Arum sudah tidur, tapi bagaimana aku bisa masuk rumah . Perlahan aku membuka pintu , ternyata pintu belum dikunci, lega rasanya. Kututup perlahan-lahan, tapi kulihat mbak Arum duduk di ruang tengah sambil tekantuk-kantuk.Waktu aku mau membuka pintu kamarku, mbak Arum terbangun dan melihatku.
            “Ran, kamu kemana saja , mbak kan bingung dan mbak capai menunggumu pulang,” tegurnya. Aku mendelik padanya tidak suka
            “Mau lapor ama mama, silahkan lapor saja , dasar tukang ngadu,” bentakku. Tapi , sesaat kemudian aku melihat mbak Arum sesak nafas dan menggap-menggap.
            “Mbak, mbak , kenapa.....mbak,’ teriakku. Sesaat kemudian mbak Arum pingsan. Cepat kubawa mbak Arum ke rumah sakit . Aku telepon mama ,mengabarkan kalau mbak Arum masuk rumah sakit.

            Sungguh aku merasa bersalah, ternyata aku baru tahu kalau mbak Arum punya kelainan jantung,jadi mbak Arum tidak boleh capai dan terlalu kaget. Kini kusadar , mengapa mama lebih memperhatikan mbak Arum daripadaku. Aku  mulai merubah sikapku untuk menjadi pribadi yang lebih asih dan baik, mungkin kecemburuanku pada mbak Arum yang menyebakan aku bertingkah laku nakal.