7 Hamparan Sawah Di Kaki Gunung

Senin, 14 Januari 2019



Saat memandangmu dari kejauhan
Hamparan luas kupandang
Hijau menimbulkan ketenangan
Saat jauh kupandang dalam hening
Inilah alam pegunungan

Menggambarkan hati ketika bayang-bayang itu
Melewati jalan-jalan setapak di pematang sawah
Hanya ada padi yang mulai ditanam
Di kejauhan gunung berdiri gagah
Seperti lukisan alam yang indah

Begitu sunyi terasa di sana
Tenang tak mendustai alam
Begitu mempesona, dalam angan yang indah
Jika ada di sana cerita akan mudah ditebak
Hanya ada rasa di hati memegang keindahan alam

Kini lukisan alam itu sudah menghilang dari pandanganku
Hanya sekejap tapi nuansanya begitu meresap
Tercipta dengan sendirinya
Menggambarkan alam yang mempesona
Masih dalam alam pendesaan yang sunyi

Cirebon, 15 Januari 2019
Saat memandang gunung dan hamparan sawah dari kejauhan.

2 Be Yourself, Ratna

Senin, 07 Januari 2019


Gambar dari sini 
 

Di sekolah SMA Pertiwi siapa tidak kenal dengan trio bebek  Sita,Ratna dan Joy, trio bebek tak pernah terpisahkan , kemanapun mereka pergi selalu bertiga. Di sekolah itu ,trio bebek punya saingan berat trio centil, Mira, Klara dan Nancy. Gue, Joy, bangga menjadi bagian trio bebek yang punya otak cemerlang walau tak pintar-pintar banget dan sudah pasti cerewet, makanya gue termasuk trio bebek. Gak seperti trio centil yang bisanya pamer kekayaannya, dan dandanannya norak banget, bando yang masih dipadu dengan jepit dan asesoris lainnya yang membuat mereka tampak seperti ondel-ondel, dan otak merekapun kosong melompong, entah diisi apa otak mereka. Hampir setiap hari menyalin pekerjaan rumah di kelas , belum kalau ulangan sibuk dengan contekannya.
            “Lihat tuh,” Ratna menunjuk trio centil yang masuk ke kantin dengan gayanya yang sok kecantikan, memang sih Nancy punya kulit mulus dan putih tapi entah mengapa kecantikannya begitu saja hilang dengan sikapnya yang sok itu! Gue cuma mencibir saja melihat tingkahnya.
            “Ih, rasanya pingin nabok tuh anak,” Sita mulai ngomel dan mie yang ada di mulutnya hampir saja keluar lagi.
            “Jorok sih elu, Sita,” teriak gue melempar serbet padanya dan terdengar suara yang membuat gue naik pitam.
            “Eh, gua rasa mereka-mereka itu memang sok , sok pintar, tapi dari tampangnya sih temasuk orang-orang kagak punya, miskin gitu loh,” trio centil mulai cengengesan dan duduk di meja yang selalu mereka tempati dan tak ada yang berani menempatinya .
            “Eh, apa lu bilang gue miskin, emang gue miskin, daripada elu-elu pada, ngakunya orang kaya, yang gue tahu sih cuma Nancy aja yang kaya, nah elu,elu, sok kaya.” Mira berdiri dan mulai menantang gue, tapi jelas gue gak mau kalah dan sudah ambil ancang-ancang buat mukul mukanya yang jerawatan itu.
            “Udah-udah jangan gelut di sini, nanti ibu yang diomelin pak kepala sekolah,” bu kantin melerai. Gue sebel banget sama bu kantin, lagi enak-enaknya mau nonjok si Mira malah dihalang-halangi, sialan!!!!!

            Sampai suatu saat persahabatan  gue dengan yang lainnya diambang kehancuran, entah mengapa Ratna mulai menjauh setelah dia mendapat tugas kelompok bersama trio centil itu.
            “Aduh kenapa gue jadi sekelompok dengan mereka sih, payah bu Anita,” keluh Ratna setelah tahu kelompok praktek biologinya segrup dengan trio centil. Untungnya di grup gue masuk Sarah yang gue kenal juga orangnya gak macam-macam malah cendenrung pendiam.
            “Ia, habis gimana lagi, itu memang sudah nasib elu saja,” tukas Sita.
            “Hati-hati Rat, kali-kali elu ketularan mereka,” gue dan Sita tertawa bersama dan Ratna hanya memperlihatkan tampangnya yang cemberut, jelek sekali seperti monster, sebelum gue kena timpuk, gue dan Sita sudah berlari menjauh dari Ratna. Apa karena memang gue doain Ratna ketularan trio centil , gue milihat Ratna mulai menyerupai mereka semenjak dia masuk grup biologi dengan mereka dan jarang sekali bergabung dengan gue, banyak saja alasannya.  Gue mulai sebal melihat tingkah Ratna yang sekarang  rada-rada mirip dengan trio centil, apa emang sudah ketularan dengan mereka ya.
            “Makanya elu sih, pakai doain Ratna ketularan,jadi bener kan,”tegur Sita, Sarah hanya memandang kami berdua dengan senyumnya.
            “Elu jangan senyum saja Sar,”gertak gue, dan gue milihat trio centil diikuti dengan Ratna di belakangnya mulai duduk di meja kantin. Gue sikut lengan Sita untuk melirik mereka, Ratna sekalipun gak menoleh atau menyapa . Sebel! Dan yang bikin gue sebel sekali sama Ratna , kayaknya dia sudah seperti pembantunya trio centil.
            “Kok, dia mau disuruh-suruh ya, kaya gak punya sikap gitu,”tukas Sarah menimpali. Gue mengangguk setuju.

            Parahnya lagi, hampir semua pekerjaan rumah trio centil menyalin punya Ratna, bahkan kalau ulanganpun Ratna selalu memberi mereka contekan. Sungguh aneh prilaku Ratna.
            “Rat, ada apa dengan elu, kok elu kayaknya jadi berubah gitu, mau-maunya memberi contekan ulangan dan PR buat mereka,”gue menegurnya keras dan menatapnya tajam, eh Ratna malah menjauh dari gue tanpa memberikan jawaban yang memuaskan gue, gue hanya terbengong saja melihatnya.
            “Sudahlah Joy, kayaknya kita bakal kehilangan satu sahabat kita, tapi yang jelas , masih ada Sarah ama gue,” tukas Sita. Gue mengangguk setuju. Apa peduli gue kalau Ratna sudah gak mau berteman dengan gue lagi, kalau memang dengan trio centil Ratna bisa senang, gue juga ikut senang. Sebetulnya juga gak sih, dalam hati gue sih masih mengharapkan Ratna bakal balik dengan grup gue, karena gue dengannya sudah lama sekali menjadi sahabat, mengapa dengan tiba-tiba harus berpisah dengan alasan yang tidak masuk akal. Itu hidupnya Ratna , gue mana punya hak untuk menyuruhnya kembali. Gue cuma sedih saja.
            “Elu sedih gak, Sita, kalau gue sih sedih banget ,Ratna  jadi bukan bagian hidup kita lagi”. Lama-lama gue jadi sebal dengan Ratna yang mulai mengikuti gaya berpakaian trio centil dan gaya bicaranya juga mulai ikut-ikutan, rasanya gue mau muntah saja.
            “Dah elu muntah saja Joy,” tegur Sita . Gue mendelik padanya  marah, tapi bukan Sita yang akan tetap cuek saja walau gue sudah pasang tampang galak padanya. Akhirnya gue, Sita harus menerima kenyataan pahit hilangnya seorang sahabat dan mulai saat ini, gue tak mau berurusan lagi dengan yang namanya Ratna , apapun itu!!! Sudah janji gue pada diriku sendiri!!!!

            Hampir lima bulan gue gak bersama lagi dengan Ratna, walau kadang hati ini masih saja sakit tapi gue gak mau sedih , karena Ratna juga belum tentu sedih tidak berteman lagi dengan gue. Malah Sarah sekarang menjadi  bagian dari hidup gue, hilang satu tumbuh satu. Gak masalah, malah gue lebih cenderung cuek saat harus berpapasan dengan Ratan walau Ratna kadang menyapaku.
            “Joy, boleh gak gue duduk dengan elu,” tegur Ratna saat gue ada di kantin bersama Sita dan Sarah. Gue melirik Sita yang tampak cuek saja, lain dengan Sarah yang sudah memasang tampang senyumnya, gue menyikut lengan Sarah dan segera senyum Sarah menghilang dari wajahnya. Ratna terlihat ragu-ragu saat melihat gue dan Sita tampak acuh padanya.
            “Jadi gak boleh ya,” tukasnya lagi,gue masih saja cuek dan gue melihat Nancy mendekat ke arah gue.
            “Rat, kenapa elu negur mereka, bukannya elu sudah menjadi bagian grup gue,” tegur Nancy menggeret Ratna yang tampak tidak suka diperlakukan seperti itu tapi gue cuek saja. Beberapa kali Ratna berusaha mendekatkan dirinya ke gue dan Sita tapi entah gue gak suka saja dengan sikap Ratna. Mungkin Ratna sudah bosan dengan mereka lalu mau balikan lagi sama gue, tapi Ratna sudah pernah mengkhianati gue, mana gue mau.
            “Joy, kasihan Ratna, apa gak kita maafkan saja,”tukas Sita.
            “Ala elu terlalu lembek Sit, elu kan tahu sendiri sikap  dia pada kita, kenapa elu malah jadi kasihan,” gue marah pada Sita yang tampaknya mulai iba pad Ratna yang berkali-kali meminta untuk mengajaknya bermain lagi.
            “Mungkin sebaiknya ditanyakan dulu sama Ratna , mengapa dia mau gabung lagi, jadi kita mengerti alasannya,” saran Sarah perlahan ,gue tahu Sarah takut membuat gue marah.Sita mengangguk setuju,gue agak ragu-ragu sebelum gue juga menganggukan kepala. Sarah tersenyum.
            “Nah, gitu dong,” tukasnya . Akhirnya Ratna menceritakan kalau dia sempat terlena dengan pujian dari trio centil kalau Ratna cantik dan tak pantas berteman dengan trio bebek. Saat itu gue hampir marah tapi lengan gue dipegang oleh Sita.Kata Ratna juga dia banyak diberi asesoris dan baju mahal oleh Nancy, makanya Ratna tak mampu menolak kemauan mereka untuk menyalin PR dan memberi contekan pada saat ulangan.
            “Terus kenapa elu mau balik lagi sama kami?”tanya Sita.
            “Ternyata gue jadi bukan diri gue lagi, gue kaya kacung mereka. Ini hidup gue, gue harus punya prinsip dan tak boleh ada orang yang menginjak-nginjak harga diri gue. Gue menyesal,” Ratna mengatakannya dengan wajah yang murung dan gue melihatnya sangat tertekan, gue jadi luruh mendengar ceritanya.  Memang gue sih  harus punya prinsip hidup, ini hidup gue , tuh kita harus berani mengatakan tidak kalau itu gak sesuai dengan hati nurani gue.
            “Makanya Ratna , elu jangan menggadaikan hidup elu hanya karena uang semata, jadi diri elu sendiri dan pegang tuh prinsip hidup elu.”. Ratna menatap gue tajam dan berbalik menatap Sita berulang kali.
            “Jadi gue diterima lagi nih di sini?” tanyanya penuh harap, gue agak sedikit cuek tapi Sita sudah menghambur dalam pelukan Ratna. Gini nih yang gue gak suka, kalau sudah pakai acara sentimentil , rasanya air mata  gue juga hampir turun segera cepat gue seka, Ratna sudah kembali lagi menjadi bagian trio bebek, eh sekarang jadi kuartet bebek setelah ada Sarah.
            “Gue janji, gue bakalan akan selalu mempertahankan prinsip hidup gue, tak ada lagi yang boleh mengatur hidup gue. Ini hidup gue,” tukas Ratna cepat. Berempat kami saling berangkulan, menyatu kembali merupakan hal yang paling membahagiakan dari suatu persahabatan.

8 Sore Itu

Senin, 31 Desember 2018

Gambar dari sini

Sore itu aku menemanimu dengan secangkir teh
Kau masih bersimpuh dengan segala kegiatanmu
Aku memandangmu
Ah, dunia kadang suka jahat
Suka mempermainkan hati
Kadang hati suka
Kadang hati cemburu
Semua jadi satu

Tapi kamu sore ini
Aku harus tahu isi hatimu
Isi hatimu terdalam entah apa aku bisa menyelaminya
Katanya hati itu sedalam lautan
Sulit untuk menemui apa yang ada di dalam hatimu
Ku tahu dalam tindakanmu dalam tatapanmu
Dalam senyummu
Di balik semuanya itu untukku

Sore ini’
Untuk kesekian kalinya aku memandangmu
Hanya menatapmu
Kerut wajahmu dan lelahmu akan selalu kupandang
Sampai kau terlelap di sisiku
Sore ini
Berdua menghabiskan waktu
Menikmati senja yang indah

Cirebon, 1 Januari 2019

0 Cinta Buat Bu Lana

Senin, 17 Desember 2018


Gambar dari sini 
 

Perutku sudah kosong dan benar saja terdengar sura keroncongan dari perutku, sepertinya cacing-cacing di perutku sedang menari-nari. Mungkin saja cacing-cacing itu lagi berjoged ala Saisar. Kenapa ya gak ada ojeg yang masuk ke perumahanku, aku harus menyusuri jalan aspal yang panasnya gak ketulungan. Bisa dilihat wajahku sudah hampir menghitam terbakar matahari setiap harinya. Berapa kali aku minta motor ama nyokap, sampai detik ini gak pernah diberi Payah sekali punya nyokap yang kolot!.
            “Apa-apaan ini, jadi mama dipanggil lagi ke sekolah Nara!”teriaknya , surat panggilan masih tergenggam di tangannya. Aku hanya menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
            “Mama gak habis pikir sama kamu Nara, selalu buat ulah, mama pusing mikirin kamu,” mama menghela nafas kelelahan mengomeliku.
            “Sudah mam , marahnya, aku sudah lapar nih,” kataku cuek. Mama melotot, jangan-jangan sebentar lagi bola matanya keluar, astaga jangan sampai , bisa-bisa aku ketakutan melihat mamaku sendiri. Aku berlari untuk menghindari kena omelannya lagi dan mendarat dengan mulus di depan meja makan. Tanpa menunggu lama , aku sudah mulai makan dan setengahnya sudah kuhabisi dan bersemayan di perutku
            “Hem, kenyang,” aku mulai mengelap bibirku yang penuh dengan nasi .

            Pagi itu  di kelas sudah ada gosip yang paling hangat, menurut kabar akan ada guru kimia menggantikan pak Selamet. Anak-anak jelas bersorak sorai, karena guru kiler itu akan hengkang dari sekolahku.
            “ Gue suka nih denger kabar ginian, paling tidak gue gak bakal kena semprot terus, bener gak?”
            “Alah, elu sih semua guru juga suka ngomelin elu , dasar elunya aja gak becus,” Dinar mulai mencelaku. Aku hanya nyengir kuda saja, siapa yang gak tahu reputasi aku, siswa yang suka bikin onar dan sudah banyak kali aku diskors, tapi itu gak pernah buat aku kapok!!!!!
            “Pagi anak-anak,” pak Broto masuk dalam kelas diikuti dengan wanita muda. Pakaiannya modis dan aduhai tampak cantik dengan balutan baju yang elegan.Senyumnya menebar ke segala penjuru kelas. Kutatap para cowok yang terpana , mulutnya mangap kayak ikan yang sedang kehabisan oksigen.
            “Hoy, kayak kagak pernah lihat cewek cantik saja.” Aku mulai menghardik Danang. Aku melotot pada semua cowok di kelas yang mulai senyum-senyum simpul!!!!
            “Heloo!!”teriakku
            “Alah, pasti elu cemburu kan , bakalan kalah saing tuh ama bu guru.”  Danang menjulurkan lidahnya padaku
            “Enak aja , jidat elu itu,” aku menepak jidat Danang .
            “Sudah kalian jangan ribut,” pak Broto mulai memperkenalkan guru kimia baru dan sekaligus akan menjadi wali kelas kelasku. Semua anak bertepuk tangan , kegirangan karena akan mendapat guru cantik. Bu Lana , namanya. Aku menatap matanya ,ada sesuatu yang entah mengapa aku segan untuk mengusilinya, biasanya aku paling doyan , memplonco guru  baru. Tapi saat ini aku hanya duduk diam dan hanya memperhatikan bu Lana memanggil nama anak-anak satu persatu.
            “Tumben si Nara diam, ada angin apakah gerangan?” Syamsu menghampiriku dan memegang jidatku
            “Gak sakit tuh, kenapa ya?” aku mendorongnya kesal. Bu Lana menatapku dan aku terdiam.
            “Ok, anak-anak,ibu harap kerjasama kalian dengan ibu, kalian sahabat-sahabatku yang pantas aku hargai selama kalian memang pantas dihargai ,” Bu Lana mulai membuat peraturan untuk kelas kimianya.  Waktu bu Lana asik mengajar aku mulai melipat kertas menjadi burung dan mulai melempar ke depan dan tepat mendarat di kepala bu Lana. Semua anak terdiam. Bu Lana menatap sekilas padaku dan segera keluar dari kelas dan tak berapa  lama kemudian , bu Lana kembali ke kelas dengan membawa stoples bening kosong.
            “Nah, Nara tolong buatkan ibu origami burung seperti yang kau lempar dengan kertas lipat dan kau isi stoples ini penuh dengan origami burung,” Bu Lana menyodorkan stoplesnya padaku. Bu Lana dengan cuek kembali mengajar.

            Siang itu, pulang sekolah aku mampir ke ruang guru untuk memberikan stoples yang sudah kuisi dengan origami burung penuh tanpa sela.  Guru-guru memandangku dengan tatapan marah karena kali ini aku bermasalah lagi dengan guru baru.
            “Hai, Nara, kemari sudah jadi origaminya?”tanya bu Lana ramah. Aku sedikit bengong tapi kulanjutkan langkahku menuju mejanya bu Lana.
            “Bagus sekali Nar, kamu suka membuat origami ya,” Aku menganggukan kepala dan menatap ada keramahan di mata bu Lana. Siang itu aku diajak ke rumah bu Lana, ternyata bu Lana juga penggemar origami. Di kamarnya banyak bergelantungan origami burung, bintang dan banyak lagi .Kamarnya tampak semarak dengan lampu-lampu kecil yang indah. Aku suka sekali dengan kamarnya. Coba kalau aku punya kamar serapih ini. Kamarku berantakan dan tak pernah kubersihkan sampai mama berulang kali harus marah karena kemalasanku membereskan kamarku.
            “Bu, kamarnya rapih dan bagus sekali origaminya,” seruku sambil menatap origami yang tergantung di kamarnya.
            “Ibu yakin kamarmu pasti jorok kan?” aku tersenyum tak membantah sama sekalai, memang kenyataannya seperti itu. Bu Lana banyak mendengarkan aku cerita tentang mama dan papaku yang bercerai enam tahun yang lalu.  Aku menceritakan kalau mama dan papa sepertinya sudah gak peduli lagi denganku, mereka sibuk dengan urusannya masing-masing dan tak pernah menanyakan bagaimana perasaanku. Mereka hanya memberikan uang dan uang, itu semua tak berarti bagiku, aku ingin didengarkan dan diperhatikan oleh mereka.
            “Ibu mengerti perasaanmu, tapi kalau cara kamu agar orang tuamu memperhatikanmu dengan cara seperti yang kamu lakukan , hasilnya nihil,” Bu Lana menyuruhku berbuat yang lebih baik dan punya prestasi agar mama dan papa bisa sadar bahwa kamu punya sesuatu.
            “Masalahnya bu, dari dulu aku bisanya bikin onar, aku gak tahu bakatku apa?”  Bu Lana tertawa renyah dan di telingaku seperti lagu yang membuatku terlena sesaat, alangkah enaknya kalau mama mau juga mendengarkan curhatanku.
            “Nanti juga kamu akan tahu apa yang kamu suka,” sela bu Lana .Tak terasa sore menjelang,baru pertama kali ini aku merasakan punya teman bicara yang mengasikan, tidak menggurui dan tidak sok tahu tapi bisa membuatku nyaman berada di sisinya. Aku pulang dengan perasaan sukacita.

            Sudah hampir enam bulan bu Lana mengajar di sekolahku, tenyata pengagumnya semakin banyak. Banyak siswa yang menyukai cara mengajarnya dan sikap tegas namun lembut yang membuat siswa tidak sakit hati kalau ditegur olehnya.
“Dah elu Danang gak usah kebelet macari bu Lana, dia sih dah punya pacar,” aku mendorong jidatnya ke belakang.
“Sebelum janur kuning terpasang di rumahnya, gua gak bakal nyerah,” Danang mulai ngegombal.
“Dasar jidat elu!” beberapa siswa cewek nimpukin bersama-sama. Danang menjerit dan pintu terbuka , bu Lana masuk sambil menatap heran .
“ Wah, Danang kena timpuk ya, kasihan deh lu,” semua kelas tertawa dan menatap Danang yang masih memegangi kepalanya, mudah-mudahan saja kepalanya tidak benjol.   Bu Lana memberitahukan kalau ada lomba menulis cerita pendek yang diadakan  kampus Nusantara. Siapa saja boleh ikut dan tanpa uang pendaftaran.  Waktu aku keluar kelas saat bel berbunyi, aku melihat bu Lana melambaikan tangannya padaku.
“Nar, kamu ikut saja lomba cerpennya,” katanya. Aku  ragu, karena selama ini aku hanya menulis di buku diaryku saja.
“Ibu tahu kamu bisa kok, bu Nisa pernah bilang sama ibu kalau tulisanmu cukup baik.” Bu Lana memberiku semangat dan menepuk pundakku.
“Kamu pasti bisa Nar.”  Bu Lana mengedipkan matanya padaku , aku tertawa lepas.Siang itu aku pulang dengan perasaannya yang aku sendiri tak pernah merasakannya . Perasaannya ada yang memperhatikan dan menyemangatiku, itu semua membuatku banyak berubah.

Malam itu aku masih disibukan dengan cerpenku. Aku pandangi origami burung yang kugantung di atas meja belajarku. Kamarku sekarang rapih dan dipenuhi dengan origami buatanku, bintang, burung Tanganku masih menari-nari di keyboard laptopku dan tak terasa akau sudah menuliskan apa yang kurasakan dalam rangkain kata-kata indah. Ah, tinggal dipoles saja, besok akan kubaca ulang dan biar bu Lana yang memeriksanya. Aku tersenyum saat aku mengingat bu Lana, dia telah banyak merubah diriku menjadi pribadi yang lebih baik.
“Nar, sudah tidur?” mama menghampiriku dan memegang pundakku. Aku menatapnya cuek.
“Belum ma, sebentar lagi,” aku mulai membereskan meja belajarku. Mama menatap kamarku yang tampak rapih .
“Mama tahu semua ini karena bu Lana kan?” tanyanya yang mengagetkanku. Darimana mama tahu, aku menatap mama dan mulai berbaring di tempat tidurku, mama duduk di sebelahku.
“Bu Lana sudah banyak bercerita pada mama, maafkan mama ya, mama gak tahu kalau kamu kesepian,” sela mama , wajahnya tampak murung. Mama menceritakan padaku kalau mama masih sakit hati dengan kepergian papa karena wanita lain, jadi mama berusaha agar mama selalu tampak sukses  di depan papa .
“Tapi ternyata ini membuatmu kesepian Nar, maafkan mama ya,” mama memelukku erat. Kembali aku merasakan kehangatan pelukan seorang ibu yang lama sempat aku kehilangan pelukannya.
“Mulai sekarang, kita harus jadi sahabat yang baik, mama juga harus mengikhlaskan papa pergi,” aku kembali memeluknya.
“Maafkan Nara juga ma, sudah banyak merepotkan mama, Nara janji deh akan jadi anak yang baik.” Aku memandang origami burung yang masih bergoyang-goyang tertiup angin dari kipas angin. Origami burung itu selalu mengingatkanku dengan bu Lana. Sedang apa ya bu Lana malam ini?????

Tak  kusangka petemuanku dengan bu Lana harus berakhir, karena bu Lana harus mengikuti suaminya yang belajar lagi ke Australia.  Aku paling sedih mendengar kabar itu, tak mau aku melepaskan bu Lana, dia yang telah banyak mengubah hidupku. Masa setahun aku diajar bu Lana , aku seperti mendapatkan duniaku menjadi cerah dan banyak yang bilang aku menjadi anak yang lebih ceria dan tak jahil lagi. Guru-guru juga tenang karena saat ini aku mulai malas untuk menjahili mereka, karena aku sudah jadi  siswa yang baik.
“Alah, lihat Nara mewek tuh,” Danang mulai mengejekku dan menyodorkan saputangan kumalnya. Aku mengambilnya dan membuangnya ke tempat sampah.
“Enak saja, main buang saja,” Danang mengambil kembali saputangan kumalnya dan mulai menciumnya dan tak lama tiba-tiba Danang jatuh ke lantai.
“Diamkan saja paling-paling Danang pura-pura,” sela Syamsu dan tak lama kemudian Danang berdiri kembali . Aku memandangnya sebal, paling gak mood sama Danang ini, maunya sih melucu tapi garing!!!!
“Harusnya kelas kita tuh ngasih sesuatu buat bu Lana,” sela Dinar. Semua anak mulai berembuk , mau memberi hadiah apa untuk kenangan-kenangan buat bu Lana.  Anak-anak tiba-tiba terdiam saat bu Lana masuk kelas.  Bu Lana menjelaskan kabar tentang kepergiannya ke luar negeri dan bu Lana harus melepaskan pekerjaannya di sekolah ini.
“ Ibu harap, kalian tetap menjadi anak yang baik, siapapun guru kalian,” bu Lana menatap satu persatu wajah siswa-siswanya Mungkin minggu depan ibu sudah tak ada lagi di sini.
“Oh ya, ibu dapat surat dari panitia lomba cerpen dan pemenangnya dari sekolah kita,” bu Lana membuka amplopnya. Semua diam menunggu bu Lana memberitahu siapa pemenangnya.. Banyak sekali pertanyaan di beank anak-anak. Mereka tampak tidak sabar , menunggu bu Lana berbicara lagi.
“Nara Diah Pitaloka,” bu Lana menyebutkan namaku. Semua memandangku tak percaya.
“Elu bisa nulis juga, gue gak nyangka,” Syamsu menepuk pundakku.
“Gue sih nunggu ditraktir Nara saja, paling gak bakso pak Amat depan sekolah,” sela Danang. Aku sendiri masih belum percaya dengan apa yang kudengar,masih kupegang surat pengumuman digenggaman tanganku. Bu Lana menepuk bahuku dan tersenyum.
“Selamat Nara, coba kembangkan bakatmu siapa tahu kamu jadi penulis terkenal.” 
“Nara hebat , elu pemenangnya !”teriak Dinar dan diikuti Danang dan Syamsu berteriak-teriak seperti orang kesurupan saja. .
“Diam tahu, malu-maluin saja, diam!”teriakku, tapi mereka tak mau diam tetap saja bilang kalau aku pemenang lomba cerpen, sampai semua kelas mereka datangi.

Saatnya tiba , perpisahan dengan bu Lana. Aku sebetulnya yang paling sedih dibanding teman yang lain. Dari bu Lanalah aku menemukan jati diriku kembali, kalau tak ada bu Lana mungkin aku masih seperti dulu, siswa yang jahil, norak , badung dan paling suka bikin onar di sekolah. Tapi semua itu sudah berlalu. Aku mencintai bu Lana seperti aku mencintai mama, bu Lana bagiku seperti mama keduaku. Kepergiannya membuat goresan luka di hatiku yang mungkin akan sulit doibati. Butuh waktu lama untuk menghapus banyak kenangan bersama bu Lana. Semalaman aku membuat origami burung dengan banyak warna dan kumasukkan dalam toples besar.  Toples ini akan aku berikan buat bu Lana, dari oroigami burung inilah awal aku bisa merubah diriku.
“Bu, makasih ,” dengan suara tersendat aku memberikan toplesnya dan air mataku mulai mengalir deras, tak dapat kubendung lagi, semua runtuh saat perpisahan sudah di ambang pintu. Aku harus kehilangan cintaku untuk kesekian kalinya, aku ingin cinta bu Lana tetap di hatiku. Ingin kuberteriak , jangan pergi bu, tinggalah bersamaku. Tapi itu tak mungkin. Aku memeluknya dan mulai menangis .
“Hapus air matamu, ibu juga sayang denganmu, ibu akan tetap mendengarkan curhatmu walau kita berjauhan,” bu Lana mengedipkan matanya padaku. Aku masih sesunggukan dan air mata ini sulit kubendung lagi terus mengalir.
“Selamat jalan bu Lana.” Aku menatap punggung bu Lana yang semakin menjauh dan hilang dari pandanganku. Danang merangkulku.
“Jangan nangis ya, biar papa kasih susu ya,” Danang menyodorkan aku susu botol.
“Danang, elu gila,” teriakku. Danang berlari takut kena timpuk aku . Aku berdiri di depan kelas  , ada yang hilang di hati ini tapi aku tahu cinta buat bu Lana selalu ada di hatiku sampai kapanpun.
“Nara!” masih terdengar teriakan Danang. Aku segera menghampiri Danang , kalau perlu aku timpuk kepalanya. Belum sempat aku timpuk kepalanya, Danang sudah berteriak lagi.
“Nara, aku cinta elu, jangan tolak gue ya!!!!. Aku hanya bisa bengong beberapa saat dan meninggalkan Danang begitu saja. Rasa cintaku belum bisa kuberikan untuk seorang cowok, tapi cintaku tertinggal di hati bu Lana. Selamat jalan bu Lana, aku cinta ibu!