0 Air Yang Tenang

Senin, 20 Agustus 2018


Sepi yang ada desiran angin sepoi
Mengumpulka riuh rasa di hati
Pelengkap rasa yang indah saat melihat alam
Menyemburkan pesona dalam diam

Di sini di tempat ini
Hanya hati yang bicara
Tentang indahnya alam
Menjelma rasa kagum pada Ilahi

Ijinkan aku untuk mengagumimu sesaat saja
Sampai tumpah ruah rasa ini
Angin tetap membasahi wajahku
Sampai aku menjelema dalam rasa

  
Hanya diammu yang mempesona
Sampai tak mampu aku melepaskan kata sepatahpun
Hanay kerjap mata memandang jauh
Hanya ada air yang tenang, gunung dan hijau pohonnya

Cirebon, 21 Agustus 2018
Telaga Sarangan nan indah

4 Darah Di Tengah Hujan Lebat

Senin, 13 Agustus 2018


Gambar dari sini 
 

Malam itu saat hujan turun lebat dan segala petir meneriakan suaranya yang keras. Angin berdesau membuat telingaku tak mampu lagi untuk mendengar tangisan hujan . tanganku masih bersimbah darah, kulepaskan pisau dapur , keringat mengalir terus dari dahiku. Keberanian macam apa yang telah aku perbuat? Kekuatan yang aku sendiri tak tahu dari mana. Apa mungkin ini merupakan cetusan rasa sakit yang selama ini kupendam sendiri dalam duka yang panjang?. Malam-malam sepi yang harus kulalui sendiri tanpa kasih yang seharusnya aku temukan dari suamiku. Aku telah membunuhnya.  Aku membunuhnya. Kulihat tubuh suamiku terbujur kaku di lantai, dengan luka tusukan yang bertubi-tubi dan tusukan di dadanyalah yang mungkin telah menghabiskan nyawanya.  Aku masih diam dalam bisu, diam tanpa kata dan aku terduduk dalam duka yang kutahu akan semakin panjang kulewati....

            Aku masih ingat perkenalanku dengan mas Arif di suatu seminar kebangsaan di Islamic Center di kota Tangerang. Mas Arif  adalah salah satu pembicara di seminar itu. Aku dikenalkan Boy teman kuliahku pada mas Arif. Perawakan sedang dan yang aku suka dia smart, bukan tipe lelaki yang playboy atau pecicilan dan tampaknya sopan .  Perkenalan singkat itu tak membawa rasa di hati , karena aku kembali sibuk dengan urusan aku kuliah.
            “Indah, dapat salam tuh dari mas Arif”, kata Boy. Aku cuma tersenyum.
            “Oh, ya salam lagi deh,” kataku . Selang beberapa bulan kemudian , aku dikejutkan saat mas Arif datang ke rumahku. Tidak hanya sekali itu saja mas Arif datang tapi selanjutnya dia selalu rutin mengunjungi aku. Herannya ayahku bisa dekat dengan mas Arif , padahal biasanya ayahku paling gak suka dengan teman-teman cowokku yang lainnya. Yang aku tahu, aku mengagumi mas Arif sebagai cowok yang smart, aku memang suka dengan cowok yang smart dibanding dengan cowok yang cuma bisanya bergaya tapi otaknya nol besar. Cinta?, aku tak tahu, apa aku cinta dengan mas Arif tapi perasaanku masih belum ada getar-getar yang membuatku jatuh cinta dengannya. Aku hanya menghormati karena dia pandai dan semua oang juga akan mengatakan hal yang sama denganku.
            Di bulan ketiga setelah banyak kunjungan mas Arif , dia melamarku. Ku belum bisa menjawabnya karena aku masih harus menyelesaikan kuliahku.
            “Indah, kenapa kamu masih ragu-ragu, ayah lihat dia pria yang baik untukmu,” kata ayah,”masalah kuliah kan masih bisa diteruskan setelah menikah”.
            ‘Biar Indah selesaikan kuliah dulu ayah, tanggung tinggal satu semester lagi”, kataku.
            “Gimana kalau kalian tunangan dulu, seenggaknya masing-masing jadi terikat satu sama lainnya,” usul ayah.  Aku hanya menggelengkan kepalaku, karena aku pikir aku mau konsentrasi belajar dulu , sebelum direpotkan urusan rumah tangga. Ayah cuna bisa menghela nafas , tampak rasa kecewanya.

            Akhirnya dua tahun kemudian aku sudah menyandang gelar nyonya Arif. Mas Arief tak mengijinkan aku bekerja. Aku sebetulnya mau protes, karena aku ingin seperti teman yang lain punya penghasilan sendiri dan bisa mengatualisasi diri, tapi kulihat sorot matanya yang menandakan ketidak setujuan akhirnya membuatku urung untuk protes. Akhirnya aku hanya mengurus rumah tangga dan keperluan mas Arif. Seiring waktu , aku mulai melihat perangai mas Arief yang aku tak suka, mas Arif terlalu menuruti apa kata ibunya, bukan aku tak suka tapi bagaimanapun istrilah yang harus diajak bicara dalam memutuskan suatu hal. Satu hal lagi, mas Arif selalu memberikan uang hanya untuk sehari saja, tidak pernah uang gajinya seluruhnya diberikan padaku,untuk aku kelola . Pernah aku tanyakan tapi jawabannya tak masuk akal dan terlalu mengada-ngada. Aku hanya bisa diam saja, mau mengadu pada ibu dan ayah ,mereka sudah menilai mas Arif adalah pria yang terbaik buatku.

            Hampir setahun aku menikah tapi aku belum dikaruniai anak, banyak pertanyaan yang sampai di telingaku. Itu tak seberapa, tapi yang membuat kupingku panas adalah sindiran mertuaku kalau aku wanita mandul. Aku mengeluh pada mas Arif tapi apa jawaban yang kuterima , mas Arif malah menuduhku hal yang sama. Hari-hariku terasa menyakitkan, di saat aku sendiri , aku merasa kesepian tidak ada teman untuk berbagi suka dan duka. Tidak ada yang bisa menenangkan hatiku yang gundah. Aku ingin memeriksakan ke dokter tapi aku tak punya uang.
            “Mas, gimana kalau kita ke dokter untuk memeriksakan kenapa aku belum hamil?,” tanyaku . Mas Arif menatapku tajam .
            “Kamu pikir , ongkos ke dokter itu murah, kalau ada sesuatu di rahimmu tentunya biayanya akan mahal,” kata mas Arif sambil tetap membaca buku. Aku terpana mendengarkannya, uangnya tak mau dikeluarkan untuk kepentingan bersama , bagaimana kalau aku sakit keras!!!!. Aku hanya bisa gigit jari

            Pagi itu aku dikagetkan dengan kedatangan mertuaku. Aku heran , biasanya selalu datang kalau ada mas Arif. Aku mencium tangannya, tapi wajahnya kulihat tampak kesal.
            “Arif sudah pergi kerja?,” tanyanya. Aku hanya mengangguk.
            “Kasihan Arif , dia kesepian tidak ada celotehan anak kecil di rumahnya,” katanya,” coba orang lain pulang kantor sudah disambut dengan celotehan anak kecil.” Aku hanya berdiam diri , aku tak mau mengomentari omongannya. Tanpa basa basi lagi, mertuaku menuturkan rencananya kalau mas Arif akan dikawinkan lagi dengan anak temannya yang katanya bakal bisa memberikan cucu buatnya. Aku diam membisu , hanya air mata terus mengalir . Kuhanya bisa memandang kepergian mertuaku dengan perasaan hancur.tidak ada satupun yang membelaku, tak ada.....
            “Mas, ceraikan aku,” pintaku pada mas Arif.
            “Cerai, untuk apa?,” tannyanya.
            “Kan mas mau kawin lagi dengan anak teman ibu,” kataku.
            “Kenapa, kan laki-laki boleh beristri lebih dari satu,” katanya enteng
            “Pokoknya aku gak mau, ceraikan aku,” teriakku. Tapi mas Arif tak bergeming sama sekali. Duka panjang yang akan kulalui sudah terbentang di hadapanku. Masa-masa sulit harus kuhadapi. Sepi yang menyelimuti diriku selalu kulewati di malam-malam sepiku saat mas Arif ada di rumah istrinya yang lain. Aku semakin menderita dalam lara, banyak dendam dan sakit hati yang menyelimuti hatiku. Aku mulai membenci semua keadaan ini , kuhanya mengurung diriku di kamar terus dan kuabaikan diriku dalam kekelaman .

            Sampai suatu saat kudengar istrinya Nina telah melahirkan anak laki-laki, dan aku semakin tersudut dalam sepi yang panjang.  Mas Arif lebih banyak berada di rumah Nina dan  aku dibiarkan sendiri tanpa kasih sayang , tanpa uang. Ingin kulari dari kenyataan ini, aku menyesal mengapa dulu aku tak bekerja. Kini uangpun aku tak punya, aku tak bisa pergi dari rumah yang membuatku sakit hati. Kumulai merasakan tubuhku melemah, kusering muntah-muntah. Aku terbaring lemah , tak ada satupun yang peduli.

            Sampai suatu saat, malam itu, mas Arif datang , dan dia hanya menceritakan tentang kelucuan anaknya. Sungguh mudah baginya untuk bercerita  tanpa memahami rasa sakit yang harus kurasakan. Malam semakin larut, hujan masih turun dengan petir yang memekakan telinga , kutatap wajah mas Arif yang tertidur dalam lelapnya. Aku benci dia, aku benci, tak pernah dia memberikan aku ketenangan , hanya sakit yang kamu derakan untukku. Aku tak mau melihatmu lagi, tak mau. Kamu tak mengijinkan  aku untuk bercerai, apalagi yang akan kamu tusukan dalam hatiku????.  Aku memegang pisau dapur, kupejamkan mataku dan diluar masih turun hujan, kutusukan sekuat tenagaku di dadanya dan terus kutusukan pisau ke bagian tubuhnya sampai kutahu dia sudah tak bernyawa lagi. Tubuhnya terkapar di lantai. Aku masih memegang pisau yang berlumuran darah, sementara di luar masih turun hujan lebat dan petir menari-nari sambil meneriakan suara yang mengelegar dan membuatku terkejut. Aku sudah membunuh suamiku sendiri!!!!!. Aku seorang pembunuh!!!!!

4 Lelah

Senin, 06 Agustus 2018

Gambar dari sini

Lelah saat selalu bercumbu dengan keraguan
Ingin aku melihat maafmu
Tapi tak ada sepatah katapun keluar dari mulutmu
Hanya bisu
Aku tahu aku melihat dan mendengar celotehmu
Kau sudah berubah
Tapi aku hanya ingin kau tahu
Hanya ingin kata maaf darimu
Agar kau tahu aku mengandalkanmu
Agar kau tahu kau bersama jiwa-jiwa resah ini

Andai kau dapat menyelami hati
Yang menyimpan sebongkah gundah setiap saat
Hampir terhempas jatuh ke jurang kehancuran
Tapi kau simpan maafmu
Entah mengapa, aku tak tahu
Hanya berandai-andai saja
Untuk menenangkan hati
Akan kusimpan dalam diamku
Sampai hilang dengan sendirinya
Tapi entah seberapa lama

Rintik nyanyian hati
Kadang menyakitkan kadang mengharukan
Menjadi satu
Saat semua resah ini bisa pergi dariku
Aku akan bersujud syukur
Bebas bersama jiwa yang satu
Satu hati satu penantian
Akan tetap bersama dalam api cinta
Sungguh kadang aku lelah......

Cirebon, 7 Agustus 2018

0 Aku Ingin Seperti Bintang

Senin, 23 Juli 2018


Gambar dari sini 
 

Aku selalu suka dengan malam, entah mengapa. Banyak orang takut dengan gelap tapi aku tidak. Aku selalu terpesona dengan kilauannya yang tampak terlihat kecil saja di langit yang luas tapi cukup membuat langit berpendar dengan kilauannya. Aku hanya menatap pendar sinarnya yang kadang berkerlap-kerlip membuat mataku harus mengerjap sesaat, tapi dalam sekejap aku akan kembali memandangnya. Bagiku yang hidup dalam kesunyian karena aku tak mampu mendengar suara apapun di sekitarku, menatap langit membuatku sedikit terhibur. Aku selalu ditemani dengan diaryku yang akan kutuliskan rangkaian kata-kata tentang bintang setiap harinya.Entah sudah berapa banyak puisi yang kubuat tentang bintang. Malam ini aku juga menuliskan sedikit tentang bintang di atas sana, dan kuharap aku akan selalu bisa menulis tentangmu setiap hari.
            “Bunda ,aku ingin seperti bintang,” ujarku suatu saat pada bunda dengan bahasa isyarat. Bunda menatapku tajam .
            “Mengapa kau ingin seperti bintang Lola?” tanyanya. Aku tersenyum dan sedikit malu untuk mengungkapkannya. Aku terdiam sesaat .
            “Aku ingin punya manfaat untuk orang lain walau aku cacat bunda,” aku selalu susah untuk mengungkapkan kata hati dengan bahasa isyarat, aku hanya suka menuliskan saja di kertas. Bunda tersnyum manis, aku suka sekali dengan senyumannya, bunda akan tampak cantik . Bunda tak pernah malu membawaku walau aku cacat. Aku jadi ikut tersenyum, memang senyum bunda selalu menular pada orang lain, sudah banyak orang bilang begitu.
            “Pasti Lola bisa, bunda yakin banyak cara kok untuk bisa berguna buat orang lain walau kamu tunarungu.” Bunda membuat tanda love dengan tangannya, aku mengernyitkan dahiku tak mengerti.
            “Dengan cinta tulus Lola, kamu bisa berguna buat orang lain,” tukasnya membuatku tersenyum kembali. Ada satu harapan bagiku , aku bisa melayang setinggi langit untuk bisa meraih asaku.

            Tapi kenyataan selalu berbanding terbalik dengan harapan. Banyak kutuliskan dalam diaryku betapa banyak orang yang mencemoohku karena aku cacat. Tak pernah mereka memandang sebelah mata padaku, hanya cibiran  dan kata-kata yang kadang sungguh menyakitkan hati, tapi aku sungguh sudah terbiasa dengan itu. Bunda yang mengajarkannya padaku.
            “Gimana aku bisa menjadi bintang bunda  kalaus tiap orang saja sudah mencibirku terlebih dahulu?” tanyaku lagi , kadang aku sering putus asa dengan keadaanku, harapan tak sesuai dengan kenyataann.
            “Bisa Lola, dengan cinta,” tukasnya, selalu begitu, aku masih belum mengerti kenapa harus dengan cinta?????
            “Lola, cinta itu bisa menyatukan hal-hal yang tak mungkin , dengan cinta pasti bunda  yakin kamu dapat menjadi bintang suatu saat,: tukasnya yakin, aku hanya mengangguk walau dalam hatiku masih ragu. Sampai suatu saat teman bunda melihat tulisan-tulisanku dan tertarik dengan tulisanku dan dia ingin memperlihatkan tulisanku pada penerbit  dan yang tak ksuangka penerbit itu mau menerbitkan tulisanku. Aku sedikit terhenyak karena aku tak menyangka sekali, bunda merangkulku.
            “Nah, sebentar lagi kamu bisa menjadi bintang Lola,” senyumnya, aku menatapnya, apakah kali ini bunda hanya menghiburku saja atau ini sebuah kenyataan??? Aku tak ambil peduli, aku masih tetap suka dengan bintang dan malam hari adalah saat aku bisa mengungkapkan kata hatiku.

            Tak kusangka dengan kecintaanku pada kata-kata dan bintang, kini aku tampak seperti bintang di langit. Tulisanku yang dibukukan itu membuat banyak orang termotivasi unuk bisa mencapai asanya, rangkaian kata-kata indah yang kutuliskan bisa menjadi api semangat bagi orang lain. Aku kini menjadi motivator muda . Aku melihat di koran pagi ini. “Seorang penulis muda berbakat telah hadir dalam pesonanya”. Judul yang terpampang di koran pagi ini. Aku tersenyum lebar , ternyata impianku untuk menjadi bintang sudah di depan mata.
            “Lihat Lola, apa kata bunda, kau sudah menjadi bintang sekarang,”ujarnya tersenyum
            “Iya, bunda,” aku memandangnya
            “Tapi ingat bintang akan selalu menerangi bumi dengan cahayanya tanpa mengenal lelah. Bintang akan tetap berkilau karena memang sudah tugasnya demikian yang diberikan Allah , makanya Bintang akan tetap bercahaya sepanjang waktu dengan cinta terhadapNya,” kembali bunda menasehatiku. Aku sudah mengerti apa yang bunda utarakan, kalau aku sudah menjadi bintang aku tak boleh lelah dan harus terus memberikan api semangat melalui tulisanku juga karena cinta terhadapNya. Malam ini aku kembali menatap bintang dan ada air mata yang tak dapat kutahan untuk tidak keluar dari pelupuk mataku.
            “Bintang, aku sudah mampu menjadi sepertimu , walau untuk bisa mencapai seperti ini aku harus melewati banyak cibiran, tidak mudah, tapi aku mencintai semua tentangmu . Karena cintaku untukNya , Allah memberikanku kesempatan agar aku bisa menjadi bintang.” Aku mengerjapkan mataku saat bintang terlihat berkerlap-kerlip lagi selalu begitu bagiku. Bintang membuatku selalu termotivasi untuk menjadi sinar bagi orang lain. Terimakasih bintang, engkau bintang kejora bagiku.