2 Mengintip Dari Celah Daun

Senin, 28 Januari 2019




Saat kulihat dari celah daun
Aku sengaja disuguhkan alam nan indah
Terasa begitu menyejukan hati
Walau hanya dari celah daun tapi tersimpan misteri
Misteri air yang terhampar

Di sela-sela daun yang bergoyang
Walau tampak biru terhampar
Tapi pesonanya tetap indah
Hanya yang kutahu
Di sana ada ketenangan

Ketenangan yang tampak dari celah daun
Hanya tercipta ilusi yang ada
Bayang-bayang yang nyata
Di depan mata
Itulah yang terlihat indah bukan yang lain

Cirebon, 29 Januari 2019
Saat berada di waduk Cirata

8 Bukit Cinta

Senin, 21 Januari 2019


Sumber gambar dari sini 
 

Sore itu masih sama dengan sore-sore terdahalu, aku  berada di atas bukit cinta. Bukit kecil yang letaknya tak jauh dari rumahku di Bandung. Hampir setiap sore aku dan Kenzi selalu duduk di atas bukit untuk melihat senja. Senja di bukit cinta memang indah. Perubahan warna dari kuning, jingga dan perlahan memerah dan sedikit demi sedikit menghitam dan  menggelap. Tiada kata yang bisa terucap dari keindahan saat senja tiba.Keagungan Allah yang tiada duanya.
            “Lihat burung camar yang terbang , sepertinya sangat dekat dengan matahari,”teriak Kenzi. Aku melihat apa yang ditunjuk Kenzi. Burung camar tampak dengan latar belakang matahari yang mulai menjingga.
            “Keren ya.” Kenzi mengangguk setuju. Begitulah aku dan Kenzi tak pernah bosan melihat senja . Mulai sekolah dasar sampai sekolah menengah tak pernah lupa untuk melihat momen senja di bukit cinta. Berlari-larian, menikmati senja dengan bernyanyi atau tiduran di atas rumput sambil memandang langit. Rasanya hanya kegembiraan milik aku dan Kenzi berdua. Banyak yang bilang aku dan Kenzi pacaran tapi aku selalu menganggapnya hanya sebatas kakak yang berusaha untuk selalu melindungiku. Aku menikmati perhatian yang diberikan Kenzi. Selalu indah dan gembira bersama Kenzi.

            “Akhirnya harus juga meninggalkan bukit cinta ini,”keluhku. Rasanya aku tak mampu untuk meninggalkan bukit cinta ini. Sudah merupakan bagian dari jiwaku. Kenzi  pindah ke Australia mengikuti papanya yang sekolah lagi di sana. Sedangkan akupun  pindah ke Surabaya mengikuti papa yang dipindahkan ke kantor cabang Surabaya.
            “Entah kapan bisa ke mari lagi,”gumam Kenzi perlahan.Hanya sayup terdengar seperti bisikan yang hilang tertiup angin. Entah mengapa air mata menetes perlahan. Sungguh aku tak mau meninggalkan tempat yang punya banyak kesan . Kenzi memandangku dan terdengar suara helaan nafas yang berat.
            “Kita janjian yuk. Untuk datang 10 tahun lagi di sini. Di bukit cinta,”tukas Kenzi.
            “Untuk apa?” Aku memandang heran padanya. Kenzi mengangkat bahunya . Mulai digeleng-gelengkan kepalanya.
            “Obat kangen kali,”tukasnya  Ada sepasang mata yang begitu merindu untuk tak melepaskanku. Aku tahu itu. Kenzi menyukaiku . Tapi untuk saat ini aku masih suka hanya bersahabat saja. Saat senja terakhir di sana, perasaanku begitu kelu. Saat harus berpisah dengan Kenzi saat langit mulai menjingga. Lambaian tangan Kenzi semakin jauh dan menghilang dari pandangan mataku. Aku hanya  menangis dalam sepiku.Aku melangkahkan kakiku sambil menunduk pilu.
            “Selamat tinggal Kenzi. Suatu waktu mungkin kita akan berjumpa lagi. Suatu saat,”gumamku perlahan.

            Aku menatap bukit cinta. Masih seperti dulu. Masih sama. Masih dengan senja yang indah . Tampak langit mulai berubah warna. Angin masih menyapa pipiku. Aku mulai merapatkan mantelku. Udara Bandung kali ini agak dingin. Sudah hampir 20 tahun  aku meninggalkan tempat ini. Janji 10 tahun untuk bertemu lagi aku lupakan begitu saja. Mungkin Kenzi marah padaku karena aku tak datang. Mungkin dia akan menghilangkan namaku dari persahabatannya. Tapi semenjak itu aku tak pernah bisa lagi menghubungi Kenzi. Dia menghilang bak ditelan bumi. Aku yakin Kenzi marah padaku.
            “Sudah malam. Pulang,” tegur mas Didit merangkul pundakku
            “Iya, tapi lihatlah senja itu selalu mempesona,”tukasku sambil menunjuk langit. Ah, maafkan aku Kenzi. Maafkan aku. Persahabatan yang lama terjalin kini putus sudah. Aku menyesal Sungguh, maafkan aku.......
           

7 Hamparan Sawah Di Kaki Gunung

Senin, 14 Januari 2019



Saat memandangmu dari kejauhan
Hamparan luas kupandang
Hijau menimbulkan ketenangan
Saat jauh kupandang dalam hening
Inilah alam pegunungan

Menggambarkan hati ketika bayang-bayang itu
Melewati jalan-jalan setapak di pematang sawah
Hanya ada padi yang mulai ditanam
Di kejauhan gunung berdiri gagah
Seperti lukisan alam yang indah

Begitu sunyi terasa di sana
Tenang tak mendustai alam
Begitu mempesona, dalam angan yang indah
Jika ada di sana cerita akan mudah ditebak
Hanya ada rasa di hati memegang keindahan alam

Kini lukisan alam itu sudah menghilang dari pandanganku
Hanya sekejap tapi nuansanya begitu meresap
Tercipta dengan sendirinya
Menggambarkan alam yang mempesona
Masih dalam alam pendesaan yang sunyi

Cirebon, 15 Januari 2019
Saat memandang gunung dan hamparan sawah dari kejauhan.

5 Be Yourself, Ratna

Senin, 07 Januari 2019


Gambar dari sini 
 

Di sekolah SMA Pertiwi siapa tidak kenal dengan trio bebek  Sita,Ratna dan Joy, trio bebek tak pernah terpisahkan , kemanapun mereka pergi selalu bertiga. Di sekolah itu ,trio bebek punya saingan berat trio centil, Mira, Klara dan Nancy. Gue, Joy, bangga menjadi bagian trio bebek yang punya otak cemerlang walau tak pintar-pintar banget dan sudah pasti cerewet, makanya gue termasuk trio bebek. Gak seperti trio centil yang bisanya pamer kekayaannya, dan dandanannya norak banget, bando yang masih dipadu dengan jepit dan asesoris lainnya yang membuat mereka tampak seperti ondel-ondel, dan otak merekapun kosong melompong, entah diisi apa otak mereka. Hampir setiap hari menyalin pekerjaan rumah di kelas , belum kalau ulangan sibuk dengan contekannya.
            “Lihat tuh,” Ratna menunjuk trio centil yang masuk ke kantin dengan gayanya yang sok kecantikan, memang sih Nancy punya kulit mulus dan putih tapi entah mengapa kecantikannya begitu saja hilang dengan sikapnya yang sok itu! Gue cuma mencibir saja melihat tingkahnya.
            “Ih, rasanya pingin nabok tuh anak,” Sita mulai ngomel dan mie yang ada di mulutnya hampir saja keluar lagi.
            “Jorok sih elu, Sita,” teriak gue melempar serbet padanya dan terdengar suara yang membuat gue naik pitam.
            “Eh, gua rasa mereka-mereka itu memang sok , sok pintar, tapi dari tampangnya sih temasuk orang-orang kagak punya, miskin gitu loh,” trio centil mulai cengengesan dan duduk di meja yang selalu mereka tempati dan tak ada yang berani menempatinya .
            “Eh, apa lu bilang gue miskin, emang gue miskin, daripada elu-elu pada, ngakunya orang kaya, yang gue tahu sih cuma Nancy aja yang kaya, nah elu,elu, sok kaya.” Mira berdiri dan mulai menantang gue, tapi jelas gue gak mau kalah dan sudah ambil ancang-ancang buat mukul mukanya yang jerawatan itu.
            “Udah-udah jangan gelut di sini, nanti ibu yang diomelin pak kepala sekolah,” bu kantin melerai. Gue sebel banget sama bu kantin, lagi enak-enaknya mau nonjok si Mira malah dihalang-halangi, sialan!!!!!

            Sampai suatu saat persahabatan  gue dengan yang lainnya diambang kehancuran, entah mengapa Ratna mulai menjauh setelah dia mendapat tugas kelompok bersama trio centil itu.
            “Aduh kenapa gue jadi sekelompok dengan mereka sih, payah bu Anita,” keluh Ratna setelah tahu kelompok praktek biologinya segrup dengan trio centil. Untungnya di grup gue masuk Sarah yang gue kenal juga orangnya gak macam-macam malah cendenrung pendiam.
            “Ia, habis gimana lagi, itu memang sudah nasib elu saja,” tukas Sita.
            “Hati-hati Rat, kali-kali elu ketularan mereka,” gue dan Sita tertawa bersama dan Ratna hanya memperlihatkan tampangnya yang cemberut, jelek sekali seperti monster, sebelum gue kena timpuk, gue dan Sita sudah berlari menjauh dari Ratna. Apa karena memang gue doain Ratna ketularan trio centil , gue milihat Ratna mulai menyerupai mereka semenjak dia masuk grup biologi dengan mereka dan jarang sekali bergabung dengan gue, banyak saja alasannya.  Gue mulai sebal melihat tingkah Ratna yang sekarang  rada-rada mirip dengan trio centil, apa emang sudah ketularan dengan mereka ya.
            “Makanya elu sih, pakai doain Ratna ketularan,jadi bener kan,”tegur Sita, Sarah hanya memandang kami berdua dengan senyumnya.
            “Elu jangan senyum saja Sar,”gertak gue, dan gue milihat trio centil diikuti dengan Ratna di belakangnya mulai duduk di meja kantin. Gue sikut lengan Sita untuk melirik mereka, Ratna sekalipun gak menoleh atau menyapa . Sebel! Dan yang bikin gue sebel sekali sama Ratna , kayaknya dia sudah seperti pembantunya trio centil.
            “Kok, dia mau disuruh-suruh ya, kaya gak punya sikap gitu,”tukas Sarah menimpali. Gue mengangguk setuju.

            Parahnya lagi, hampir semua pekerjaan rumah trio centil menyalin punya Ratna, bahkan kalau ulanganpun Ratna selalu memberi mereka contekan. Sungguh aneh prilaku Ratna.
            “Rat, ada apa dengan elu, kok elu kayaknya jadi berubah gitu, mau-maunya memberi contekan ulangan dan PR buat mereka,”gue menegurnya keras dan menatapnya tajam, eh Ratna malah menjauh dari gue tanpa memberikan jawaban yang memuaskan gue, gue hanya terbengong saja melihatnya.
            “Sudahlah Joy, kayaknya kita bakal kehilangan satu sahabat kita, tapi yang jelas , masih ada Sarah ama gue,” tukas Sita. Gue mengangguk setuju. Apa peduli gue kalau Ratna sudah gak mau berteman dengan gue lagi, kalau memang dengan trio centil Ratna bisa senang, gue juga ikut senang. Sebetulnya juga gak sih, dalam hati gue sih masih mengharapkan Ratna bakal balik dengan grup gue, karena gue dengannya sudah lama sekali menjadi sahabat, mengapa dengan tiba-tiba harus berpisah dengan alasan yang tidak masuk akal. Itu hidupnya Ratna , gue mana punya hak untuk menyuruhnya kembali. Gue cuma sedih saja.
            “Elu sedih gak, Sita, kalau gue sih sedih banget ,Ratna  jadi bukan bagian hidup kita lagi”. Lama-lama gue jadi sebal dengan Ratna yang mulai mengikuti gaya berpakaian trio centil dan gaya bicaranya juga mulai ikut-ikutan, rasanya gue mau muntah saja.
            “Dah elu muntah saja Joy,” tegur Sita . Gue mendelik padanya  marah, tapi bukan Sita yang akan tetap cuek saja walau gue sudah pasang tampang galak padanya. Akhirnya gue, Sita harus menerima kenyataan pahit hilangnya seorang sahabat dan mulai saat ini, gue tak mau berurusan lagi dengan yang namanya Ratna , apapun itu!!! Sudah janji gue pada diriku sendiri!!!!

            Hampir lima bulan gue gak bersama lagi dengan Ratna, walau kadang hati ini masih saja sakit tapi gue gak mau sedih , karena Ratna juga belum tentu sedih tidak berteman lagi dengan gue. Malah Sarah sekarang menjadi  bagian dari hidup gue, hilang satu tumbuh satu. Gak masalah, malah gue lebih cenderung cuek saat harus berpapasan dengan Ratan walau Ratna kadang menyapaku.
            “Joy, boleh gak gue duduk dengan elu,” tegur Ratna saat gue ada di kantin bersama Sita dan Sarah. Gue melirik Sita yang tampak cuek saja, lain dengan Sarah yang sudah memasang tampang senyumnya, gue menyikut lengan Sarah dan segera senyum Sarah menghilang dari wajahnya. Ratna terlihat ragu-ragu saat melihat gue dan Sita tampak acuh padanya.
            “Jadi gak boleh ya,” tukasnya lagi,gue masih saja cuek dan gue melihat Nancy mendekat ke arah gue.
            “Rat, kenapa elu negur mereka, bukannya elu sudah menjadi bagian grup gue,” tegur Nancy menggeret Ratna yang tampak tidak suka diperlakukan seperti itu tapi gue cuek saja. Beberapa kali Ratna berusaha mendekatkan dirinya ke gue dan Sita tapi entah gue gak suka saja dengan sikap Ratna. Mungkin Ratna sudah bosan dengan mereka lalu mau balikan lagi sama gue, tapi Ratna sudah pernah mengkhianati gue, mana gue mau.
            “Joy, kasihan Ratna, apa gak kita maafkan saja,”tukas Sita.
            “Ala elu terlalu lembek Sit, elu kan tahu sendiri sikap  dia pada kita, kenapa elu malah jadi kasihan,” gue marah pada Sita yang tampaknya mulai iba pad Ratna yang berkali-kali meminta untuk mengajaknya bermain lagi.
            “Mungkin sebaiknya ditanyakan dulu sama Ratna , mengapa dia mau gabung lagi, jadi kita mengerti alasannya,” saran Sarah perlahan ,gue tahu Sarah takut membuat gue marah.Sita mengangguk setuju,gue agak ragu-ragu sebelum gue juga menganggukan kepala. Sarah tersenyum.
            “Nah, gitu dong,” tukasnya . Akhirnya Ratna menceritakan kalau dia sempat terlena dengan pujian dari trio centil kalau Ratna cantik dan tak pantas berteman dengan trio bebek. Saat itu gue hampir marah tapi lengan gue dipegang oleh Sita.Kata Ratna juga dia banyak diberi asesoris dan baju mahal oleh Nancy, makanya Ratna tak mampu menolak kemauan mereka untuk menyalin PR dan memberi contekan pada saat ulangan.
            “Terus kenapa elu mau balik lagi sama kami?”tanya Sita.
            “Ternyata gue jadi bukan diri gue lagi, gue kaya kacung mereka. Ini hidup gue, gue harus punya prinsip dan tak boleh ada orang yang menginjak-nginjak harga diri gue. Gue menyesal,” Ratna mengatakannya dengan wajah yang murung dan gue melihatnya sangat tertekan, gue jadi luruh mendengar ceritanya.  Memang gue sih  harus punya prinsip hidup, ini hidup gue , tuh kita harus berani mengatakan tidak kalau itu gak sesuai dengan hati nurani gue.
            “Makanya Ratna , elu jangan menggadaikan hidup elu hanya karena uang semata, jadi diri elu sendiri dan pegang tuh prinsip hidup elu.”. Ratna menatap gue tajam dan berbalik menatap Sita berulang kali.
            “Jadi gue diterima lagi nih di sini?” tanyanya penuh harap, gue agak sedikit cuek tapi Sita sudah menghambur dalam pelukan Ratna. Gini nih yang gue gak suka, kalau sudah pakai acara sentimentil , rasanya air mata  gue juga hampir turun segera cepat gue seka, Ratna sudah kembali lagi menjadi bagian trio bebek, eh sekarang jadi kuartet bebek setelah ada Sarah.
            “Gue janji, gue bakalan akan selalu mempertahankan prinsip hidup gue, tak ada lagi yang boleh mengatur hidup gue. Ini hidup gue,” tukas Ratna cepat. Berempat kami saling berangkulan, menyatu kembali merupakan hal yang paling membahagiakan dari suatu persahabatan.