Akhir Dari Sebuah Perjuangan

Jumat, 08 Januari 2016




Gmabar dari sini 
 
           Aku masih tertatih-tatih melangkah. Sendiku sedang kumat, namun tadi pagi aku paksakan untuk  berlatih. Aku ingin merebut kembali juara dunia bulutangkis. Walau banyak yang mencemooh karena kondisi lututku yang tidak bagus setelah kecelakaan yang menimpaku  tiga tahun lalu. Tapi aku bertekad sebelum aku menggantung raketku aku harus merebut kembali juara dunia kembali ke pangkuanku. Aku melangkahkan kaki perlahan , lututku semakin nyeri apalagi kalau dipakai berlatih.
            “Niar, kamu tak apa-apa?” tanya pak Didin penjaga stadion.
            “Gak, pak, hanya sakit sedikit.” Aku duduk di kursi untuk meluruskan kakiku.Perlahan aku selonjorkan kakiku. Sedikit sakit tapi aku paksakan agar aliran darah kembali lancar. Pak Didin menghampiriku , tangannya mulai memijit kakiku. Pelan tapi terasa enak. Aku terdiam lama menikmati pijitannya.
            “Masih bertahan untuk ikut pertandingan dengan kaki seperti ini?”
            “Iya.” Aku mengangguk . Pak Didin tersenyum .
            “Memang kamu keras kepala seperti bapakmu.” Aku menatap bola mata pak Didin yang tampak memberikan api semangat bagiku. Ada getaran yang membuatku kembali punya semangat tinggi .Walau berat untuk bisa meraih juara dengan kondisi kakiku seperti ini. Apalagi PBSI tak mau memberangkatkan aku karena kemungkinan aku menang tipis. Tapi dengan biaya aku sendiri aku bertekad untuk ikut berjuang membela negaraku. Apapun itu. Aku ingin menorehkan sejarah sebelum aku benar-benar ikhlas menggantungkan raket.

            Aku meneteskan air mata saat aku ingat ayah. Ayahlah yang memperkenalkan aku dengan dunia bulutangkis. Dari kecil aku dilatih . Keras memang hasil didikannya . Kadang marah dan pukulan ayah kalau aku malas berlatih membuatku ingin berhenti berlatih. Tapi berkat kedisiplinan ayah melatihku, sedikit demi sedikit aku mulai meraih juara. Mulai dari juara kabupaten, kotamadya dan propinsi .Akhirnya aku ditarik oleh klub bulutangkis Pesona Kasih untuk bergabung. Mulai saat itu latihan yang semakin berkembang dengan pelatih yang handal membuatku terus meningkat. Juara dunia aku raih!!!! Juara dunia berkali-kali aku raih sampai tiga tahun yang lalu aku mengalami cidera kuat saat melawan atlit Korea Selatan. Lututku robek dan tulangnya patah dengan radang yang menjalar luas. Aku harus mengaku kalah . Dan aku juga harus kehilangan kesempatan untuk bertanding karena kakiku mengalami kendala besar. Sembuh tapi tak bisa seperti sedia kala. Kakiku agak pincang . Kaki adalah modal utama akhirnya aku harus menerima keadaan aku . Aku tak terpilih lagi masuk di pelatnas. Hampir setahun aku hanya luntang lantung tak tahu apa yang aku kerjakan. Bekerja aku tak punya keahlian tapi ada rasa di dada ini untuk bisa meraih kembali kejayaan aku dulu. Semangat itu terus bergelora. Akhirnya aku memutuskan untuk berlatih kembali. Tapi ternyata tak mudah dengan kaki yang pincang. Belum lagi cemoohan yang datang padaku termasuk keluargaku.
            “Apa lagi yang kamu cari Niar? Lihat kakimu untuk berjalan saja sudah susah apalagi mau bertanding,”keluh ibu yang sudah kesal dengan kenekadanku untuk ikut bertanding. Ibu mulai marah saat aku akan mengeluarkan tabunganku utnuk ikut bertanding di kejuaraan dunia di Korea Selatan .
            “Apa-apaan Niar. Itu sama saja buang-buang uang. Uangmu habis kamu gak dapat apa-apa. Lebih baik uang itu untuk modal usaha.” Ibu begitu marah saat aku mengutarakan maksudku.
            “Percayalah padaku bu. Aku tak akan mengecewakan ibu,”tukasku. Coba kalau ayah masih ada mungkin ayah akan berdiri paling depan membelaku. Akhirnya ibu tak bisa berbuat apa-apa . Tekadku terlalu kuat mengalahkan segalanya. Aku hanya minta doa restu ibu.
            “Doakan aku bu.” Ibu mengangguk pasrah. Aku yakin dalam hatinya ibu akan mendoakan aku selalu.

            Begitulah aku sudah sampai semifinal kejuaran dunia. Tak ada yang menyangka aku bisa sampai semifinal, tapi aku menguatkan diri sendiri aku akan terus maju sampai final. Walau aku tahu lawan-lawanku semakin berat. Cina, Korea Selatan dua negara itu yang aku takutkan. Tapi kali ini aku tak mau kalah lagi dari Korea Selaatn. Akan aku balas kekalahanku tiga tahun yang lalu. Walau lututku mulai terasa perih dan sakit tapi malam hari aku selalu kompres dengan air es. Tak lupa aku minum obat yang diberikan oleh dokter Pri. Aku juga harus berterimakasih pada dokter Pri yang membantuku memberikan obat-obatan kalau aku mengalami rasa sakit berlebihan saat bertanding.  Dan tak menyangka akhirnya aku masuk final melawan Park Chuan Ho dari Korea Selatan. Musuh aku tiga tahun yang lalu, kembali  berhadapan dengannya kembali.  Tekadku untuk membalas kekalahanku sudah bulat walau sekarang kakiku mulai sering terasa sakit. Mungkin hampir setiap hari aku forsir bertanding. Dalam waktu tiga hari menuju final, aku hanya akan berlatih fisik sambil mempelajari vidio-vidio pertandingan Park Chuan Ho. Aku harus mencari titik kelemahan dari lawanku.
            “Niar, sedang apa ?” tanya pak Sapto pelatih pelatnas saat aku masih duduk melihat vidio.
            “Mencari kekurangan Park Chuan Ho.” Pak Sapto ikut melihat sambil memberikan beberapa komentar dan sedikit taktik untuk melawan Park Chuan Ho. Aku menatapnya dengan rasa terimakasih.
            “Makasih pak.” Pak Sapto tersenyum dan menepuk pundakku untuk memberi semangat.

            Ini sudah set ketiga set perpanjangan. Lututku terasa sakit sekali. Skor di papan tampak unggul Park Chuan Ho 18-16. Serve dari Park aku tangkis dan aku arahkan di pojok kiri tempat yang sulit dijangkau. Dan masuk. Terus melaju saling menambah nilai dan nilai 19-19. Dua nilai lagi. Terasa basah kakiku. Aku lirik lututku robek, darah mengalir. Tapi tekadku semakin kuat, rasa sakit tak membuatku luruh. Aku tahu Park Chuan Ho melihat aku luka, tapi aku tak akan mengendurkan seranganku padanya. 19-20. Satu poin lagi untukku.  Serve dimulai dari Park Chuan Ho. Bola masih bisa diambil oleh Park. Smashku masih bisa diangkat . Darah semakin  mengalir, kepalaku mulai terasa pusing tapi aku tak boleh kalah. Tinggal selangkah l;agi. Bola kembali ke arahku dan dengan sekuat tenaga aku arahkan ke pojok kiri. Aku berlutut karena aku sudah tak kuat lagi menahan tubuhku. Dan bola dinayatkan masuk oleh wasit. Gemuruh suara penonton bertepuk tangan . Tubuhku gemetar dan aku tak sadarkan diri. Aku seperti terbang tinggi di atas awang-awang. Ayah datang menghampiriku.
            “Kau hebat anakku. Kau memang juara sejati. Ayah bangga padamu.” Aku diajak ayah ke suatu tempat yang damai . Entah apa namanya.


2 komentar:

Unknown Says:
11 Januari 2016 14.34

Keren ceritanya. Lutut saya jadi ikutan gemeteran, ngebayangin lutut luka kayak gitu. Hebat ya, Niar. tekadnya kuat banget.

Tapi masih ada sedikit typo.

http://kataella.blogspot.co.id/

Tira Soekardi Says:
12 Januari 2016 11.50

nnah untuk typo, aku sudah memeriksa sampai tiga kalai, ya inilah mata tuaku masih saja ada yg terlewat

Posting Komentar