Bintang Di Atas Pohon

Jumat, 02 September 2016




 Gambar dari sini

Sore itu aku baru saja menyelesaikan menggantung bintang dari kertas warna-warni yang kulipat dengan bentuk origami bintang . Hampir seluruh dahan dan ranting sudah dipenuhi dengan gantungan origami bintang. Aku cukup puas dengan hasil kerjaku selama ini.
            “Mas Roy, pasti mbak Tasya akan senang melihat ini,” tegur Sisi mengagetkan aku yang sedari tadi masih memandang bintang-bintang yang mulai berayun terkena angin. Aku mengikuti ayunan bintang itu sepertinya aku mulai larut dalam ayunannya yang mengikuti arah angin .
            “Sudah dipasang lampunya juga belum?” tanya Sisi lagi. Sisi tampak antusias melihat bintang-bintang itu berayun, matanya berbinar cerah dan senyumnya mengembang , terlihat manis. Memang adikku ini selalu memberikan hiburan tersendiri dengan senyumnya yang selalu membuat orang lain akan menyukainya. Semua suka dengan Sisi.   Sisi tampak mengitari pohon dan tampak mengagumi pohon yang sekarang menjadi lebih ceria . Pohon ini terletak di depan halaman rumah Tasya. Rumah yang sudah lama ditinggalkan dan kini penghuninya akan datang kembali . Banyak kenangan di pohon ini dan origami bintang selalu mengingatku pada Tasya.

            Aku dan Tasya adalah teman sepermainan saat masih kecil. Aku sering datang untuk bermain dengannya. Entah mengapa aku tidak suka bermain dengan anak laki-laki lainnya tapi aku lebih suka datang dan bermain dengan Tasya. Walau kadang aku harus menjadi seorang bapak saat Tasya berperan sebagai ibu saat aku bermain dengannya dan itu membuatku sering diejek oleh teman –teman yang lain.
            “Roy, banci, mainnya main masak-masakan. Pacaran nih ye!”teriak teman-teman yang lain yang akan langsung berlari saat aku mulai marah.
            “Biarkan saja Roy, jangan diambil hati. Yuk, main lagi,” tukas Tasya . Aku juga selalu melindungi Tasya saat dia diganggu oleh teman-teman yang lain. Pernah Tasya menangis saat diambil mainannya oleh Boby dan aku akan berlari mendekatinya dan menghajar Boby dengan bogemku.
            “Awas , jangan  ganggu Tasya!” ancamku. Aku peluk Tasya yang masih menangis . Biasanya sepotong coklat atau origami bintang yang akan menghentikan tangisnya . Tasya suka sekali membuat origami bintang. Menurutnya dia dulu diajarkan oleh papanya membuat origami bintang dan selalu dia gantungkan di jendela sehingga dia bisa melihat origami bintang itu berayun tertiup angin. Memang benar aku melihat jendela kamarnya selalu tergantung origami bintang dari kertas warna-warni. Menurutnya lagi , kadang bila ia sedih, ia selalu menatap origami bintang itu dan rasa sedihnya akan berkurang. Origami bintang itu sungguh ajaib dapat mengubah rasa sedih menjadi ceria.
            “Percaya gak?”tanyanya suatu waktu saat dia menceritakan kalau origaminya dapat menghilangkan rasa sedih. Tasya akan menatap dengan mata bulatnya menunggu jawabanku. Aku  menggaruk-garuk kepalaku, aku bingung akan menjawabnya karena aku sendiri tak pernah punya pengalaman seperti Tasya. Mata bulatnya masih menunggu jawabanku.
            “:Aduh, aku gak tahu,”tukasku cepat. Tasya membelalakan matanya besar sekali , sepertinya tak percaya kalau aku tidak percaya padanya.
            “Nanti akan aku buatkan banyak origami bintang dan kamu harus menggantungkannya di jendela kamarmu,”tegasnya. Membayangkan kamarku akan ada gantungan origami bintang membuatku agak sedikit malu, bagaimana kalau teman-teman yang lain melihatnya.
            “Gak suka?” Tasya menatap dengan mata bulatnya penuh harap, akhirnya agar tak mengecewakan hatinya aku menganggukan kepalanya. Tasya menepati janjinya, suatu sore dia datang dengan banyak gantunagn origami bintang untuk digantung di kamarku. Kini kamarku disemarakan dengan origami bintang.

            Dua hati yang selalu bersama , ternyata membuahkan benih cinta yang tumbuh tanpa disadari. Aku dan Tasya mulai tumbuh menjadi remaja yang sudah punya rasa cinta di hati. Diam-diam aku mulai mencintainya, dadaku selalu berdebar saat aku bersamanya. Cantik sekali parasnya dan aku harus bersaing dengan pria-pria lainnya yang mulai berdatangan ke rumah Tasya. Rasa cemburu saat aku melihat Tasya berbicara dengan pria lain.  Rasa sesak di dada ini kadang menghimpit begitu keras dan itu sangat menyakitkan. Aku ingin mengutarakan perasaanku tapi aku takut penolakan darinya. Aku tahu Tasya selalu mengaggapku teman kecilnya . Sampai suatu hari Tasya bercerita kalau dia naskir teman sekelasnya. Rasanya hatiku hancur , dan ada goresan luka yang akan selalu terpendam dalam hati.
            “Dia orangnya ramah dan baik,”tukasnya dengan mata bulatnya, kembali perih di hati ini menganga kembali. Hampir setiap hari Tasya bercerita tentang pujaan hatinya dan itu membuatku semkain ingin menjauh darinya.  Aku mulai mengalihkan perhatianku pada  hobiku yang lain untuk menghindari pertemuan dengan Tasya. Dan aku semakin menjauh saat aku tahu Tasya sudah jadian dengan teman sekelasnya. Aku lebih banyak berkutat dengan perjalananku , mendaki gunung.  Pernah saat aku tidak sedang mendaki , Tasya datang dengan raut marah.
            “Ada apa denganmu Roy, sepertinya kamu menghindariku,” tegurnya keras. Astaga , Tasya ,apa kamu tak tahu kalau hatiku hancur kalau aku tahu kau lebih memilih pria lain daripadaku. Aku menggelengkan kepalaku dan meyakinkan Tasya kalau aku baik-baik saja.
            “Aku memang lagi suka mendaki Tasya. Begitu indah alam yang selalu aku datangi, membuatku ketagihan terus ingin kudaki semua gunung yang ada.” Aku terdiam sejenak sambil kulirik wajahnya. Duh ,Tasya apakah kau tahu isi hatiku, andai saja kau tahu....
            “Tapi bukan berarti kau menjauh dariku kan?” tanyanya dengan mata bulatnya yang selalu kurindukannya. Sedikit tersenyum padanya aku meyakinkan dia kalau aku tidak menjauh darinya.
            “Tidak menjauh darimana, kau biasanya selalu ada untukku, tapi sekarang kamu kemana?’ Tasya mulai merajuk.
            “OK, jangan marah gitu dong, aku akan datang lagi ke rumahmu,” cetusku cepat agar Tasya tak marah lagi padaku. Tapi janji tinggal janji, aku tak sanggup harus mendengarkan banyak cerita Tasya tentang teman prianya, aku benar-benar tak sanggup dan pelarianku hanyalah alam yang sunyi di atas gunung yang dapat mententramkan hatiku.

            Sampai suatu hari Tasya datang mengatakan kalau dia sudah putus dengan pacarnya dan aku hanya bisa memeluknya dalam pelukan hangatku. Rasa hangat yang menjalar di sekujur tubuhku, mengingatkanku kalau aku tetap mencintainya.
            “Dia mengkhianatku ,Roy,” terdengar isak tangisnya. Kalau aku jadi pacarmu Tasya, tak akan pernah aku menyakiti hatimu , akan selalu kujaga dirimu. Isaknya masih berlanjut dalam pelukanku, kubiarkan rasa hangat ini terus menjalar membuat hatiku sedikit berbunga merasakan getar-getar cinta.  Mulai saat itu aku kembali menemani hari-hari ceria dengan origami bintang di rumah Tasya, tapi aku masih belum berani untuk mengungkapakan perasaanku. Aku masih takut!!!!! Kadang aku berpikir begitu pengecutnya diriku, hanya untuk mengungkapakn saja isi hati tapi aku tak mampu. Tapi itulah aku, aku takut penolakannya darinya yang akan membuatku jadi jauh darinya. Aku masih ingin bersamanya dan itu cukup bagiku untuk mencintainya diam-diam. 
            “Roy, aku ingin buat origami bintang yang banyak dan akan kugantungkan di pohon depan rumah. Kamu bantu aku buat origaminya ya,”pintanya. Tak menunggu lama aku akan segera mengaggukan kepalaku. Berhari-hari aku dan Tasya membuat banyak origami bintang yang akhirnya dapat digantung di dahan dan ranting di pohon depan rumah Tasya.
            “Astaga Roy, indahnya. Lihat bintangnya mulai berayun ditiup angin,”ujarnya riang sambil menatap origami bintang yang mulai berayun. Aku cubit dagunya dan Tasya menepis tanganku dan mulai mengagumi kembali bintang –bintang itu. Kami duduk di bawah pohon dan memandang ke atas tak berkedip , sekali-kali aku melirik pada Tasya. Hem, manisnya dia. Ternyata itulah pertemuan terakhirku dengannya. Tasya akan mengikuti mamanya pindah ke Nederland tempat asal papanya Tasya. Papanya menawarkan Tasya untuk kuliah di sana atas biaya papanya. Papanya sudah bercerai dengan mamanya saat usia Tasya 3 tahun. Ada rasa pedih akan kehilangan Tasya untuk kedua kalinya. Saat Tasya pergi , aku masih melihat origami itu berayun terus ditiup angin. Selamat jalan Tasya, aku mencintamimu..... Hampir lima tahun kepergian Tasya tapi hatiku tetap menjadi milik Tasya, aku tak mampu menghilangkan bayang-bayang Tasya. Togapun sudah kuraih dan aku sudah mulai bekerja.
            “Kapan mama bisa kenalan dengan calonmu Roy?”tanya mama . Aku hanya tersenyum saja saat banyak sekali pertanyaan yang datang padaku. Tasya tetap mengisi hatiku tak akan pernah tergantikan.
            “Masih ingat sama Tasya, ya, cepat kau ungkapan saja Roy, jangan ditunda,”tegur mama.

            “Iya mama, sebentar lagi Tasya datang ,”tukasku dan membayangkan aku akan menyatakan cinta untuknya.

            Kini aku menatap origami bintang yang sudah bergantungan di atas pohon yang akan menyambut kedatangan Tasya. Aku sungguh sudah tak sabar menunggunya, berkali-kali aku melihat jam tanganku, menurutnya, pesawat akan mendarat jam satu siang. Harusnya Tasya sudah sampai di sini. Aku duduk bersama Sisi di bawah pohon sambil menikmati origami bintang .
            “Mas Roy mencintai mbak Tasya, sampai-sampai bikin origami bintang sebanyak ini?” tanya Sisi memandang kakaknya. Roy, mengacak-ngacak rambut Sisi dan mengaggukan kepalanya cepat.
            “Aku kelak ingin dicintai pria seperti mas Roy, yang setia dari dulu sampai sekarang masih mencintai mbak Tasya,”tukasnya cepat. Kami lalu berdiam diri lagi hanya terdengar desau angin yang mengayunkan origami bintang sampai berputar dan begitu indah tampaknya.
            “Hai,” sapa seseorang di belakangku. Aku berbalik dan nampak Tasya tersenyum dengan mata bulatnya.
            “Tasya,” teriakku, aku mendekatinya yang duduk di atas kursi roda yang didorong oleh mamanya. Mama Tasya menceritakan kalau Tasya kecelakanan yang membuat kakinya lumpuh. Tapi aku tak mendengar ucapan mamanya dan aku peluk erat Tasya, kemejaku basah. Saat aku melihat ada bulir air matanya jatuh di kemejaku.
            “Mengapa  menangis Tasya, gak suka ketemu aku?” tanyaku. Tasya menggelengkan kepalanya keras.
            “Aku rindu kamu Roy.” Aku terbelalak kaget mendengar kalau Tasya merindukanku juga.
            “Tasya, aku mencintaimu?” kata-kata itu begitu saja meluncur dari mulutku. Tasya menatapku lama dengan mata bulatnya dan kembali bulir air matanya mengalir.
            “Walau aku cacat.” Diam sejenak, aku anggukan kepalaku.
            “Aku menunggumu lama Tasya, dari dulu aku selalu mencintaimu.”
            “Ah, Roy.” Kami berdua menatap origami bintang di atas pohon, mereka merupakan saksi cintaku dengan Tasya. Seperti tahu hatiku sedang gembira origami bintang itu terus berputar tak berhenti dan begitu  indah dengan warna-warninya.
            “Indah Roy,” tukas Tasya menatap kagum pada origami bintang yang kubuat.
            “Seindah cinta kita berdua.” Aku genggam tangannya  dan origami bintang itu masih tetap berayun terus, indahnya!!!!!

8 komentar:

Diah Kusumastuti Says:
5 September 2016 pukul 14.23

Baru sekali ini baca fiksi mbak Tira. Bagus, Mbak. Kayak baca novel saya :)

Icahbanjarmasin Says:
5 September 2016 pukul 15.54

Bagus sekali fiksinya suka banget saya.

Prananingrum Says:
5 September 2016 pukul 18.12

apik banget mbak .....dibukukan aja mb

Tira Soekardi Says:
6 September 2016 pukul 12.52

wah mbak Diah sudah punay novel ya? aku kurang mahir bikin cerita yang panjang spt novel, sukanya bikin cerpen dan puisi

Tira Soekardi Says:
6 September 2016 pukul 12.55

makasih mas Icah

Tira Soekardi Says:
6 September 2016 pukul 12.56

makasih mbak Prana ningrum, ha, ah belum kepikian dibukukan

Nining Says:
7 September 2016 pukul 04.45

So swiiit bgt mba, kek dipelem2 Jepang Korea gitu :)

Jadi keinget teman masa kecil saya dulu.

Tira Soekardi Says:
7 September 2016 pukul 12.46

wah mbak Nining punay sahabat jadi cinta juga

Posting Komentar