Big Is Beuatiful

Senin, 01 Juli 2019

 Gambar dari sini

Pagi itu , masih terasa dingin , dengan berat hati aku menyibakan selimutku untuk mandi dan berangkat ke sekolah. Perasaanku semakin ringan saja walau untuk menjadi seperti ini butuh perjuangan dan keikhlasan untuk selalu bersyukur dengan keadaan yang sudah Tuhan berikan untukku. Masih terbayang, aku sempat minder dan putus asa dengan bentuk tubuhku yang jauh dari ideal. Mungkin ini kesalahan orang tuaku karena membiasakan aku untuk makan banyak, karena anak kecil kalau gemuk akan mengemaskan orang yang melihatnya. Aku ingat dulu aku sering dicubitin oleh banyak orang karena gemas melihat badanku yang gemuk dan  lucu. Tapi, itu dulu, setelah aku remaja , aku menjadi orang yang paling minder dan  paranoid, karena banyak orang yang suka mengejekku dengan julukan gendut dan semua julukan yang semuanya membuatku sakit hati.

            Saat sudah menginjak bangku SMA, aku mulai diet dan olahraga dengan niatan agar tubuhku menjadi langsing. Aku memang berdiet sangat keras, sampai-sampai sahabat-sahabatku merasa prihatin terutama mama, karena aku mulai tidak mau makan dan kalaupun makan aku selalu memuntahkannya lagi.Aku hanya berpikir kalau mau sesuatu harus butuh perjuangan keras saat itu , tapi aku lupa sesuatu bahaya yang akan mengincarku dengan kesukaanku untuk memuntahkan kembali makanan yang sudah kumakan. Anoreksia......ya aku akhirnya mengidap anoreksia kronis, badanku memang kurus , malah cenderung kurus tapi aku selalu gelisah, selalu paranoid terhadap makanan sehingga aku cenderung memuntahkan kembali dan badan mulai terasa lemah.
            “Santi, stop dietmu, lihat badanmu kurus sekali,”ujar mama kawatir.
            “Mam, ini belum kurus, aku gak mau dihina lagi,” kataku ngotot
            “Tapi ini sudah keterlaluan San, kamu boleh diet tapi dengan cara yang benar , bukan seperti ini, kalau kamu sakit gimana?” tanya mama lagi.
            “Emangnya Santi kelihatan sakit mam?,” tanyaku balik sambil ngeloyor pergi. Aku heran , kok semua tidak ingin aku menjadi kurus, apa mereka semua senang kalau aku jadi bahan ejekan?

             Pagi itu aku bersiap ikut pelajaran olahraga, sebelumnya aku ke toilet untuk mengeluarkan sarapan lagi . Waktu aku hendak keluar toilet, kepalaku terasa berputar , tapi aku menguatkan diri kalau ini tidak apa-apa demi tubuh langsingku.
            “Santi, kamu gak apa-apa?,” tanya Sita,” kamu pucat dan lemah sekali.”
            “Makanya kamu jangan terlalu keras dietnya San,” timpal Lely
            “Aku baik-baik saja kok, “ kataku sambil berusaha untuk jalan seperti biasa agar teman-temanku tidak perlu mengkhawatirkanku lagi. Tapi baru empat langkah aku sudah ambruk. Waktu kusadar aku sudah ada di rumah sakit. Aku melihat mamaku sedang menatapku sedih.
            “Gimana , kamu baik-baik saja?,” tanya mama
            “Masih pusing mam,” kataku.Hampir seminggu aku beristirahat di rumah sakit, selain aku diberi pengobatan medis , aku juga diterapi secara psikologisnya, karena anoreksia aku sudah parah sekali.
Selama terapi aku diberitahu tentang  pola makan sehat dan bahaya dari anoreksia dan pendampingan agar aku punya rasa percaya diri dan tidak paranoid lagi Aku baru tahu kalau diet ketat yang aku lakukan bisa menyebabkan kematian. Aku bersyukur , aku tidak mati saat itu. Mbak Lena banyak memberikan pendampingan agar aku bisa menjadi diri sendiri lagi dan menerima apa adanya pemberian Tuhan untuk disyukuri.

            Aku sekarang  berdiri di sini dengan tubuh yang lebih sehat walau bukan tubuh yang ideal,  Aku merasakan tubuhku lebih sehat dan tidak lemas selalu dan rasa percaya diriku semakin tinggi.  Walau tubuhku sekarang agak gempal dan masih cenderung gemuk tapi aku bisa menikmati dengan rasa bersyukur karena hakekatnya orang bukan hanya dinilai dari bentuk fisiknya saja tapi  cantik hatinya juga. Big is beautiful, walau aku masih gemuk tapi aku masih bisa kelihatan cantik .
            “Santi,” teriak Sita. Aku menoleh ke arah Sita dan menghampiri Sita dan berjalan berdampingan . Aku tak minder lagi berjalan dengan Sita yang langsing dan cantik. Aku mau jadi diriku sendiri apa adanya dan lebih bersyukur bahwa aku masih diberi hidup yang penuh dengan berkah. Aku masih berjalan tanpa mau kembali lagi menoleh  ke masa-masa sulit aku. Gemuk? Gak masalah , I’m happy now.



 

8 komentar:

Eryvia Maronie Says:
1 Juli 2019 pukul 17.11

Yang penting itu sehat dan bahagia.
Walopun langsing tapi ternyata prosesnya menyakitkan, hanya merugikan diri sendiri.

Anonim Says:
2 Juli 2019 pukul 06.08

Body shaming emang gak enak mbak, apalagi kena bully. Tapi penerimaan akan diri sendiri bisa jadi titik balik jadi sukses mbak. Salam kenal.

Tira Soekardi Says:
2 Juli 2019 pukul 12.13

betul mbak eryvia

Tira Soekardi Says:
2 Juli 2019 pukul 12.14

memang body shaming itu menyebalkan ya mas leo, betul penerimaan diri yg penting

read and write Says:
2 Juli 2019 pukul 19.13

nice post..

mampir juga ya.....https://myfolderblog.blogspot.com/2019/07/mendapatkan-penghasilan-dengan-mudah-di.html

Tira Soekardi Says:
3 Juli 2019 pukul 12.10

mksh

Grandys Says:
15 Juli 2019 pukul 18.17

Ak pernah berada d fase bully karena penampilan aku yg gemuk sewaktu SMP SMA. Alhamdulillah ga sampai mengidap anoreksia

Tira Soekardi Says:
16 Juli 2019 pukul 12.17

grandys, ikut prihatin. aku juga suak sebel sama orang yang bully orang lain

Posting Komentar