Saingan Kok Tulalit

Jumat, 15 November 2019


Gambar dari sini 
 

Pulang sekolah aku melihat banyak gerombolan orang sedang mengerumuni sesuatu di pos kamling kampungku. Ada apa ya, apa ada pembagian sembako gratis lagi? Biasanya kalau yang gratisan sih penduduk pasti mau repot-repot antre , coba buat urusan bayar membayar sulitnya minta ampun dengan banyak alasan lagi. Aku pastilah penasaran, siapa yang gak tahu anak perempuan yang gokil habis yang aku ini, si Mirna!
            “Minggir babe-babe, nyak-nyak , om-om , anak-anak, gue mau lewat,” aku menyeruak kerumunan sambil dorong kiri dan kanan. Beberapa orang menatapku sebal tapi aku sih cuek saja, emang aku pikirin tuh orang yang melotot. Kasihan kan??? Matanya dah melotot masih ditambah harus kena semprot , makanya aku lebih baik diam saja.
            “Eh, dasar elu Mirna, lagak lu kagak sopan-sopan amat sih ama orang tua,” gerutu orang yang ada di sampingku. Kulihat babe Rozak melotot , ih seram banget tuh mata , sepertinya mau keluar dari bola matanya.
            “Awas babe matanya tuh bisa-bisa keluar semua, entar kagak ada matanya,” aku menyahut sambil terus mendesak ke depan dan di sana terpampang jelas pengumunan dengan tulisan yang besar AUDISI PENYANYI  DANGDUT  TINGKAT  KAMPUNG KOPI LUHUR.  Ya, ampun ternyata pengumuman audisi dikirain apa?
            “Babe Rozak, babe mundur lagi aja, masa dah tua ikutan audisi penyanyi dangdut bisa-bisa semua orang pingsan di tempat,” aku mendorong babe Rozak keluar
            “Apa-apaan elu tuh, gue hanya mau lihat saja ,” teriak babe masih ngotot mau lihat pengumuman.

            Kabar audisi penyanyi semakin santer di kampungku, apalagi hadiahnya menggiurkan termasuk tetanggaku si Desi yang super centil. Dia menyatakan dirinya akan ikutan audisi secara suaranya kayak Ike Nurjanah. 
            “Eh, lu jangan mimpi Desi, gue saja suka sebel dengar suara cempreng lu di kamar mandi, bikin gua mau muntah,” ejekku , aku paling sebel dengan tetanggaku satu ini , menurutku terlalu lebay!
            “Ya masih mending gua ada suaranya, lah elu mana ada yang mau dengar suara elu, paling-paling kambing bandot gue tuh yang mau dengar,” ejek Desi tak mau kalah.
            “Enak aja elu ngomong, walau gue gak pernah nyanyi di rumah tapi suara gue bagus ,” aku tak mau kalah dengan si centil itu.
            “Ok, kalau elu merasa suara elu bagus ya ikutan audisinya, saingan dengan gue, siapa diantara kita yang memang suaranya paling bagus,” tantang Desi.
            “Ok, siapa takut!” aku mantap . Dasar bodoh menerima tantangan Desi, kapan aku pernah nyanyi walau kata guru seniku sih suaraku lumayan bagus saat tes nyanyi. Tapi nasi  sudah menjadi bubur tantangan tak boleh dihindari apalagi menyangkut si centil itu. Norak banget kalau aku sampai kalah dengan suara cempreng si centil!

            Persaingan aku dan Desi semakin ketat walau audisi belum dimulai tapi persaingan sudah tampak. Tadinya aku santai saja, tapi ternyata Desi tak mau kalah denganku, dengar-dengar dia ikut les vokal, mati aku! Wauh, bisa-bisa aku kalah telak dengannya. Aku mulai rajin melatih vokal dan meminta bantuan bu Dara guru kesenianku di sekolah. Alhasil setiap pulang sekolah aku berlatih keras agar tak kalah dengan Desi. Kabar aku mulai latihan vokal juga akhirnya terdengar sampai sejagad kampungku. Desi tentunya gak mau kalah , persaingan makin memanas , saat Desi mulai mengambil hati warga kampung untuk menvote banyak suara untuknya dan selembar uang sepuluh ribu diterima warga yang mau memberikan suaranya untuk Desi.
            “Gila ya elu, itu namanya persaingan gak sehat, elu macam politikus saja,” aku sudah mulai kesal dengan ulahnya yang tak mau bersaing sehat.
            “Biar saja mau-mau gue , yang penting gue harus menang,” tukasnya sambil memperlihatkan wajah yang tampak menyebalkan bagiku. Darimana aku punya duit untuk menyuruh warga memberikan suara buatku? Tapi aku tak habis akal aku mulai memasang selebaran dengan profil apikku yang dibuatkan oleh Dasri sohibku di sekolah. Aku beserta pengikutku mulai menyebarkan selebaran ke warga, menempelkan nya di setiap jalan . Hari ini aku puas profilku terpampang banyak di jalan –jalan. Rasain Des, elu masih mau saingan ama gue.
            “Eh, ini ya yang mau audisi dangdut,” beberapa warga sudah mulai mengenalku dan mulai menyapaku.  Wah , aku mulai gede rasa, serasa artis terkenal karena aku mulai banyak yang menyapa. Desi tampak sebal melihatku, aku balik mencibirnya!
            Audisi tinggal tiga hari lagi, latihan vokal dengan bu Dara semakin intensif , dan aku semakin berdebar saja menghadapi audisi dangdut ini walau hanya tingkat kampung saja.
            “Mir, sudah bagus suaramu tinggal gerakan kamu masih kaku kayak robot saja,” celetuk bu Dara.
            “Lah, ibu kan tahu sendiri , gue gak biasa joged gini,” jelasku,tapi aku harus berani karena penampilan juga akan dinilai. Nih, yang lebih sulit melatih aku memakai hak tinggi, berkali-kali jatuh bangun tapi akhirnya akupun bisa melakukannya.
            “Nah, satu lagi kamu harus bisa mengambil hati juri bukan hanya dengan suaramu saja tapi dengan sikap yang  santunmu,” jelas bu Dara . Aku hanya bisa menganggukan kepalaku. Pulang dari latihan vokal aku melihat Desi keluar dari rumah pak Samsidi salah satu juri audisi. Mau apa lagi si centil itu mengunjugi salah satu juri, kali-kali mau nyogok? Siapa tahu? Aku mendekati si centil yang tampak tergesa –gesa. Aku menarik tangannya setelah dapat kukejar.
            “Eh, licik ya elu pasti mau nyogok juri kan?” tuduhku padanya.
            “ Enak aja, lu asal nuduh aja, gue ke pak Samsidi disuruh nyokap gue nganterin pesenan kue,” katanya sambil bergegas pergi. Aku masih hendak bicara tapi si centil malah berlari sekencang mungkin untuk menghindari aku. Dasar , si lebay!.  Waduh, bahaya kalau si centil sudah bisa nyogok juri, bisa-bisa aku kalah .  Aku juga perlu mendatangi juri walau bukan untuk nyogok tapi buat silahturahmi, agar mereka bisa lebih mengenal proilku, kan ada pepatah yang mengatakan kalau tak kenal maka tak sayang benar kan?
            “Dasar sama aja elu juga nyogok juri!”teriak Desi marah padaku. Aku tidak merasa nyogok ya tenang saja menimpali tuduhan Desi.
            “Elu sendiri kan yang bilang gak boleh sembarang nuduh orang, gue cuma silahturahmi , ngerti elu,”jelasku sambil ngeloyor pergi. Dalam hati sih, rasain pasti mentalnya sudah jatuh terlebih dahulu sebelum bertanding.

            Akhirnya pertandingan dimulai, panggung sudah terpasang semenjak kemarin dan para sponsor memajang spanduk mereka di sisi panggung. Meja juri ada di bagian sisi kiri panggung dan sisi kanan terdapat perangkat sound sistim. Pagi sekali aku sudah mempersiapkan segala sesuatu tapi aku melihat Desi pergi diam-diam sambil bolak-balik melirik ke kiri dan kanan. Wah, ini patut aku curigai, aku harus mengikutinya tapi gimana ini, bajuku ini gak memungkinkan aku bisa mengejar Desi. Kulihat Desi hampir tak kelihatan, segera aku angkat bajuku dan kukejar  Desi. Tampak Desi menghampiri ke tiga juri yang sudah bersiap di meja juri.  Dasar licik, awas lu Desi! Kulihat Desi membagikan amplop pada ke tiga juri tersebut.
            “Lihat apaan elu ,Mir?” tanya babe Rozak. Aku menunjuk ke arah Desi . babe Rozak juga melihat kelakuan Desi yang menyogok juri.
            “Wah, ini kagak bener, kenapa elu gak bertindak Mir,” protes babe Rozak dan  babe hendak mendekati juri tapi aku tarik.
            “Jangan babe, ini sudah hari H –nya nanti kalau dipersoalkan malah jadi ribut, nanti kalau acara dibatalkan kasihan yang sudah mau tampil,” selaku sambil balik lagi ke rumah untuk memperbaiki baju dan make –upku.

            Satu persatu peserta audisi dipanggil termasuk si centil Mungkin karena merasa dirinya sudah bisa mempengaruhi para juri, si centil tampak percaya diri. Lagu terpesona keluar dari mulutnya, kututup telingaku, suara cemprengnya menyakitkan telingaku. Pendukungnya mulai bertepuk tangan , wah, suara jelek saja banyak pendukungnya padahal aku suka sekali dengan penampilan Maya dari RT sebelah, suaranya merdu tapi sedikit pendukungnya. Saat aku dipanggil , rasanya tubuhku gemetar semua, semua teori yang diberikan bu Dara , rasanya hilang semua dari kepalaku. Lagu Cinta Satu Malam terluncur dari mulutku, entah enak didengar atau tidak tapi aku melihat para juri yang tekun mendengarkan suaraku. Wajah mereka tidak tampak mengernyitkan dahinya tanda tak suka tapi kulihat kepalanya mulai bergoyang mengikuti irama lagu. Tanpa pikir panjang aku mulai berjoged dan mengajak babe Rozak untuk ke depan menemaniku berjoged. Penonton semua bersorak dan berteriak melihat babe Rozak berjoged dengan hotnya. Selesai sudah , aku turun dari panggung tampak Desi memperlihatkan kekesalannya.  Para juri bertepuk tangan sambil berdiri, aku terngaga sejenak dan kegembiraan muncul di benakku, mudah-mudahan aku bisa mengalahkan si centil!
            Menunggu pengumuman sungguh tak mengenakan, ada perasaan berdebar dan satu lagi aku yang sebetulnya gak begitu suka persaingan gak sehat dengan si centil. Pak Samsidi sebagai ketua juri naik panggung untuk mengumumkan hasil penjurian yang digabung dengan suara dari penonton.
            “Babe-babe, nyak-nyak , anak-anak dan peserta sekalian , saya ketua panitia akan mengumumkan hasil dari audisi dangdut tahun ini,” semua menatap pak Samsidi tak sabar, siapa yang mendapatkan juaranya.
            “Maya,” aku sudah duga sebelumnya memang Maya pantas mendapatkan juaranya, sampai pemenang harapan tak ada nama si centil maupun namaku. Aku melihat si centil sudah mulai muram wajahnya dan menanyakan pendukungnya apakah benar mereka pilih dirinya?
            “Desi dan Mirna,” panggilan untuk maju ke panggung. Aku menatap heran semua juara sudah dipanggil tapi kenapa masih ada yang dipanggil lagi. Pak Samsidi mengulang kembali panggilannya. Aku dan Desi perlahan naik panggung. Pak Samsidi mengatakan pada setiap perlombaan persaingan itu pasti ada tapi lebih terhormat kalau persaingan dilakukan dengan cara yang benar bukan dengan menyuap atau menyogok juri. Aku menatap Desi yang menunduk karena merasa dia telah menyuap para juri dan pemberi suara buatnya, sedangkan aku tak menyogok tapi mengapa aku juga dipanggil? Aku jadi berdebar-debar, apa aku juga akan mendapatkan malu hari ini, entahlah!Muka Desi tampak  memerah  saat penonton menyorakinya, aku merasa iba padanya dan kurangkul bahunya. Desi menatapku dan kembali menunduk.
            “Mirna, kamu juara favorit penonton,” jelas pak Samsidi, aku terpana sesaat dan sesudahnya aku meloncat kegirangan. “Hore!” aku berteriak histeris
            “ Makanya Des, kalau mau saingan dengan gue  elu jangan tulalit, pakai nih,” aku menunjuk jariku ke dahiku. Desi hanya tersenyum kecut dan kurangkul bahunya untuk menghibur hatinya.
            “Betul, saingan kok tulalit sih,” para juri kompak berseru, saingan tuh yang terhormat!”
            “Aku janji akan bersaing sehat lain kali, gak mau tulalit lagi,” sela Desi menyalami para juri yang akhirnya mengembalikan uang pemberian Desi. Patut diacungi jempol untuk para juri yang anti suap walau hanya dalam lingkungan kampung kecil!

0 komentar:

Posting Komentar